Peristiwa Dunia

Satu Dekade Konflik Berdarah di Tanah Suriah

Meskipun tidak sempurna, sistem pengadilan Gacaca Rwanda—kata dalam artinya “duduk di rumput” dalam bahasa resmi nasional, Kinyarwanda—adalah bentuk keadilan komunitas yang awalnya dibentuk oleh pemerintah pada 2001. Untuk menuntut lebih dari 100 ribu tersangka. Yang telah dipenjara selama bertahun-tahun. Menunggu persidangan di pengadilan negara dan di Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda. Yang telah dibentuk di negara tetangga, Tanzania.

Upaya untuk mencapai rekonsiliasi nasional dan memulihkan ketertiban di Rwanda sangat mengesankan. Pengadilan Gacaca segera diperluas. Akhirnya menghukum banyak tersangka yang mungkin tidak akan pernah menghadapi persidangan biasa. Sistem Gacaca memiliki kelemahan yang dalam—para pelanggar dikutuk hanya berdasarkan kesaksian para saksi, dan kelompok hak asasi manusia mengatakan, mereka tidak memenuhi standar hukum internasional. Termasuk hak atas peradilan yang adil dan proses hukum.

Namun, mengingat fakta pengadilan formal kewalahan, dan akan memakan waktu bertahun-tahun untuk menuntut para pelakunya, pengadilan setidaknya memberikan kompensasi emosional kepada para korban. Pihak yang bersalah tidak akan meninggalkan kejahatan mereka tanpa hukuman.

Baca Juga

Pada 2011, pada awal perang, Janine mulai mendokumentasikan penyiksaan dan kekerasan seksual di Suriah dalam bukunya The Morning They Came for Us: Dispatches from Syria. Janine mengambil judul itu dari kesaksian salah satu dari banyak orang yang diwawancarainya.

Salah satu narasumbernya telah dibawa dari rumahnya saat fajar, masih dengan piyama, ke penjara di mana dia diperkosa dan disiksa. Beberapa tahun berlalu dan Janine mewawancarai lusinan orang yang selamat. Janine menyadari, mereka semua memiliki satu kesamaan: hari mereka dibawa pergi adalah hari terakhir mereka dalam keadaan normal.

Di benak seseorang yang telah begitu brutal, dunia terbagi menjadi kerangka waktu “sebelum” dunia mereka hancur, dan “setelah” yang suram dan menyeramkan.

Janine mendengar kisah-kisah dari orang Suriah biasa yang telah ditangkap, dipenjara, diperkosa, disiksa—atau memiliki anggota keluarga yang hilang—mengingatkannya dalam banyak hal tentang pekerjaan yang telah dilakukannya di Bosnia.

Kekejaman itu menimbulkan rasa sakit sebanyak mungkin pada warga sipil dan menghancurkan tatanan masyarakat. Membaca catatannya membuat Janine mempertanyakan kedalaman kegelapan yang bisa dimasuki manusia. Seorang pemuda yang diwawancarai oleh Janine, mahasiswa filsafat, telah disiksa oleh dokter dengan melakukan pembedahan—tanpa obat bius—untuk menyiksanya.

Pada 2011, banyak orang memiliki telepon pintar dengan kamera—tidak seperti di Bosnia, Rwanda, atau bahkan Irak dan Afghanistan pada masa-masa awal perang. Itu memungkinkan orang-orang biasa keluar dan mengambil foto helikopter yang menjatuhkan bom barel, atau bangunan yang hancur.

Satu-satunya cara negara bisa sembuh setelah perang adalah agar mereka memiliki semacam komisi kebenaran dan proses rekonsiliasi. Di Suriah, mengingat cakupan dan skala kejahatan perang, ini sangat penting.

Suriah belum menerima Statuta Roma, perjanjian yang membentuk pengadilan tersebut. Sehingga, pengadilan kejahatan perang terletak pada badan-badan seperti Internasional, Imparsial, dan Independen Mekanisme (IIIM) di Jenewa. (mmt/qn)

Sumber: Hari Ini dalam Sejarah: Perang Suriah Satu Dekade Dimulai

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button