Index Berita

Garda Depan Rentan Tertular 

 Perawat adalah orang yang paling sering bersinggungan dengan pasien COVID-19. Ketimbang dokter. Saat ini, jumlah tenaga perawat mencapai 12.809 orang. Tersebar di seluruh daerah di Kaltim. Dari sisi jumlah, menurut Ketua PPNI Kaltim Dr Sukwanto sudah sangat cukup. Bahkan banyak yang nganggur. Kendalanya justru keterbatasan APD. Padahal mereka orang yang paling rentan tertular.  

Pewarta: Muslim Hidayat

Editor: Devi Alamsyah

Baca Juga

TENAGA medis di Kalimantan Timur (Kaltim) tengah bersiap menghadapi wabah virus corona baru atau COVID-19. Menjadi garda terdepan dalam wabah ini, membuat profesi tenaga medis khususnya perawat, menjadi penting. Namun, keamanan menjadi persoalan utama. Alat Pelindung Diri (APD) buat tenaga medis masih minim.

Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kaltim, Dr Sukwanto mengatakan, dalam menghadapi wabah COVID-19 tenaga perawat sudah dipersiapkan. Mereka sudah dibekali prosedur tetap (protap) apa dan bagaimana yang harus dilakukan. “Seluruh perawat di Kaltim sudah siaga. Secara personal perawat kita siaga, selama 24 jam di seluruh fasilitas kesehatan,” katanya, Jumat (27/3).

Saat ini, kata dia, ada 12.809 tenaga perawat yang tersebar di 10 kabupaten kota se-Kaltim. Terpusat di perkotaan, seperti Samarinda dan Balikpapan. Mereka ditempatkan di seluruh rumah sakit, puskesmas yang memiliki rawat inap, hingga klinik. Dengan sistem kerja 3 shift kerja stand by selama 24 jam.

Hanya saja, diakui, dalam persiapan menghadapi wabah ini, perawat belum dilengkapi dengan APD yang memadai. Termasuk dengan jumlah APD. “Masih sangat terbatas. Khususnya di puskesmas-puskesmas rawat inap. Mungkin mereka hanya punya masker, itu juga terbatas. Sedangkan APD yang lain masih sangat kurang,” kata Doktor Keperawatan dari Universitas Brawijaya Malang ini.

Sesuai standar, APD yang dimaksud yaitu selain masker N95, juga baju pelindung atau coverall gown, sepatu bot, dan lainnya. Kaltim sendiri sudah menerima bantuan dua ribu APD. Berupa APD cover all dari Gugus Tugas Penanganan COVID-19 pusat, awal pekan ini. Yang telah didistribusikan untuk faskes se-Kaltim.

Menurutnya, APD tersebut masih belum mengcover seluruh faskes. Khususnya untuk perawat yang bertugas di 182 puskesmas rawat inap. Kemudian di 29 RS baik umum dan swasta. Dengan jumlah tersebut, ia menilai APD masih sangat kurang dari yang dibutuhkan. “Idealnya, kita kan ada ratusan puskesmas, puluhan RS seyogianya mereka harus dibekali dalam 3 shift. Jadi diperlukan jumlah yang banyak. Kan APD itu sekali pakai saja,” terangnya.

Kata dia, hal ini lah yang menjadi keluhan perawat saat ini. Dari informasi yang didapatnya hingga kemarin dari pelbagai rumah sakit, kebutuhan APD nya masih kurang. Bantuan 2 ribu APD yang telah didistribusikan masih belum cukup mengcover seluruh RS. Sebab, jumlah tiu dibagi ke pelbagai RS se- Kaltim.

“Kita harap ada penambahan lagi dari pusat, sehingga kebutuhan RS bisa terpenuhi. Rata-rata itu kemarin hanya dapat 50, 100, 150 unit saja. Kalau faskes tingkat pertama ada juga diberikan, cuma sangat sedikit, padahal faskes kita kan banyak,” keluhnya.

Yang perlu dipahami, kata dia, APD tidak hanya digunakan bagi perawat yang menangani pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 saja. Yang tengah diisolasi di pelbagai RS rujukan maupun swasta. Akan tetapi juga diperlukan untuk tenaga medis di faskes tingkat pertama.

Misalnya, perawat yang bertugas di Unit Gawat Darurat di RS maupun di puskesmas rawat inap hingga klinik rawat jalan. Sebab, sebelum dirujuk ke RS, pasien yang mengalami gejala COVID-19 tentu sebelumnya melakukan pengecekan di faskes tingkat pertama tersebut.

“Memang tidak untuk semua perawat. Tetapi khusus untuk lini depan yang menangani pasien. APD itu harus dipakai sebelumnya. Karena kita tidak mengetahui semua orang yang datang itu. Sangat mungkin mengendap atau ketika masa inkubasi dari virus corona itu sendiri. Jadi faskes pertama itu juga harus dilengkapi pakai APD lengkap,” bebernya.

Untuk mengatasi hal ini, pihaknya pun telah berinisiatif. Melalui organisasi PPNI pusat. Memohon dikirim APD secara lengkap untuk kebutuhan seluruh faskes yang ada di Kaltim. Ia pun berharap nantinya akan ada tambahan APD dalam waktu dekat.

JUMLAHNYA CUKUP

Disisi lain, ia menyatakan, untuk jumlah tenaga medis secara prevalensi sudah cukup memadai dengan jumlah penduduk Kaltim. Apalagi, dalam menghadapi wabah COVID-19.  “Secara umum sudah cukup, hanya distribusi kabupaten kota yang belum merata. Masih terfokus di kota. Itupun banyak yang tidak dapat pekerjaan. Seharusnya memang satu kampung, satu desa, ada perawat di sana,” ucapnya.

Ia menerangkan perawat yang menangani pasien COVID-19 dikhususkan. Terpisah dengan perawat yang merawat pasien lainnya. Sebab mereka juga ikut terpisah di ruang isolasi di RS tersebut.

Hingga Jumat (27/3), dari data Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kaltim, tercatat ada 59 pasien dalam pengawasan (PDP). Yang dirawat di 12 rumah sakit di Kaltim. Paling banyak, ada di RSUD Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan 24 orang. Kemudian, pasien di RSUD Abdul Wahab Syahranie (AWS) 10 pasien. Dari jumah tersebut, pasien PDP yang confirmasi positif sebanyak 11 orang.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button