Universitas Widya Gama Mahakam
Opini

Menonton Nagabonar di Tengah Gonjang Ganjing Industri Sawit

Data Kementerian Pertanian menggambarkan bahwa tutupan perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 16,38 juta ha. Dari luasan itu, sekitar 6,7 juta ha adalah kebun kelapa sawit yang dikelola masyarakat. Dari sisi komposisi kepemilikan, sekitar 42% perkebunan kelapa sawit, pemiliknya adalah masyarakat petani. Sisanya, milik korporasi. Dari tahun ke tahun jumlah petani sawit pun terus meningkat.

Setidaknya ada Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menggelar unjuk rasa di Jakarta. Mereka datang dari daerah-daerah penghasil sawit. Sambil menyuarakan pendapat di hadapan pengambil kebijakan pemerintah, para petani sawit bahkan membawa tandan buah sawit dan berharap kebijakan tersebut dievaluasi. Bila pelarangan ekspor CPO terus berlanjut, pabrik-pabrik tak mau membeli hasil panen petani sawit. Buah-buah sawit akan lebih baik dibiarkan membusuk di pohon.

Padahal, sebagaimana diungkapkan para pakar, peluang industri kelapa sawit nasional sangat luar biasa. Daya saingnya dibanding minyak nabati lainnya kian tak tertandingi. Produknya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kandungannya juga dapat digunakan sebagai energi terbarukan. Perang Rusia – Ukraina menambah tinggi tingkat permintaan CPO di pasar global. Itu berarti, harga CPO bakal kian meroket.

Baca Juga

Sebagai orang jaman dulu yang tak mengenyam bangku sekolah, mantan copet yang kemudian dinobatkan sebagai jenderal ini mungkin juga tak paham bagaimana rumitnya mengelola negara. Nagabonar mungkin sungguh-sungguh tak mengerti bagaimana bisa negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia tapi warga negaranya justru dikabarkan mengalami kesulitan membeli minyak goreng. Kalaupun ada, harganya melonjak berkali-kali lipat.

Tidak hanya di dalam negeri. Negara-negara yang biasa mengimpor pun sempat bereaksi. Diperkirakan, pemerintah kehilangan penerimaan negara dan pungutan ekspor hingga Rp 13 per triliun per bulan. Pada satu titik, kebijakan ini juga dapat berimbas ke pelemahan nilai tukar rupiah. Sebab, sekitar 12% dari total ekspor nonmigas nasional bersumber dari pengapalan CPO.

Tak berapa lama setelah protes itu menyeruak, pemerintah mencabut kebijakan tersebut. Meskipun ekspor CPO diijinkan kembali, keadaannya masih belum normal seratus persen. Di bidang komunikasi, citra industri ini pun perlu dibangun lagi dan terus ditata agar senantiasa baik sehingga muncul dukungan yang solid dari semua pihak agar kelapa sawit menjadi komoditas yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Naga Naga Naga. Sekuel ketiga film ini baru dapat ditonton publik mulai 16 Juni 2022. Sangat menarik dan menghibur. Kolaborasi Citra Sinema dan MD Pictures ini menyuguhkan tontonan yang bermutu. Memang, isinya tidak spesifik mengangkat tema kelapa sawit. Tetapi atribut itu tetap melekat pada perjalanan keluarga Nagabonar yang dikisahkan sudah dikaruniai seorang cucu perempuan usia belasan bernama Monaga hasil pernikahan Bonaga dan Monita.

Visualisasi kebun kelapa sawit terlihat di scene awal. Di sela hamparan hijau pohon-pohon kelapa sawit yang tertanam di atas lahan dengan kontur berbukit-bukit, tampak pematang sawah, bunga-bunga indah warna-warni, dan anak-anak yang ceria memanfaatkan lahan untuk bermain sepak bola. Begitu juga rumah panggung dari bahan kayu yang ditempati Nagabonar sehari-hari. Tampak asri dan menyatu dengan alam.

“Opungnya itu harusnya di Medan sana, ngurusin kebon sawit, bukan ngurusin anak kita!” kata Monita yang diperankan Wulan Guritno dengan nada kesal kepada Bonaga, yang tetap diperankan Tora Sudiro. Secara verbal, kelapa sawit tampak pada dialog kedua tokoh ini. Keduanya adalah menantu dan anak Nagabonar yang resah membayangkan masalah pendidikan Monaga, anak perempuan mereka yang diperankan Cut Beby Tshabina.

Bila Musfar Yasin, penulis skenario sekuel kedua membidik problem pembangunan lengkap dengan renungan tentang “penjajahan gaya baru” yang dampaknya mengubah banyak hal (termasuk pola pikir anak-anak muda seperti Bonaga dan teman-temannya), penulis skenario sekuel ketiga Wira Putra Basri tampak resah dengan pendidikan kita.

Sebagaimana drama keluarga yang sudah sering kita tonton, generation gap menjadi pemicu persoalan. Kendati begitu, kesederhanaan problem inilah yang membuat “Naga Naga Naga” terasa dekat dengan penonton: bahwa kakek atau nenek yang amat mencintai cucu, seringkali berbeda style dan pemikiran saat berinteraksi dengan anak dan menantu.

Ketika isu ini berkelindan dengan latar belakang pendidikan, persepsi, bayangan tentang masa depan, suasana pun menjadi semakin panas. Toh, penonton tetap tertawa, dan sesekali terharu dengan akting luar biasa yang ditunjukkan para pemain.

Tentu saja, selepas menonton ada pesan-pesan yang membekas di pikiran. Satire yang ditampilkan film ini tampaknya hendak menggugah kesadaran kita tentang hakikat paling esensial dalam memerdekakan Indonesia. Bahwa ada yang keliru dengan pola dan sistem pendidikan kita.

Nagabonar, meskipun tidak sempat mengenyam dunia pendidikan dengan baik, besar di jalanan sebagai pencopet, pernah dipenjara zaman Jepang dan ternyata menjadi seorang jenderal berusaha memberi teladan perihal bagaimana seharusnya dunia mencerdaskan bangsa. Bahwa kecerdasan seseorang itu tidak bisa sekadar dilihat dari nilai raport ataupun semata-mata gelar kesarjanaan.

Yang paling penting adalah karakter. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, nasionalisme menjadi hal yang utama. Bila keduanya telah tertanam dalam dada, jangankan mengatasi kelangkaan minyak goreng, cita-cita menghapus kebodohan, kemiskinan dan ketimpangan sosial pun akan dengan mudah akan teratasi. (*)

 

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button