MLG: Kami Mau Dong Dibuatin E-Parking

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Makin ke sini, destinasi wisata pinggir kali, Mahakam Lampion Garden (MLG) makin eksis saja. Bahkan mereka sudah merambah ke dunia wisata kuliner. Menambah tingkat kunjungan semakin pesat. Hanya persoalannya, area parkir yang mereka kelola tidak mampu menampung kendaraan semua pengunjung.

Masalah kantung parkir ini membuat pengelola MLG belakangan kepayahan. Terutama ketika di akhir pekan. Penambahan area parkir dari sebelumnya hanya di depan arena lampion, ke depan Marimar, sampai meminjam lapangan panahan di sebelahnya pun. Tidak berjalan maksimal.

Sehingga di hari-hari puncak kunjungan, mereka harus menutup area parkir ketika petang. Yang menyebabkan pengunjung memarkirkan kendaraannya di bahu jalan.

Pengelola MLG, Dian Rosita khawatir jika kondisi ini terus terjadi. Pengunjung akan mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan. Karena bagaimana pun, parkir adalah sesuatu yang paling pertama dan paling akhir dirasakan pengunjung. Ketika datang dan pergi dari situ.

Berbagai upaya untuk merestorasi dan memperlebar cakupan lahan parkir sudah mereka lakukan. Namun lagi-lagi, tak mampu memenuhi kebutuan. Bahkan permohonan dibuatkan parkir terintegrasi sudah disuarakan ke pemkot sejak 2 tahun lalu. Namun belum juga ada tindak lanjut.

Di sisi lain, Pemkot Samarinda di bawah kepemimpinan Andi Harun berupaya menggenjot retribusi parkir. Dengan menerapkan E-Parking di beberapa titik. Yang pilot project-nya sudah dimulai pada Mei lalu.

Nah, dengan kebutuhan area dan sistem pengelolaan parkir yang mutakhir. Dian Rosita berharap Pemkot Samarinda melirik destinasi yang dikelolanya itu.

“Mau banget … dibuatin E-Parking!” Ucap Dian begitu antusias, Rabu (6/10).

Sebagai destinasi wisata, dia menyebut bahwa MLG sudah menjalankan fungsi dasarnya. Yakni menciptakan keramaian. Yang turunan dari kunjungan itu bisa beragam. Dari ketersediaan wahana wisata dalam kota. Yang secara langsung mengangkat citra Samarinda. MLG yang belakangan membuat area wisata kuliner bertajuk Mahakam Riverside Market (Marimar). Telah menerapkan pembayaran pajak restaurant.

Secara organik, MLG dan Marimar akan terus berkembang. Yang membuat serapan keramaian semakin tinggi pula. Kini, masalahnya hanya tinggal di kantung parkir.

“Swasta bertugas membuat keramaian, tinggal pemerintah memaksimalkan itu untuk menambah pendapatan daerah,” ujar Dian.

“Kalau akhir pekan, jam 7 kami tutup parkiran. Lalu pengunjung parkir di jalan, banyak banget bocornya. Kalau ditanya urgensi MLG memiliki E-Parking, ya sudah urgent sekali,” tegasnya.

Saat ini, area parkir MLG dan Marimar masih dikelola sendiri. Dengan keinginan dibuatkan E-Parking, Dian Rosita siap menarik pegawainya dari area parkir. Untuk kemudian sistem parkir itu diserahkan pada pengelola parkir, yang juga oleh pihak ketiga (swasta).

“MLG siap tidak ambil retribusi parkir. Yang kami harapkan sekarang adalah Pemkot Samarinda mau mengelola parkir dengan E-Parking itu,” tutur Dian.

Asumsi Dian, jika parkir sudah diurus pihak lain. Manajemen MLG tinggal fokus mengembangkan destinasi. Tanpa perlu khawatir parkir semrawut atau tidak tersedia kantung parkir untuk pengunjung lagi. Hal ini, disebutnya akan menjadi win-win solution. MLG untung, karena masalah kekurangan lahan parkir bisa teratasi. Pemkot Samarinda juga bisa untung berlipat-lipat.

“Tapi kalau boleh, E-Parking untuk MLG nanti, menggunakan tenaga outsourcing dari warga sekitar. Biar kebermanfaatannya semakin terasa,” pintanya.

Akar dari keinginan memiliki E-Parking ini, kata Dian, adalah bentuk itikad baik dari manajemennya. Setelah menciptakan tingkat kunjungan, membayar pajak makanan dari wisata kulinernya. Kini, MLG kembali memiliki potensi saling memberi manfaat pada pemkot dari sektor retribusi parkir. FRD/AVA

Leave A Reply