Opini

Urgensi Kemerdekaan Belajar

OLEH: YUDI SYAHPUTRA

Pendidikan pada dasarnya hadir untuk membebaskan manusia dari kebodohan. Demi mengatasi persoalan hidup yang dihadapinya. Pendidikan pula yang mengantarkan manusia lepas dari objek pembodohan yang berujung pada ketertinggalan dan penindasan.

Pembicaraan tentang kebebasan menjadi tidak relevan ketika pendidikan tidak sejalan dengan konsepsi memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, pendidikan mesti didukung kurikulum yang mampu menjawab problematika kemanusiaan. Baik problem sosial, ekonomi, politik, budaya, maupun yang lainnya. Tanpa adanya kemerdekaan dan kebebasan, tanggung jawab terhadap masalah sosial akan terabaikan.

Baca Juga

Secara historis, pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali mengalami perubahan kurikulum. Perubahan itu hal yang wajar. Sebagai tanda kepedulian pemerintah terhadap perubahan dan perbaikan pendidikan.

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kembali mewarnai pendidikan di Indonesia. Dengan wacana pembaharuan kurikulum tentang “Merdeka Belajar”.

Namun, pembaharuan pendidikan tentang Merdeka Belajar tampaknya tidak dapat dilepaskan dari pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Apalagi sebelumnya muncul kebijakan penghapusan Ujian Nasional (UN).

Setidaknya wacana Merdeka Belajar dengan penghapusan UN ini membuat kita berfikir. Apakah ini jalan untuk memisahkan pendidikan dari belenggu-belenggu yang tidak memberi ruang kebebasan berfikir dan berpendapat atau doktriner dan monologis?

Kemerdekaan dan kebebasan serta melepaskan diri dari kertetinggalan dan penindasan tidak dapat terwujud tanpa kesadaran dalam diri untuk merdeka. Pendidikan mestinya mampu membangun kesadaran peserta didik untuk mencari nilai yang sebenarnya. Apa nilai yang selama ini dikejar oleh peserta didik? Apakah semata-mata nilai di lembar ujian atau nilai dalam realitas kehidupan sosial?

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button