Gagal Torehkan Emas Lagi, Posisi Kaltim Terus Melorot di PON XX Papua

Papua, nomorsatukaltim.com– Posisi Kalimantan Timur di PON XX Papua kembali melorot. Sampai malam tadi, kontingen Benua Etam berada di posisi 16 dengan raihan 1 emas, 7 perak, dan 17 perunggu. Total, 25 medali dikoleksi para atlet.

Posisi Kaltim tertahan setelah dua cabang olahraga unggulan, Cricket dan Muaythai, tak berhasil menyumbang emas.

Tim cricket Putri Kaltim dipaksa menyerah melawan Bali di partai final, pertandingan puncak yang berlangsung di lapangan Cricket Doyo Baru, Sentani Kabupaten Jayapura, Senin (4/9/2021). Skuat Benua Etam harus mengakui keunggulan Bali dengan skor akhir 96-97. Hasil tersebut membuat Kaltim gagal kembali merebut emas kesekian kalinya.

Sehari sebelumnya, cricket Kaltim berhasil maju ke partai puncak usai mengungguli tim cricket putri Banten dengan skor 72-71. Itu bukan skor tipis, karena Kaltim masih punya 12 over kali 6, yang artinya selisihnya sangat besar. Sayang, modal itu tak cukup membawa cricket Klatim rebut emas PON.

Disampaikan pelatih Cricket Kaltim, Bernard Elly, skuat asuhannya sudah tampil dengan performa yang maksimal. Namun hasil akhir pertandingan selalu jadi cerita paling nyata. Terlebih, Tim Bali sejauh ini sudah cukup diketahui strategi permainannya. Karena sebelumnya saat try-out juga Pulau Dewata yang dijadikan tempat Yulianingrum dkk berlatih.

“Ya, Alhamdulillah saat bermain tidak ada kendala, anak-anak sudah fight dengan maksimal. Jadi, kami harus mengakuin keunggulan tim Bali,” ungkapnya kepada awak media usai pertandingan.

Tak cukup puas dengan hasil akhir, ia mengaku akan melakukan evaluasi terhadap asuhanya. Apa-apa yang jadi kekurangan Tim Cricket Kaltim di pertandingan sebesar PON. Dengan segala tekanan dan harapan untuk keluar sebagai tim terbaik. Sehingga berikutnya bisa lebih maksimal lagi.

Kini, tim cricket terlebih dulu akan menjalani rehat sejenak sebelum kembali pulang ke Bumi Etam. “Iya, pastinya kami akan evaluasi, dan setelah ini anak-anak akan rehat dulu, setelah tanding,” tandasnya.

Selain cricket Muaythai Kaltim juga gagal menorehkan emas. Padahal tinggal selangkah lagi. Atlet Muaythai Kaltim, Devan Febra Ananta yang berhasil menembus partai final PON XX Papua kelas 73kg. Tapi gagal mempersembahkan medali emas. Melawan Ade Tia Armadani dari Jawa tengah, Devan Ananta kalah angka dari pesaing terberatnya itu.

Pertandingan yang berlangsung di GOR Sekolah Teologi Gereja Injil Indonesia (STT GIDI) Papua, pada Minggu malam itu sejatinya menjadi satu-satunya peluang medali emas cabor beladiri Muaythai Kaltim. Karena keenam rekannya hanya mampu meraih medali perunggu.

Padahal, menilik hasil head to head antar keduanya, petarung Kaltim itu justru tercatat dua kali mengalahkan lawannya kali ini, yakni saat kejurnas dan Pra PON 2019 lalu. Tapi bagaimanapun di partai final itu, Devan justru dinilai tidak bertarung seperti biasanya.

Ketua Harian Muaythai Kaltim, Budhi Iriawan mengatakan alasan paling mendasar atas penampilan Devan yang terasa kurang greget ialah faktor kelelahan. Selain dari padatnya jadwal, molornya jadwal tanding hingga larut malam ditengarai memberi andil pada pertarungan loyo atlet andalan Muaythai Kaltim itu.

“Kami mendapatkan informasi awal, laga ini akan dimulai pukul 12.00 WIT, namun kemudian diundur hingga pukul 14.00 WIT, padahal pada saat itu ada 18 nomor pertandingan yang harus dilaksanakan,” terangnya.

Lantas laga final kelas 73kg putra tersebut baru dipertandingkan pukul 21.30 WIT, padahal satu jam sebelumnya Devan dan lawannya telah mendapatkan panggilan untuk bersiap menuju ring.

“Saat mendapatkan panggilan Devan sudah melakukan pemanasan dan siap untuk tampil, sayangnya pertandingan ditunda karena ada upacara penyerahan medali, dan pertandingan dimulai sejam kemudian,” timpalnya.

Budhi melanjutkan, kesan panitia pertandingan mengulur waktu pertandingan memang nampak terlihat, beberapa kali jadwal acara yang sudah disusun mengalami perubahan.

“Awalnya seusai laga final di satu nomor pertandingan akan ada UPP medali, namun berubah setiap enam pertandingan final baru ada UPP medali, itupun diselingi dengan nomor pertandingan seni,” tambahnya.

Budhi tidak mau menyimpulkan, molornya jadwal pertandingan berkaitan dengan kemenangan banding laga semi final Devan menghadapi Uchida (DKI) di Dewan Hakim PB PON XX Papua. Setelah sebelumnya sempat terjadi protes dari Tim Muaythai kaltim atas laga semi final itu.

“Pertandingan sudah berakhir, fakta dilapangan memang harus diakui lawan Devan tampil jauh lebih baik saat pertandingan itu,” jelasnya.

Sementara itu, partai final tersebut juga turut disaksikan Ketua KONI Kaltim bersama bersama Wakil Sekretaris Umum 1 Kontingen Kaltim, Ahmad Albert. Yang rela menunggu sejak siang hari hingga gelaran malam. Terkait hasil akhir, Albert mengatakan jika perjuangan Devan sudah maksimal, meski target emas yang diharapkan tak tercapai.

“Namanya pertandingan pasti ada target, atlet kita sudah memberikan yang terbaik. Tetapi, ya namanya pertandingan pasti ada menang dan kalah. Mudahan hari ini Kaltim bisa sumbang medali emas dari cabor lain,” pungkasnya. (FRD/FDL)

Leave A Reply