KukarMetropolisSamarinda

Batu Bara Ilegal Makin Menggila, Demi Cuan, Lingkungan Diabaikan

PENAMBANGAN batu bara ilegal terus terjadi. Keuntungan dari mengeruk emas hitam ini masih menjadi pundi-pundi menggiurkan beberapa pihak. Temuan demi temuan menunjukkan, bisnis ini tak pernah kehabisan peminat.

Salah satunya terjadi di ibu kota provinsi. Tepatnya di Jalan Gerilya Solong, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda.  Mirisnya lokasi mengeruk emas hitam itu dilakukan hanya berjarak lima meter dari badan jalan. Juga tak jauh dari permukiman warga. Temuan ini semakin membuktikan, bahwa kegiatan ilegal mining memang tak terkendali.  Diduga dampak dari sentralisasi kewenangan. Pasalnya, pengaturan pertambangan mulai dari kewenangan perizinan hingga pengawasan kini ditarik ke pemerintah pusat.

Pertambangan ilegal ini terungkap ke publik setelah adanya dua potongan video berdurasi 10 dan 14 detik. Yang menunjukkan aktivitas ilegal yang dilakukan para pelaku saat malam. Sejumlah truk nampak berjejer menunggu antrean untuk memuat batu bara yang telah dikeruk. Video itu seketika jadi perbincangan warganet. Menanggapi atas adanya informasi tersebut, media ini melakukan penelusuran.

Namun saat di lokasi, sudah tidak ada lagi ditemukan adanya aktivitas pertambangan. Truk hingga alat berat seketika hilang pasca viralnya video tersebut di media sosial. Dari pinggir jalan, nampak terpal selebar 10 meter dibentangkan guna menutupi adanya bekas aktivitas pertambangan ilegal dilokasi tersebut.

Baca Juga

Dibalik terpal itu, terdapat lubang sekitar 20×10 meter dibiarkan menganga. Begitu pula dengan tumpukan batu bara yang tak sempat diangkut oleh para pelaku. Dibiarkan begitu saja terpapar sinar matahari. Singkat cerita, dari penelusuran di sekitar lokasi kejadian, media ini berhasil menemui salah satu warga setempat, yang mengetahui secara detail adanya aktivitas pertambangan ilegal tersebut.

Pria tersebut bernama Arsad. Kepada media ini ia membeberkan awal mula terjadinya pertambangan ilegal tersebut. Dikisahkannya, bahwa beberapa tahun silam di lokasi tersebut, dahulunya sudah pernah terjadi aktivitas pertambangan ilegal. “Kebetulan itu lahannya milik saudara saya. Bekas di tambang ilegal dulu itu masih ada menyisakan lubang, nah itu sering dibernangin sama anak-anak. Takut kalau ada yang sampai tewas disana,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya.

Baca juga: 10 Ribu Nelayan Kukar Penuhi Syarat BPJS Ketenagakerjaan Gratis

“Karena kalau sampai ada yang tewas, nanti yang punya lahan terseret masalah. Jadi saudara saya ini minta tolong ke saya, untuk mencarikan orang yang bisa menimbun lubang itu,” sambungnya.

Arsad lantas mencari pemilik alat berat excavator yang dapat menunaikan menimbun lubang. “Dapat kenalan, namanya Sapri. Sama saya dia mengaku sanggup ngerjakan dengan syarat diperbolehkan untuk mengeruk batu bara sebagai biaya pengerjaannya,” terangnya.

Awalnya Arsad enggan untuk mengiyakan permintaan itu. Namun karena si pemilik alat berat memaksa dan berjanji siap untuk menanggung apabila dikemudian hari timbul permasalahan. Alhasil Arsad pun mempersilahkan. “Saya lepas tangan saja, yang penting lubang ditutup. Kemudian lubang itu ditutupnya. Setelah ditutup ternyata langsung cari batu bara disitu. Ternyata memang masih ada dan dikeruknya,” ucapnya.

Ia mengatakan, aktivitas menimbun lubang dan mengeruk batu bara tersebut dipantaunya berlangsung selama satu bulan. “Dari pengakuan supir truk yang menerima muatan, saat saya tanya ada 600 ton batu bara yang mereka angkut. Banyak itu,” katanya.

Batu bara tersebut diketahui dikumpulkan dan dijual ke salah satu Jetty yang terdapat di Kecamatan Sungai Kunjang.  Selain itu Arsad turut membanarkan, bahwa aktivitas mengeruk dan membawa batu bara itu memang selalu dilakukan para pelaku saat malam hari. Truknya berjejer. Bisa sampai 20 unit.

Hingga akhirnya aktivitas pertambangan ilegal tersebut viral di Media Sosial. Para pelaku seketika menghilang begitu pula dengan alat berat yang digunakan untuk mengeruk emas hitam.  Ia mengaku kesal dengan ulah penambang ilegal tersebut, lantaran kabur dengan membiarkan lubang menganga. “Pas viral, saya di kebun. Baru hari ini pulang dari kebun terus kesana, sudah ngga ada mereka. Kabur semua Excavatornya juga sudah gak ada. Parahnya malah dibiarkan lubangnya menganga lagi,” kesalnya.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button