Uce Prasetyo: Bukan Kutu Loncat

Pewarta: Hafidz Prasetyo

Pada masa awal reformasi, politikus yang suka pindah partai kerap disebut kutu loncat. Tak punya idealisme dan cenderung hanya mengejar jabatan. Meski zaman sudah berubah, dan semakin banyak politikus kutu loncat di era sekarang, Uce Prasetyo memilih istikamah.

Kutai Timur, nomorsatukaltim.com – Sejak memasuki dunia politik, Uce Prasetyo tercatat hanya berlabuh di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai berlambang Kakbah, yang memiliki akar di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU).

Tapi anggota DPRD Kutai Timur itu tak sekonyong-konyong bergabung di PPP. Dimulai ketika reformasi, yang memaksa anak muda seperti dirinya merantau di Bumi Mulawarman.

Selepas Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), pada 1998, Uce memilih bekerja di Muara Badak. Sebagai tenaga medis perusahaan minyak.

Keluar masuk hutan, menerabas medan berat hingga kerja larut Uce jalani. Berganti-ganti pula perusahaan yang memerlukan keterampilan dirinya. Muara Badak, Muara Pantuan hingga ke Paser pernah ia jajaki.

Dari kerja tersebut, Uce berhasil mengumpulkan modal. Untuk membuat satu klinik kecil bersama beberapa dokter di Sangatta. Waktu itu masuk awal Milenium 2000. Perlahan tapi pasti klinik tersebut berkembang. Hingga berubah status menjadi Rumah Sakit pada 2008 silam. “Saya serius dan tekuni. Alhamdulillah bisa berkembang,” ucap Uce, saat diwawancarai baru-baru ini.

Rumah sakit itu bernama RSU Medika Sangatta. Jadi salah satu rumah sakit swasta yang berkelas di Kutim. Itu semua berkat kerja keras pria asal Lamongan ini. Rupanya, pencarian jadi dirinya belum usai. Apalagi setelah bisnis rumah sakit mulai berjalan stabil. Ranah politik mulai dilirik Uce. “Seandainya belum stabil mungkin saya tidak mau terjun ke politik,” ungkap pria 42 tahun ini.

Ia menjelaskan, gairah politik ia terima karena pada dasarnya senang berorganisasi. Saat duduk di bangku sekolah, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) adalah langganan dirinya. Kelompok paguyuban daerah dirinya juga kerap terlibat.

Bahkan sering pula dirinya didapuk menjadi ketua. “Jadi terjun ke politik ini tidak ada planning yang disengaja. Mungkin karena saya aktivis, suka berorganisasi. Makanya kepincut,” urainya.

Namun pada 2013, PPP cukup serius mengajak Uce bergabung. Keseriusan ditunjukkan dengan upaya membujuk berkali-kali. Sampai beberapa pengurus juga ikut terlibat. Bahkan hingga membuat surat resmi untuk merangkul dirinya. “Yang mengajak pak Kasminto. Karena serius maka saya memantapkan hati. Hingga keputusan diambil,” tuturnya.

Pilihannya terjun ke dunia politik ini tak semua orang terdekatnya mendukung. Termasuk istrinya, Baba Harianti serta beberapa rekan kerja pengurus rumah sakit. Namun ia sudah membulatkan tekad untuk menjadi wakil rakyat. “Setahun menjadi anggota DPRD Kutim, istri saya masih tak percaya. Namun kini sudah adaptasi dan mengerti,” ujar ayah 3 anak ini.

Rupanya PPP tak salah rekrut. Kerja keras partai bersama Uce membuahkan hasil. Lonjakan besar terjadi di tubuh partai yang identik dengan warna hijau itu. Pada periode 2009-2014 PPP hanya meraih dua kursi. Namun melonjak jadi 6 kursi di periode berikutnya.

Pileg 2019, Uce Prasetyo ditunjuk jadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu. Hasilnya 9 kursi berhasil diraup PPP, sekaligus menjadi sejarah capaian partai di parlemen Kutim. “Saat itu dukungan besar, kinerja kader dan kualitas calon legislatif juga mumpuni. Semoga bisa kami pertahankan nantinya,” sebutnya.

Seiring waktu, loyalitas Uce makin menebal. Terbukti dengan berbagai hantaman ia tetap menjadi kader dan mengikuti perintah partai. Berawal saat menjelang Pilkada Kutim 2020 ia ditetapkan sebagai kandidat Pilkada dari PPP. Namun situasi berubah, partai pun kehilangan arah. Akibat Ketua partai, Ence UR Firgasih ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pada kondisi itu, PPP menjadi lamban mengatur ulang strategi. Uce pun berinisiatif untuk menyelamatkan kapal yang pecah. Agar bisa mengembalikan kekuatan partai, mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Sehingga tetap layak jual kala bertarung di Pilkada Kutim.

Namun keputusan partai berbeda. Ia tetap diminati maju sebagai calon wakil bupati oleh PPP. Sementara kepemimpinan partai dan ketua DPRD diserahkan kepada orang lain. Meski inisiatif dirinya ditolak, ia tetap tunduk pada perintah partai.

Menunjukkan bagaimana loyalitas dirinya tak perlu diragukan lagi. “Ya karena persiapan minim. Apalagi dua bulan saya kena COVID-19. Akhirnya tak maksimal hasilnya di Pilkada. Tapi saya terima itu dengan segala konsekuensinya,” ucapnya.

Namun hingga kini ia masih menjadi kader PPP. Pengalaman menjadi legislator pun membuat dirinya paham dengan kondisi Kutim. Menurutnya, untuk membangun Kutim perlu kerja keras. Mengingat kabupaten ini sangat bergantung dengan sumber daya alam. “Sehingga dana bagi hasil jadi tumpuan. Saat ada perubahan kebijakan dari pusat, maka daerah tak bisa berbuat banyak,” paparnya.

Makanya sering terjadi defisit anggaran. Begitu pula ketika pandemi COVID-19 datang, perubahan dana transfer pun akhirnya jadi menghambat pembangunan. Sehingga menurut Uce, pilihannya adalah memaksakan pembangunan atau memperbaiki kondisi ekonomi daerah dulu.

“Kalau memaksakan pembangunan dengan tidak adanya uang akan membuat utang kepada pihak ketiga makin menumpuk. Jika ingin stabilkan kondisi, maka citra negatif akan muncul. Karena gerak masyarakat dibatasi,” katanya.

Tapi hal itu adalah sebuah risiko. Karena situasi seperti ini memang harus dihadapi. Siapapun pemimpinnya, akan menghadapi persoalan yang sama. Maka saat ini yang terpenting adalah bagaimana mengambil sikap. “Jadi harusnya masyarakat juga tak perlu pro-kontra dengan situasi saat ini. Biarkan pemerintah bekerja dengan kebijakan yang telah diambil,” tandasnya. *BCT/YOS

Leave A Reply