Samarinda

Ini Pengakuan Wakar Pencetak Pil Koplo di Gudang Sekolah

Hati-hati dalam berkawan. Salah pilih teman, bisa menjerumuskan ke dalam penjara. Ini yang menimpa KS (49). Seorang wakar yang terciduk membuka “pabrik” pil koplo jenis dobel L di gudang sekolah.

nomorsatukaltim.com – DIA dulu punya teman sekolah. Inisialnya PR. Kawannya itu kini telah sukses. Punya banyak rumah dan mobil. Ingin sekali KS mengikuti jejak temannya itu. Meski usaha yang dilakukan PR itu merupakan bisnis haram: mengolah dan mengedarkan pil koplo.

KS pun menghubungi kawannya. Menanyakan cara agar sukses seperti PR. Bujuk rayu PR pun meluncur. Meminta wakar sekolah ini mengikuti jejaknya.

Baca juga: Pabrik Narkoba di Gudang Sekolah, Kadisdik Sesalkan

Baca Juga

“Saya tergiur ajakan teman saya (PR), dia sekarang punya rumah banyak sama mobil. Dia bilang ikut bisnisnya dia saja. Katanya dia, karena bisnis itu, tidak sampai setahun, dia sudah bisa beli banyak rumah dan punya mobil,” terang KS ketika ditemui di Mapolresta Samarinda, Selasa (1/12/2020).

Bosan hidup serba terbatas, KS akhirnya tergiur untuk coba-coba mencari peruntungan di bisnis obat-obatan terlarang tersebut.

“Katanya kalau mau usaha itu, bisa pesan ke dia. Alat-alat sama bahannya didatangkan dari Jakarta. Jadi saya tinggal mencari modal,” sambungnya.

KS sempat berpikir keras, untuk mencari modal membeli peralatan produksi dan bahan baku membuat dobel L. Hingga akhirnya, pria 49 tahun itu mendatangi saudara iparnya. Meminta tolong dipinjamkan surat tanah untuk digadaikan. Kepada iparnya itu, KS mengaku hendak membuka usaha obat medis.

Baca juga: Polisi Gerebek Gudang Sekolah yang Jadi Pabrik Dobel L

Singkat cerita, surat tanah yang ada di genggaman KS digadaikan ke salah satu bank. Dari sana, ia mendapatkan uang sebesar Rp 50 juta.

“Rp 25 juta saya kasih ke istri untuk renovasi rumah. Sisanya saya pakai buat modal beli bahan sama alatnya ke PR,” ucapnya.

Sementara itu, kepada sang istri, KS mengaku modal Rp 25 juta itu hendak digunakan membuka usaha jual beli besi tua bersama PR.

“Alat dan bahannya ini datang Oktober,” ujarnya.

Selang beberapa hari kemudian, bahan baku dan peralatan produksi pun tiba melalui jasa pengiriman barang. Lantaran belum memiliki tempat untuk meracik dobel L, KS kemudian menaruh peralatan dan bahan baku itu ke gudang sekolah tempatnya bekerja.

“Saya diajarkan bagaimana cara mencetak pil. Saya juga dijanjikan PR, nanti setelah mencetak pil, dia yang bertugas memasarkan, tidak sampai setahun pasti ada hasil, katanya. Jadi nanti saya bisa langsung tebus surat tanah dan nikmati hasil keuntungan,” tukasnya.

Setelah mendapatkan ilmu dari PR, KS langsung memulai meracik dobel L di dalam gudang kecil itu, berbekal cara mencetak pil dari PR. Namun berjalannya waktu, dobel L racikan KS hasilnya tak sempurna. Kebanyakan pil koplo yang dia buat mudah hancur. Namun saat hendak bertanya lagi cara membuat dobel L, PR sudah tak dapat dihubungi maupun ditemui.

“Jadi habis ngajarin buat pil, PR hilang enggak tahu di mana dia sekarang. Awalnya waktu diajarkan, pas dicetak mau. Tapi setelah PR tidak bisa ditemui, hasil cetakan saya kebanyakan hancur pilnya,” jelasnya.

Meski PR tak dapat lagi dihubungi, tak membuat KS patah arang. Dia tetap berusaha meracik dobel L seorang diri. Dengan mencari tutorial di dunia maya. Dari sana ia mendapatkan nama bahan baku campuran untuk memadatkan pil.

“Banyak kok dijual di Samarinda (bahan bakunya),” bebernya.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button