Opini

Pentingnya Mengetahui Resusitasi Jantung Paru (RJP) dari Perspektif Filsafat Epistemologi

Oleh: Rifkal Arthayuda*

KESEHATAN merupakan harta paling berharga yang dimiliki oleh manusia. Tuhan telah menyusun bentuk manusia dengan sangat sempurna yang di mana terdiri dari berbagai macam oragn-organ tubuh yang memiliki tupoksi masing-masing guna menunjang aktivitas manusia untuk bersosialisasi dan bertahan hidup.

Ada satu kutipan yang berbunyi “kesehatan tampak berharga setelah kita kehilangannya. Melihat kutipan tersebut, mestinya kita sadar bahwa kesehatan merupakan hal yang perlu kita jaga.

Kesehatan pada dasarnya tidak didasari oleh keadaan fisiologis saja, melainkan ada kesejahteraan psikologis yang menjadi bagian tak bisa terlepaskan. Tetapi dalam tulisan ini, penulis akan merincikan kesehatan yang fokusnya di ranah fisiologis saja atau bisa disebut mudahnya sehat secara fisik.

Setiap manusia pasti pernah mengalami rasa sakit, mulai dari sakit yang tidak mengancam nyawa hingga sakit yang dapat mengancam nyawa, dalam hal ini bisa disebut juga dengan kondisi kegawadaruratan.

Baca Juga

Kondisi kegawadaruratan dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Dalam hal ini memang petugas kesehatanlah yang memiliki peran untuk menolong korban. Tetapi melihat narasi awal paragraf, kondisi kegawadaruratan dapat terjadi di mana saja, sehingga tak menutup kemungkinan terjadi pada daerah yang jauh dari keberadaan petugas kesehatan.

Salah satu kondisi kegawadaruratan yang dapat terjadi secara tiba-tiba adalah henti jantung, yang di mana kejadian ini sebagian besar terjadi di rumah atau tempat-tempat tertentu saat melakukan aktivitas.

Henti jantung atau dalam bahasa medis disebut cardiac arrest adalah satu kondisi kegawadaruratan yang dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat. WHO 2019 mengatakan bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi salah satu penyumbang angka morbiditas dan mortalitas. Diperkirakan 17 juta orang di dunia meninggal tiap tahunnya akibat penyakit jantung. Terutama serangan jantung.

Saat jantung berhenti berdetak, maka sirkulasi darah dalam tubuh pun menjadi terhambat sehingga oksigen tidak bisa dialirkan ke seluruh tubuh. Ketika oksigen tidak tersebar, maka sel-sel dalam otak pun tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dan hal ini akan mengakibatkan kerusakan otak bila kondisi cardiac arrest tidak ditangani dengan cepat dan tepat, yaitu sekitar 4-6 menit.

Melihat uraian di atas, henti jantung merupakan hal yang sangat berbahaya dan juga dengan kejadian yang dapat terjadi secara tiba-tiba, masyarakat harus mengetahui tentang kiat-kiat pertolongan pertama pada pasien henti jantung. Ilmu tentang pertolongan pertama tersebut sudah ditemukan dan dikembangkan oleh para ahli di bidang kardiovaskular dan biasa disebut dengan resusitasi jantung paru (RJP).

RJP menjadi sebuah ilmu yang sangat penting dalam menolong korban henti jantung dan ilmu tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan ada proses panjang dan hingga saat ini terus berkembang secara dinamis yang harapannya dapat diimplementasikan secara maksimal untuk menolong pasien henti jantung.

Pembahasan tentang ilmu sendiri banyak dikaitkan dengan filsafat karena filsafat dianggap sebagai sebuah induk dari segala ilmu yang ada dan penulis percaya itu. Mengapa filsafat dianggap sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan? Karena secara fundamental, tidak ada sebuah ilmu yang tidak melewati proses berpikir dan filsafat merupakan ilmu yang menetapkan teori-teori kerangka berpikir. Sengan adanya filsafat, maka terbentuklah ilmu-ilmu lain yang pastinya akan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button