Peristiwa Dunia

Kuba Miliki Pemimpin Baru di Luar Dinasti Castro

Kuba memiliki pemimpin baru. Sayangnya itu bukan klan Castro. Miguel Díaz-Canel-lah yang kini menjadi kepala Partai Komunis dan mempertahankan gelar presiden.

DÍAZ-CANEL dinobatkan sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (PCC)—partai paling kuat di pulau itu. Dia akan menjadi orang pertama tanpa nama Castro yang menjalankan Kuba sejak Revolusi 1959.

Penetapan itu diumumkan pada Senin (19/4) secara luas. Artinya, pria tinggi berambut perak berusia 60 tahun itu sekarang memegang dua posisi terpenting Kuba: sebagai kepala partai dan presiden negara.

Ini sekaligus mengubur desas-desus, ia adalah seorang penengah yang tunduk pada kekuatan lebih kuat. “Saya tidak pernah percaya rumor itu,” kata mantan diplomat Kuba, Carlos Alzugaray.

Baca Juga

“Dia yang bertanggung jawab. Mungkin berkonsultasi langsung dengan Raúl Castro. Namun, saya pikir sinyalnya adalah dia yang bertanggung jawab atas segalanya sekarang. Dia berdiri di atas orang lain.”

Sebagai seorang insinyur kelistrikan dengan pelatihan, Díaz-Canel selama sebagian besar hidupnya telah menjadi fungsionaris partai. Meskipun ia berkembang pesat. Ia lahir setahun setelah revolusi, di Villa Clara, provinsi di mana Che Guevara melanggar keinginan pasukan Fulgencio Batista mewujudkan revolusi.

Orang-orang yang mengenalnya saat masih muda mengatakan, dia adalah sekretaris partai yang cerdas dan menarik di Villa Clara dan kemudian Holguin di Kuba timur. Ia juga dipuji sebagai menteri pendidikan tinggi yang teliti dan aktif. Akan tetapi, sejak kariernya menanjak secara nasional, ia tampaknya menjadi sosok yang sulit dibaca.

Raúl pertama kali mengangkatnya sebagai wakil presiden (dewan menteri) pada 2012. Tak lama setelah dia menggantikan saudaranya Fidel sebagai sekretaris pertama partai. Itu adalah indikasi nyata pertama, Díaz-Canel sedang dipersiapkan untuk kekuasaan.

Susunan Politbiro baru yang akan memandu Kuba melewati tahun-tahun mendatang juga diumumkan pada Senin lalu. Anggotanya menghadapi tantangan besar saat negara berjuang melawan virus corona, sanksi Amerika Serikat (AS), infrastruktur yang hancur, dan masalah birokrasi.

“Tantangan utamanya adalah ekonomi,” kata Jorge Duany, direktur Cuban Research Institute di Florida International University.

“Ini sebenarnya bukan ilmu roket. Itu pengakuan bahwa Kuba menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak awal 1990-an,” lanjutnya.

Dalam penunjukan Politbiro, Raúl telah menepati janjinya untuk meremajakan kepemimpinan. Dua veteran revolusi, José Ramón Machado Ventura yang berusia 90 tahun dan Ramiro Valdés Menéndez yang berusia 88 tahun, telah pensiun bersamanya.

Janjinya untuk mendiversifikasi kepemimpinan tampak kurang mengesankan: hanya tiga dari 13 lingkaran dalam yang kuat merupakan perempuan, dan tampaknya tidak banyak wajah non-kulit putih baru.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button