Peristiwa Dunia

Satu Dekade Konflik Berdarah di Tanah Suriah

Iklan Ucapan Selamat Rektor Unmul

SEPULUH tahun lalu, demonstrasi pro-demokrasi melawan pemimpin Suriah Bashar al-Assad di Kota Deraa, Suriah selatan. Dalam minggu-minggu, bulan, dan tahun-tahun berikutnya, pemberontakan yang awalnya damai itu berubah menjadi perang proksi yang brutal dan tidak masuk akal. “Salah satu konflik paling memilukan yang pernah saya saksikan,” tulis Janine Giovanni di Foreign Policy.

Perang selama satu dekade berarti kehidupan seluruh generasi Suriah telah ditentukan oleh bom, perampasan, kematian, dan pengungsian. Perang selama satu dekade berarti masyarakat membutuhkan waktu setengah abad untuk pulih.

Dalam kasus Suriah, ada masalah kejahatan perang yang mengerikan: senjata kimia yang digunakan untuk melawan warga sipil; puluhan ribu penahanan dan penghilangan sewenang-wenang; pemerkosaan dan penyiksaan.

Menurut laporan terbaru Komisi Penyelidikan PBB di Suriah, perang telah ditandai dengan pelanggaran paling keji terhadap standar kemanusiaan dan hak asasi manusia. Termasuk kekerasan oleh rezim terhadap penduduknya sendiri dalam skala genosida. Seperti biasa, warga sipil-lah yang menanggung beban kekejaman.

Meskipun perang secara teknis belum berakhir—Geir Pedersen, diplomat Norwegia, utusan PBB untuk Suriah, masih bekerja keras—jelas bagi sebagian besar warga Suriah dan pengamat luar, Assad telah menang dan akan tetap berkuasa.

Namun, bagaimana untuk mengakhiri perang ini agar ada keadilan bagi mereka yang menderita? Dengan setengah juta warga Suriah tewas, 6,6 juta pengungsi di negara-negara tetangga dan Eropa, dan jutaan lainnya terlantar, belum lagi seluruh negara yang sangat trauma oleh kebrutalan, adakah pelajaran suram yang dapat membantu mencegah perang di masa depan?

Menurut pendapat Janine, masalah terpenting dalam perang adalah keadilan transisi. Tidak ada pihak dalam perang yang akan pergi dengan tangan bersih. Termasuk ISIS yang kekhalifahannya super jelek, tidak manusiawi, dan tersebar di sebagian besar Suriah saat perang berlangsung.

Apakah orang-orang yang selamat dari kejahatan mengerikan akan diberi kompensasi. Preseden dan struktur sejarah yang diterapkan dunia untuk memastikan hal ini—dari pengadilan pelaku Nazi di Nuremberg hingga pengadilan kejahatan perang di Den Haag. Sayangnya, mereka sering kali lambat, melelahkan, dan tidak efisien. Pun, pengadilan ini jarang menuntut laki-laki dan perempuan yang benar-benar melakukan kejahatan.

Jika Anda pergi ke bagian Bosnia sekarang di mana perang sangat kejam—kota kecil di Bosnia timur seperti Foca tempat orang Serbia mendirikan kamp pemerkosaan dan menahan perempuan di sana selama berbulan-bulan, yang terkadang diperkosa hingga 16 kali sehari—Anda masih bertemu banyak yang selamat.

Para perempuan ini mengenal para pria yang menghancurkan hidup mereka. Karena korban dan pelakunya sering tinggal di kota yang sama. Mereka masih melihatnya di kafe. Mereka tahu orang-orang ini tidak akan berhasil sampai ke Den Haag dan tidak akan pernah masuk penjara.

Cara lain untuk mencapai keadilan bagi kejahatan perang yang mungkin menjadi semakin penting sedang diupayakan oleh pengacara hak asasi manusia di berbagai pengadilan nasional. Mereka menggunakan prinsip yurisdiksi universal, yang berupaya menghukum penjahat di mana pun kejahatan itu dilakukan.

Di negara-negara seperti Prancis, Finlandia, dan Jerman—yang saat ini sedang menjalani persidangan—undang-undang mengizinkan hukuman bagi setiap orang yang dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang termasuk genosida, dan penyiksaan.

Prinsip yurisdiksi universal kembali setidaknya ke 1961, ketika Adolf Eichmann dituntut atas kejahatan Nazi di Israel. Baru-baru ini, mantan diktator Chili Augusto Pinochet diekstradisi ke Spanyol. Sekarang, prinsip tersebut diterapkan pada perang Suriah.

Mungkin Suriah dapat melihat model keadilan transisi yang dibangun di Rwanda. Yang sering dianggap sebagai model rekonsiliasi pasca-konflik yang berhasil. Menyusul genosida yang menewaskan 1 juta orang pada 1994. Ada banyak faktor yang mengarah pada proses penyembuhan Rwanda: ketahanan dan tekad orang-orang untuk menempatkan kengerian di belakang mereka. Tetapi juga penerapan alat yang memungkinkan keadilan bekerja.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button