MI Tanwirul Islam Menanti Antrean Izin PTM Terbuka

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Pemkot Samarinda sudah membuka kembali 54 sekolah, dari tingkat TK hingga SMP untuk menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Sisanya, akan diberikan izin menyusul. Sekolah kecil di kawasan Suryanata bernama Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Islam termasuk dalam antrean tersebut.

Era baru pendidikan di era pandemi COVID-19 mulai terlihat cercahnya. Pemerintah daerah se-Indonesia sudah mulai melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Beberapa sekolah yang secara infrastruktur dan sistem siap menggelar pembelajaran di ruang kelas. Dipersilakan melakukan PTM terbatas.

Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Islam Samarinda menantikan betul izin menggelar PTM tersebut. Karena sekolah berbasis agama Islam itu cukup keteteran menjalankan pembelajaran daring. Mengingat ada beberapa mata pelajaran yang tak optimal jika disekat oleh aplikasi pertemuan daring.

Di tengah keterbatasan tersebut, sekolah tingkat SD yang terletak di Jalan P. Suryanata Gang Rahim, Samarinda itu. Tetap berupaya menjalankan kurikulum, sebisa-bisanya.

Setelah melihat Pemkot Samarinda kembali membuka beberapa sekolah, walau secara terbatas. Kepala Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Islam, Abdul Rahim turut senang. Hanya soal waktu saja sekolah yang ia pimpin dapat beroperasi seperti sedia kala.

“Alhamdulilah sudah banyak daerah zona kuning yang melakukan PTM terbatas, terutama bagi sekolah menengah pertama dan atas. Semoga lekas bergerak ke tingkat dasar,” ungkapnya ketika bertemu awak nomorsatukaltim.com – Disway News Network (DNN) belum lama ini.

Rahim dapat memahami kebijakan pemerintah yang memberi izin pada sekolah, baik swasta maupun negeri, yang secara sarana dan prasarana lebih lengkap untuk mendapat giliran awal. Karena memang, desakan PTM itu tak sekadar urusan meningkatkan mutu pendidikan saja. Namun juga berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan peserta didik.

“Karena mereka (tingkat SMP) juga sudah bisa divaksin. Sementara kita yang di bawah sekolah dasar belum bisa divaksin.”

“Kita semua berharap semoga situasi segera normal seperti sedia kala, sehingga program kurikulum berjalan dengan baik sesuai rencana.”

“Saat ini masih struktur kurikulum darurat yang dipakai. Sehingga ada pemilahan dan pemilihan materi, baik formal maupun non formal. Sementara pelajarannya tidak bisa di online-kan,” paparnya.

Sambil menanti  izin PTM terbuka terbit. Pengurus Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Islam sudah mengisi formulir dari Kementerian Agama RI. Semua sekolah bersasis agama, memang harus melalui prosedur tersebut. Rekomendasi Kemenag harus didapatkan sebelum mendapat izin dari pemerintah daerah masing-masing.

“Kami sudah melakukan dan mengisinya, dan rekomnya juga sudah keluar. Saat ini kami tinggal menunggu rekomendasi dari pemerintah daerah, juga masih ada berkas-berkas yang harus di lengkapi,” tutur Rahim.

Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Islam sendiri adalah sekolah islam tingkat dasar. Yang kini baru berusia 5 tahun. Selain mengikuti kurikulum pendidikan secara umum. Mereka juga punya program pembelajaran yang berbeda. Yang tentu tak jauh-jauh dari keislaman.

“Yang paling kita galakkan adalah ilmu baca kitab gundul. Dengan metode kitab Nahdlatul Bayan, itu produk kita Tanwirul Islam. Saya rasa di sekolah tingkat dasar belum ada yang megangkat ini.”

“Metodenya sudah dirumuskan, termasuk pelajaran nahwu shorof. Setelah itu, pembelajaranya diaplikasikan ke kitab kuning. Anak-anak diminta untuk membaca, minimal mereka sudah bisa mengidentifikasi, apa maksudnya dan seterusnya. Karena memang alat untuk memaknai kitab gundul dan Quran ya nahwu shorof,” jelasnya.

Secara sederhana nahwu shorof dapat dipahami sebagai salah satu cabang ilmu dalam Bahasa Arab yang digunakan untuk mengetahui hukum akhir dari suatu kata.

Sehingga pengertian nahwu merupakan kumpulan beberapa kaidah  dalam Bahasa Arab yang berfungsi untuk mengetahui bentuk kata beserta keadaan-keadaannya ketika masih muford (berjumlah satu kata) atau ketika sudah Murokkab (tersusun).

“Jangan sampai generasi Islam cara membaca dan memaknai Quran sesuai dengan kemauannya. Pada dasarnya semua harus kembali ke kaidah awal, yakni nahwu shorof balaghoh dan mantik. Itu yang wajib di pahami terlebih dahulu,” pungkasnya. FRD/AVA

Leave A Reply