Universitas Widya Gama Mahakam
Opini

Menguak Tantangan Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi

OLEH: GHAZY MUHAMMAD FHADIL*

Saat memasuki perguruan tinggi, gelar yang disandang siswa berubah menjadi mahasiswa, yang juga memiliki makna dan tuntutan yang berbeda, dan sudah sepatutnya memahami makna dari mahasiswa melalui moral dan etika berpraktik sebagai akademisi.

Dalam kesehariannya mahasiswa tidak lepas dari teknologi dan jaringan internet. Hal itu berpartisipasi dalam membentuk karakternya melalui internet. Seperti mengerjakan tugas dan mencari referensi untuk menulis berbagai karya ilmiah yang autentik tanpa unsur plagiarisme.

Bukan hal yang mudah. Ditambah jam terbang padat yang terkadang mengharuskan mahasiswa untuk mengejar waktu menyelesaikan satu tugas ke tugas lainnya. Bahkan terkadang dalam jangka waktu dekat tugas yang dibuat memiliki jumlah yang banyak dengan berbagai karakter penugasan. Mau tak mau mahasiswa melakukan tindakan yang menyalahi aturan sebagai akademisi. Yaitu copy-paste jurnal atau karya orang lain yang mereka temui di internet melalui platform pencarian.

Baca Juga

Tetapi di beberapa karya ilmiah, hal ini sah-sah saja. Asal memperhatikan beberapa tanda dan metode. Agar saat mengutip jurnal atau karya orang lain tidak terjerat kesalahan yang menyalahi aturan akademisi atau dengan bahasa kerennya mengutip dengan unsur netiquette.

Saya rangkum hal itu sebagai berikut: pertama, saat mengutip perhatikan apakah kutipan tersebut diperlukan dan harus mempertimbnagkan jenis pengutipan langsung atau kutipan tidak langsung serta mengetahui prinsip dan teknik pengutipan.

Kedua, gunakan referensi yang terpercaya. Agar tidak ada keraguan dalam penilaian. Hindari website yang masih berstatus blogspot dan disarankan mengutip melalui jurnal.

Ketiga, perhatikan simbol-simbol yang terdapat dalam sebuah konten apakah terdapat simbol © atau tidak. Secara internasional, lambang © atau hak cipta (copyright) menunjukkan bahwa konten/semua yang ada di media sosial dan internet merupakan hak cipta yang dilindungi. Sehingga pengguna konten harus memiliki izin atau sepengetahuan dari pengguna. Sedangkan lambang copyleft menunjukkan, pengguna membebaskan pengakses untuk memakai ciptaannya. Terutama untuk ciptaan yang khusus. Seperti program komputer, karya ilmiah, dan lagu. Sepanjang ciptaan itu diberikan label atau diberi keterangan siapa yang membuatnya.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button