HLOpini

Tiga Alasan Mengapa Kenaikan Harga BBM Harus Kita Tolak

Oleh: Herdiansyah Hamzah (Castro)*

PERTAMA, pemerintah selalu berdalih bahwa kenaikan harga BBM dikarenaka selama ini 70 persen subsidi BBM dinikmati oleh orang mampu (baca : https://www.kompas.tv/article/324974/70-persen-bbm-subsidi-dinikmati-orang-mampu-pemerintah-akan-lakukan-hal-ini). Lantas darimana data mampu tidak mampu ini? Tidak ada data yang jelas bagaimana pemerintah mengkualifikasikan “orang mampu” ini.

Tapi jika ditelusuri, data orang mampu ini kemungkinan besar menggunakan standar garis kemeskinan yang ditetapkan pemerintah melalui BPS, dimana per maret 2021 ditetapkan sebesar Rp 472.525. Jadi penduduk yang pengeluaran perkapitanya dalam sebulan di bawah angka itu, dikualifikasikan sebagai penduduk miskin.

Sementara yang di atas angka itu dikualifikasikan tidak miskin atau “mampu” (baca : Data BPS ini). Pertanyaannya, bagaimana mungkin data orang miskin ini dikonversi menjadi data penikmat BBM bersubsidi? Ini seperti hendak memotong daging dengan pisau dapur.

Baca Juga

Coba bayangkan, apakah masuk akal penduduk dengan pendapat perkapita sebulan sebesar Rp 500.000 dikualifikasikan pendudukan tidak miskin atau mampu? Jelas klaim Pemerintah ini sungguh sangat menyesatkan.

Kedua, perbandingan dengan negara lain. Jika melihat Malaysia sebagai sample, maka pilIhan menaikkan harga BBM adalah keliru besar. Sebagai perbandingan, harga bensin terbaru di Malaysia per Agustus 2022 dengan oktan 95 atau RON 95 dijual seharga RM 2,05 atau setara dengan Rp 6.780 per liter (kurs Rp 3.300).

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button