Wani Rigat, Borneo FC Pantas Petik 1 Poin dari Bali United

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Salah besar jika Bali United mengira akan memetik 3 poin mudah atas Borneo FC Samarinda. Di atas kertas, mereka unggul segalanya. Namun di lapangan, Pesut Etam menampilkan perlawanan sengit bermodal taktik, kekompakan, dan semangat. Tiga komponen ini, menjadikan skor imbang kedua tim layak disebut sebagai hasil yang adil.

Borneo FC Samarinda yang sedang pesakitan hadir ke Stadion Indomilk Arena, Tangerang, pada Senin (28/9) petang dalam kondisi pincang. Torres dan Leo Guntara absen lantaran cedera. Wawan Febrianto berhalangan tampil karena alasan keluarga. Sementara Boaz Solossa belum menemukan kebugarannya hingga belum memberi dampak signifikan.

Jadinya, Ahmad Amiruddin tak punya pilihan lain. Selain mempercayakan lini depan pada trio Sihran, Guy Junior, dan Terens Puhiri. Ketiganya ditopang oleh pengatur serangan Jonathan Bustos.

Sementara Bali United, datang dengan kondisi oke. Selain Leo Tupamahu, Stefano Cugurra ‘Teco’ dapat menurunkan winning team-nya.

Lazimnya, Bali United dapat memetik kemenangan mudah atas Pesut Etam. Atas hal apa mereka tak bisa melakukan. Setidaknya begitu teorinya.

Namun bahwa tidak semua teorikal sejalan dengan eksekusi di lapangan. Borneo yang mengandalkan semangat, kekompakan tim, serta sedikit sentuhan taktikal dari Amiruddin. Malah memegang kendali permainan sejak awal. Bali yang sedang gress itu, dipaksa bermain menunggu sambil mencari celah menyerang ketika pemain lawan lengah.

Bahkan, Teco secara khusus mengintruksikan dua beknya untuk menempel ketat Sihran dan Guy. Asumsinya, mematikan gerak dua dari tiga penyerang bakal membuat serangan Borneo tumpul. Dan benar saja. Borneo memble di lini terakhir. Kreativitas mereka tumpul tatkala tak banyak pemain yang dapat terlibat dalam build up serangan.

Babak pertama berjalan dengan saling menyerang. Walau bola lebih banyak berputar di lini tengah. Sampai sini, Bali United harusnya menyadari sebuah sinyalemen. Bahwa Borneo FC tak selemah yang mereka pikirkan.

Perubahan rencana di awal babak kedua membuat Serdadu Tridatu melayang tinggi. Satu gol penting dari Spaso dari situasi tendangan bebas membuat permainan Borneo makin tak berirama. Sebaliknya, Bali United berhasil memainkan psikologis lawan.

Tempo mereka turunkan, marking mereka tingkatkan ketika kehilangan bola. Di tengah rasa frustasi akibat kebuntuan lini depan. Beberapa kali pemain Borneo melakukan pelanggaran tidak penting.

Jelang waktu normal selesai, Teco merasa cukup dengan skor 1-0. Ya, dalam 4 laga awal, Bali memenangkan tiga pertandingan di antaranya dengan skor tipis. Mencetak gol lalu bertahan adalah agenda Teco jelang bubaran.

Namun kecerdikan Amiruddin memutar-mutar posisi pemain lewat pergantian yang membingungkan. Membuat lini belakang Bali lengah. Jarang sekali bek mereka out of position. Tak sampai 3 kali sepanjang laga.

Bahkan ketika Terens menyengat lewat golnya pada menit ke-83. Bali United sedang unggul jumlah pemain di kotak penalti. Coba lihat saja cuplikan pertandingannya, Terens justru berada dalam posisi tidak baik sebelum mencetak gol. Ia dihalangi oleh 3 pemain lawan. Plus kiper Wawan Hendrawan.

Namun keputusannya mengirim bola ke sudut sempit membuat bola terbentur tiang, kemudian jadi gol yang menyakitkan bagi Bali. Namun melegakan bagi Pasukan Samarinda.

Ini menjadi laga kelima Borneo FC Samarinda di Liga 1 2021. Lima laga yang hanya mereka menangi sekali, di laga pembuka. Melawan Persebaya yang tanpa pemain asing. Ini juga, menjadi laga ketiga beruntun Pesut Etam mendapatkan hasil seri.

Namun tahu kah, imbang melawan tim yang sedang digdaya dalam kondisi pincang. Adalah sebaik-baiknya hasil pertandingan yang bisa mereka dapatkan. (frd/ava)

Leave A Reply