HLOlahraga

Gebhy Novitha; Gemilang di Anggar, Terinsipirasi dari Mama

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Gebhy Novita tumbuh sebagai anak perempuan yang manis. Tapi bukan dokter, model, ataupun pekerja kantoran jalan hidup yang dia pilih. Sejak sangat kecil, Gebhy sudah jatuh cinta dengan olahraga anggar. Berawal dari kerap melihat mamanya bermain cabor itu. Kini, Gebhy akan meninggalkan masa remajanya. Yang telah dia isi dengan begitu banyak prestasi hasil jerih payahnya menggeluti anggar.

Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2008. Ketika Kaltim menjadi tuan rumah. Usia Gebhy masih 6 tahun, menjelang 7 tahun. Gadis kecil itu duduk manis di tribun penonton. Menyaksikan ibundanya bertanding di cabor anggar.

Usai melewati partai yang sengit berhari-hari. Sang ibunda mengakhiri ajang itu dengan raihan medali. Semburat kebahagiaan ketika menerima medali. Membuat Gebhy ikut bangga. Lalu dia berpikir, aku akan menjadi atlet anggar seperti mama.

Dan itulah yang terjadi kemudian. Gebhy tak membiarkan jatuh cintanya dengan anggar berlalu begitu saja. Dengan pendampingan sang ibunda. Dia mulai menggeluti anggar. Dara kelahiran 7 November 2001 itu melewatkan banyak masa bermainnya untuk berlatih anggar. Sesuatu yang tentu tak akan dia sesali saat ini.

Baca Juga

Selepas sekolah dasar. Gebhy masuk ke Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim. Agar keinginannya menjadi atlet anggar bisa terakomodir. Agar fokus menyiapkan diri. Agar serius menempa teknik dan fisiknya.

Dukungan dari sang mama juga membuat Gebhy semakin cepat berkembang menjadi atlet anggar. Kejuaraan lokal dan nasional berhasil dia menangi di usia awal berkiprah. Tahun 2015 lalu, atau saat usianya 14 tahun. Gebhy sudah memenangi kejuaraan nasional pertamanya. Laga final di kejurnas itu pula yang dianggapnya sangat berkesan sampai saat ini.

Di partai puncak. Gebhy harus melawan atlet yang lebih matang secara skill, mental, dan usia. Perbedaan umur keduanya 3 tahun. Dengan Gebhy tentu lebih muda dari lawannya itu. Dia sempat ciut. Sempat tak yakin bisa memenangi laga terakhir di kejurnas itu.

anggar

Tapi demam panggung itu segera sirna ketika bertanding. Gebhy mampu meladeni permainan ketat sang lawan. Keduanya saling berkejaran poin. Sampai akhirnya, atlet asal Jawa Timur yang menjadi lawan Gebhy, keok dengan skor sangat tipis. 15-14. Gebhy membawa Kaltim meraih medali emas.

“Iya, itu paling berkesan. Saya merasa belum cukup matang. Bersyukur akhirnya mampu memenangkannya,” ungkap anak pasangan Muchsin – Wehelmina Pidang ini.

Selanjutnya perjalanan Gebhy di cabor anggar tentu semakin berat. Tapi dianggapnya semakin menantang dan menyenangkan juga. Setahun selepas kejurnas, Gebhy turut mewakili Kaltim di PON 2016 Jabar. Meneruskan perjuangan mentor terbaik sekaligus ibunya.

Di Jabar, Gebhy berhasil mengalahkan satu per satu lawannya untuk mencapai babak final. Sayang, di final dia kalah. Maka hanya mendapat medali perak. Walau mensyukuri apa yang didapat. Gebhy enggan berpuas diri. Dia mau lebih lagi.

Jalan karier anggarnya kemudian terbuka lebih lebar. Dia terpilih sebagai kontingen Indonesia di SEA Games Filipina tahun 2019. Di ajang antar negara Asean itu. Performa Gebhy tidak bagus-bagus amat. Tapi tidak buruk juga. Dengan ia mengakhiri turnamen internasional itu di peringkat ke-10. Not bad.

Di tahun yang sama pula. Gebhy kembali terlibat dalam kejurnas yang sekaligus menjadi Pra PON Papua. Tahu medali apa yang dia dapat?

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button