Politik

Jalan Terjal Koalisi Poros Tengah, Ujian Jelang Koalisi Partai Islam

Iklan Ucapan Selamat Rektor Unmul

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Seruan pembentukan poros partai Islam mengemuka setelah Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menangkap sinyal koalisi di balik pertemuan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Yusril menganggap saat ini merupakan momentum bagi partai Islam bersatu membentuk poros tengah menjelang konstelasi politik 2024.

Koalisi poros partai Islam bukan hal baru di Indonesia. Setelah Reformasi melengserkan kekuasaan Orde Baru, pada pemilu pertamanya, koalisi partai Islam muncul dan berhasil mendominasi pemilu dengan presidennya kala itu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menyebut, tak ada yang salah jika poros Islam kembali hadir di Indonesia setelah 20 tahun lebih tenggelam dalam ego masing-masing. Namun, kata Adi, banyak hal yang mesti diingat sebelum poros Islam ini benar-benar terbentuk.

Baca Juga

“Pertanyaannya sekarang, apakah poros Islam bisa reborn? Bisa terbentuk kembali? Mungkin saja. Cuma dengan sejumlah catatan,” kata Adi, Jumat (16/4).

Catatan-catatan itu, kata Adi, adalah beberapa hal yang mesti diperbaiki dan diingat oleh partai-partai Islam sebelum benar-benar berkoalisi. Sebab, jika tak dijalankan, koalisi ini tak akan kuat dan kokoh. Alih-alih itu justru bisa layu sebelum berkembang.

Pertama, kata Adi, berkaitan dengan ego sektoral dari masing-masing partai. Sejumlah partai yang bergabung harus menyamakan pandangannya. Antara satu dan yang lainnya tak boleh ada yang merasa rendah atau lebih tinggi dari partai lainnya dalam koalisi itu.

“Perasaan-perasaan ego sektoral itu harus dihilangkan. Karena itu bisa jadi kendala psikologis yang cukup serius,” kata Adi.

Selain itu, paham keagamaan di masing-masing partai juga harus diredakan. Sebab pemahaman agama Islam di tiap partai memiliki perbedaan. Ini juga kerap memicu perselisihan.

Perbedaan ini juga kerap terjadi di akar rumput atau para pendukung partai. Baiknya, kata Adi, sebelum benar-benar berkoalisi perbedaan-perbedaan ini disimpan di belakang.

Kemudian, kata Adi, hal paling utama dan terutama yakni berkaitan dengan siapa yang akan dijagokan dalam Pilpres. Nama yang akan diusung sangat berpengaruh untuk menguatkan poros Islam ini.

Akan lebih baik pembicaraan terkait calon presiden yang akan dijagokan di Pilpres 2024 ini tak dibahas dulu sebelum poros Islam ini benar-benar kuat terbentuk.

“Karena kalau bicara poros Islam harus setop dulu keinginan di antara mereka yang terlampau ingin jadi capresnya. Karena semua parpol punya jagoan,” kata dia.

Perebutan tentu tak akan terhindari. Jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin kegagalan poros Islam ini hanya tinggal menunggu waktu.

“Hal-hal ini bisa jadi cacatan penting. Yang saya sebut sebagai cacat bawaan sebenarnya. Jadi, kekuatan politik Islam yang tidak pernah muncul setelah pasca Reformasi itu karena ada cacat bawaan ini,” kata Adi.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button