Politik

Terpilih Jadi Ketua Partai Demokrat Kaltim, Tugas Berat Ini Menanti Irwan

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Baru saja dilantik, Ketua DPD Partai Demokrat Kaltim, Irwan, di hadapkan pada tantangan baru. Selain merancang strategi membangun Partai Demokrat, pun memulihkan nama baik partai dari kasus korupsi kadernya yang mencoret nama baik Partai Demokrat, baru-baru saja.

Tampil dengan kaos polo hitam, Irwan begitu tenang saat ditanya tentang program kerja partai. Langkah awal yang ia kerjakan menginisiasi konsolidasi bersama 10 DPC Partai Demokrat kabupaten/kota.

Pertemuan itu dilakukan Minggu (23/1/2022) lalu. Irwan berpesan kepada seluruh ketua DPC untuk merapatkan barisan dan fokus memenangkan partai. DPC Partai Demokrat juga diminta turun ke lapangan untuk merebut hati konstituen. Di samping juga getol menyuarakan aspirasi masyarakat.

Setelah itu, Irwan pun berkomunikasi dengan tokoh-tokoh senior partai meminta masukan dan arahan. “Persoalan yang ramai sebelumnya, kami anggap sudah selesai,” katanya, Selasa (25/1/2022).

Baca Juga

Salah satu pekerjaan beratnya adalah membersihkan nama baik partai. Terutama di kalangan anak muda. Ini buntut kasus korupsi yang sempat menyeret nama Afifah, kader muda Demokrat dari Balikpapan.

Ya, struktur partai yang ia pimpin nantinya akan diisi kalangan muda yang berusia 40 tahun ke bawah. Kalau pun ada yang lebih tua akan ditempatkan di dewan kehormatan atau pertimbangan partai. Beberapa tetap ditempatkan di struktur DPD.

Ia juga ingin meneguhkan bahwa anak muda bisa berintegritas jalankan politik. Apalagi potensi suara kalangan muda di Kaltim diklaim cukup tinggi.

“Komposisi anak muda berdasarkan jumlah DPT sekitar 50 persen. Generasi Z 25 persen, milenial 20 persen lebih. Ini kalau digabung mencapai 50 persen,” sebutnya.

Lalu, bagaimana caranya? Pendekatannya harus beda kata Irwan. Beberapa program yang dibuat harus menyasar kebutuhan anak muda. Seperti membuat rumah UMKM yang akan berikan pelatihan usaha khusus anak muda.

Kemudian program rumah digital untuk menjadi sarana belajar menggunakan teknologi. Ini untuk mengasah soft skill mereka. Ada pula program podcast pejuang wanita. Isinya membahas sosok para kaum hawa inspiratif. Lalu rumah hukum untuk advokasi masyarakat yang tak punya akses.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button