Zaenal Arifin: Chef dan Sepakbola

Pewarta: Nur Robby Syai'an

Kelihaian Zaenal Arifin mengegolkan aspirasi konstituen, barangkali merupakan bakat alaminya: seorang peracik. Sebelum terpilih sebagai legislator, ia dikenal sebagai chef di hotel berbintang. Tak dinyana, keahliannya meramu bumbu dapur mengantarnya ke parlemen.

Nomorsatukaltim.com – Begini kisahnya. Jauh sebelum ia menjadi Anggota DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Zaenal bukan lahir dari kalangan mampu. Jadi sejak sekolah dasar (SD) ia sudah menempa dirinya dengan mengolah skill. Kemampuan dirinya untuk bisa melakukan banyak hal.

Mulai elektronik, otomotif, kuliner dan apa saja. Serabutan. Apa saja ia coba. Jadi biaya-biaya sekolahnya selalu ia bebankan pada dirinya sendiri. Murni dalam hidupnya hingga saat ini, ia tap pernah yang namanya menganggur.

“Hidup itu tidak harus sejalan dengan kemampuan kita. Prinsipnya, keberhasilan itu butuh ketekunan. Man jadda wa jadda,” kata pria kelahiran 13 Juli 1970 ini.

Dari berbagai profesinya itu, karir yang paling ia tekuni ialah menjadi seorang chef. Di sebuah hotel di Kota Balikpapan, mamanya Hotel Dusit (namanya berubah menjadi Le Grandeur, dan baru tutup 2020 lalu). Hotel bonafit pada masanya.

Tak kurang 15 tahun Zaenal muda di sana. Sejak 1990. “Ternyata saya jago masak, makanya saya lama di sana. Saya juga jago membuat roti,” ucapnya.

Bahkan tak sekali ia menjuarai kompetisi membuat bakery anyar hotel di Kalimantan Timur waktu itu. Ia berhasil mengalahkan beberapa rekan sejawat dalam hal membuat roti. Membuat namanya terkenal di kalangan.

Dalam masa kerjanya di sana, ia juga tergabung dalam sebuah tim sepakbola. Tim Divisi 1 Persiba. Ia berposisi di bek kanan. Posisi bertahan yang juga dapat membantu penyerangan.

“Kalau bola ini, dari dulu memang saya suka. Saya hebat dalam hal bertahan dan menyerang,” tukasnya.

Pada 2005, ia memberanikan diri untuk berhenti bekerja dan membuka usahanya sendiri. Bapak 5 anak ini membuka toko roti buatannya. Tak butuh waktu lama, wangi rotinya menjalar ke berbagai daerah di PPU.

Soal politik, ia sudah lama naksir dengan sosok Amien Rais. Itu sejak mencuatnya pada masa reformasi 1998 lalu. Makanya saat Amien membuat Partai Amanat Nasional (PAN), ia langsung berminat untuk bergabung. Meski waktu itu ia tak punya pengetahuan apapun soal politik.

Terus mempelajari politik, membawanya duduk di kursi parlemen PPU. Menjadi anggota dewan periode 2014-2019 dan 2019-2024. Ia juga saat ini menjadi Ketua DPC PAN PPU.

Zaenal mengakui hal itu tak akan dapat ia raih dengan mudah tanpa dua hobi yang ia gemari tadi.

Menjadi seorang juru masak membuat harus bisa berkoordinasi dengan banyak orang dalam sebuah tim. Mencipta satu kreasi masakan yang wajib bisa dinikmati orang lain. Begitupun di parlemen seperti saat ini. Ada 25 perwakilan rakyat di sana. Punya 25 pikiran juga yang berbeda. Maka itu perlu memiliki mental manajemen yang baik untuk bisa bekerja sama.

Sedangkan menjadi seorang bek kanan dalam kesebelasan. Membuatnya punya strategi yang handal. Melihat situasi. Kapan waktunya untuk bertahan dan membantu penyerangan agar terciptanya sebuah gol.

“Pasti ada sebuah hikmah dalam jalan yang dilalui dalam hidup. Tapi hidup itu harus ulet. Tekuni dengan benar-benar apa yang sedang dilakukan,” tutup Zaenal. *RSY/YOS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply