Opini

Dampak Revolusi Industri 4.0 terhadap Dunia Bisnis dan Pendidikan Akuntansi di Indonesia

Teknologi revolusi industri 4.0 memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap sendi-sendi kehidupan sosial. Tak hanya sampai di situ, dampak dari revolusi industri 4.0 juga berdampak kepada ekonomi, sosial dan budaya yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Teknologi yang digunakan dalam revolusi industri juga memberikan dampak yang besar bagi bisnis. Teknologi tersebut bersifat disruptive yang mengubah secara drastis cara perusahaan menjalankan bisnisnya.

Penggunaan teknologi industri (TI) di Indonesia semakin berkembang pesat dalam organisasi. Di level negara, Indonesia menargetkan menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai pasar sebesar US$130 milyar di tahun 2020. International Data Corporation (IDC) Indonesia melaporkan bahwa belanja Information and Communication Technology (ICT) di Indonesia diperkirakan akan naik sebesar 16 persen dari Rp339 trilyun (US$9.6 milyar) di tahun 2017 menjadi Rp159 trilyun (US$11.9 milyar) ditahun 2020.

Baca Juga

Laporan IDC tersebut juga menunjukkan tren peningkatan investasi TI pada teknologi terkini seperti cloud, data analytics, dan data centre management. Menurut laporan hasil studi lembaga riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan tingkat optimisme tertinggi dalam menerapkan RI 4.0 (78%) setelah Vietnam (79%), disusul negara lainnya Thailand (72%), Singapura (53%) Filipina (52%) dan Malaysia (38%).

Lebih lanjut McKinsey melaporkan industri 4.0 akan memberikan dampak signifikan kepada ekonomi di Indonesia, yaitu pertambahan US$150 milyar pada tahun 2025 dimana sekitar 25 % dihasilkan dari sektor manufaktur.

Namun, tantangan terbesar dari RI4.0 adalah implementasinya, dimana menurut McKinsey hanya 13% dari responden penelitian melaporkan perusahaan mereka telah menerapkan teknologi RI 4.0. Tantangan tersebut berasal dari strategi bisnis yang tidak jelas, integrase TI yang tidak memadai, aspek keamanan (cybersecurity), dan kurangnya sumber daya manusia yang kompeten.

Terkait dengan revolusi industri 4.0, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) menyusun road map “making Indonesia 4.0” dimana dengan teknologi industri 4.0 seperti advanced robotic, 3D printing, wearable devices, internet of things, dan artificial intelligence diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri Indonesia sehingga Indonesia menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia berdasarkan PDB di tahun 2030.

Making Indonesia 4.0 juga menargetkan industri Indonesia dapat menggandakan rasio produktivitas terhadap biaya dan mendorong ekspor netto menjadi 10% dari PDB di tahun 2030.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia berkomitmen menganggarkan 2 persen dari PDB untuk penelitian dan pengembangan teknologi industri 4.0. Lebih lanjut, Kemenperin telah menghasilkan beberapa kebijakan strategis dalam upaya implementasi peta jalan tersebut, antara lain: insentif fiscal berupa super deductible tax untuk perusahaan yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan inovasi dan pendidikan/pelatihan.

Menghasilkan program e-smart IKM, menunjuk Lighthouse of industri 4.0 untuk memilih perusahaan-perusahan contoh penerapan TI 4.0, melaksanakan pelatihan untuk mencetak manajer dan tenaga ahli transformasi industri 4.0 dan dalam proses perumusan industri 4.0, yaitu sebuah indeks untuk mengukur tingkat kesiapan industri Indonesia bertansformasi menuju industri 4.0

Istilah RI 4.0 pertama kali dikemukakan oleh Professor Klaus Schwabb, seorang ekonom dari Jerman yang juga pendiri World Economic Forum (WEF). Menurut Professor Schwabb, RI 4.0 secara fundamental berbeda dengan revolusi industri versi sebelumnya.

Menurutnya, “the fourth industrial revolution will affect the very essence of our human experience”. Schwabb juga mengungkapkan ada empat dampak utama RI 4.0 kepada bisnis untuk semua sektor industri. Keempat dampak tersebut, yaitu bergesernya ekspektasi dari pelanggan, kualitas produk ditingkatkan dengan penggunaan data, terbentuknya bentuk kerjasama yang baru, dan model operasional yang diubah menjadi bentuk model digital yang baru.

Mckinsey memprediksi konsekuensi utama dari industri 4.0 adalah terciptanya “pabrik masa depan” atau “factories of the future” dimana proses produksi menyediakan aliran data tanpa batas di seluruh siklus hidup produk, sistem produksi yang sepenuhnya dijalankan secara otomatis yang didukung oleh analitik data yang canggih dan proses efisien lainnya. Manfaat dari “pabrik masa depan” adalah meringankan pekerjaan karyawan, meningkatkan kualitas dan memberikan penghematan biaya.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button