Dari Iwan ke Iwan, Kelanjutan Kasus Perusda MGRM Hadirkan Dua Saksi

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Dua saksi dihadirkan. Dalam lanjutan sidang perkara dugaan rasuah Perusahaan Daerah (Perusda) PT Mahakam Gerbang Raja Migas (PT MGRM) milik Pemkab Kukar. Di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Samarinda, Senin (4/10) secara daring.

Iwan Ratman juga turut hadir. Seperti diketahui, Iwan didakwa melakukan tindak pidana korupsi pengerjaan proyek fiktif pembangunan tangki timbun dan terminal bahan bakar minyak (BBM). Yang mengakibatkan negara menderita kerugian sebesar Rp 50 miliar. Proyek pembangunan tangki timbun dan terminal BBM itu rencananya dibangun di Samboja, Balikpapan dan Cirebon. Namun pekerjaan itu tak kunjung terlaksana. Iwan Ratman lantas dituduh menilap uang proyek sebesar Rp 50 miliar dengan cara dialirkan ke perusahaan swasta miliknya, PT Petro TNC Internasional.

Dalam persidangan beragendakan pemeriksaan keterangan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim, Zaenurofiq menghadirkan dua orang saksi. Adalah Otty Hati Chandra Ubayani sebagai Notaris. Dan Isman Sulistiyanto selaku Kepala Cabang Bank Mandiri KCP Jakarta Pertamina.

Di awal persidangan perkara terdakwa dengan nomor 25/Pid.Sus-TPK/2021/PN Smr, Majelis hakim yang dipimpin Hasanuddin selaku ketua majelis hakim, didampingi Arwin Kusmanta dan Suprapto sebagai hakim anggota, lebih dahulu meminta keterangan Otty Hati Chandra Ubayani selaku Notaris.

Dijelaskan, bahwa Otty sapaan karib saksi, berperan sebagai pembuat akta perjanjian akusisi saham PT Petro Indo Tank yang rencananya dibentuk. Untuk mengerjakan proyek pembangunan tangki timbun dan terminal BBM di Samboja, Balikpapan dan Cirebon.

Disebutkan bahwa di dalam akta perjanjian, PT MGRM mengalirkan dana sebesar Rp 50 miliar kepada PT Petro TNC Internasional. Demi mengakuisisi saham sebesar 10 persen PT Petro TNC Internasional. “Saksi mengaku ada perjanjian pembelian atau akusisi saham dari PT Petro TNC dari PT Petro Indo Tank, perusahaan yang dibentuk untuk mengerjakan proyek tangki timbun dan terminal BBM. Hasil dari akusisi saham 10 persen itu PT MGRM mengalirkan uang sebesar Rp 50 miliar,” ungkap Zaenurofiq ketika dikonfirmasi media ini.

Namun belakangan diketahui, ternyata pada saat pembentukan akta perjanjian akusisi saham tersebut, PT Petro Indo Tank belum terbentuk atau berdiri. Dikatakan saksi, pembelian saham PT Petro Indo Tank sebesar Rp 50 miliar yang dilakukan PT MGRM dari PT Petro TNC Internasional berlangsung pada 9 Agustus 2020 lalu. “Sedangkan fakta sebenarnya, PT Petro Indo Tank baru berdiri pada Februari 2021 lalu. Ini sesuai dengan daftar di Dirjen AHU. Jadi dibuat seolah-olah Itu (PT Petro Indo Tank) sudah berdiri,” terang pria yang akrab disapa Rofiq tersebut.

Sedangkan klausa didalam Akta Perjanjian Kerja Sama Nomor 457 Tanggal 9 Agustus 2020, disebutkan bahwa PT Petro TNC Internasional telah menerima uang sebesar Rp 50 miliar dari PT MGRM. Guna mengakusisi saham sebesar 10 persen PT Petro Indo Tank, untuk membangun proyek tangki timbun dan terminal BBM.

Saksi menjelaskan, PT Petro TNC Indo Tank yang didirikan pada 18 Februari 2021 lalu, dibentuk oleh PT Petro TNC Internasional bersama Samos dan MKM (Wira) dari Malaysia. Dengan modal dasar sebesar Rp 3 miliar.

“Saat kami tanya kenapa dibuat akta padahal PT Petro Indo Tank belum berdiri. Jadi diungkapkan saksi bahwa Komisaris PT MGRM dibuat seolah-olah setuju dengan adanya investasi sebesar Rp 50 miliar untuk akusisi saham PT Petro Indo Tank,” jelasnya.

Dikatakan Rofiq, Komisaris PT MGRM seolah-olah dibuat menyetujui untuk mengakuisisi saham PT Petro Indo Tank. Pada saat terdakwa Iwan Ratman mengajukan usulan dari hasil study keekonomian.  Kala itu terdakwa menawarkan opsi ke Komisaris, apabila PT MGRM menanamkan saham senilai Rp 50 miliar ke PT Petro Indo Tank maka PT MGRM akan mendapatkan pembagian saham gratis sebesar Rp 180 miliar. Serta mendapatkan keuntungan pertahunnya sebesar Rp 130 miliar. “Jadi yang disampaikan saat itu baru study. Sedangkan seharusnya, kata saksi komisaris sebelumnya, tidak bisa cukup sampai disitu,” tambahnya.  Seharusnya study itu harus ada tindak lanjutnya. Seperti yang dituangkan dalam RKAP dan RUPS. “Tapi hanya dengan itu, dijadikan pegangan terdakwa seolah komisaris setuju. Padahal tidak seperti itu,” lanjut Rofiq.

Sehingga dari kejanggalan di dalam akta perjanjian pembelian saham itulah, Korps Adhyaksa menyimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa Iwan Ratman. Selanjutnya, giliran Isman Sulistiyanto selaku Kepala Cabang Bank Mandiri KCP Jakarta Pertamina yang dimintai keterangan.

Di dalam persidangan, saksi membenarkan bahwa terdakwa telah membuka rekening Giro PT Petro TNC Internasional. Serta membenarkan adanya aliran dana sebesar Rp 50 Miliar dari PT MGRM ke Rekening PT Petro TNC Internasional secara bertahap. “Uang yang ditransfer pertama sebesar Rp 10 miliar, yang diakui terdakwa sebagai pinjaman untuk PT Petro TNC Internasional. Kemudian Rp 40 miliar dikirim melalui sistem Mandiri Cash Management secara bertahap,” ucapnya.

“Uang itu dialirkan secara bertahap mulai dari Juni hingga November 2020 dengan total Rp 40 miliar. Sehingga bila dijumlahkan totalnya ada Rp 50 miliar yang mengalir ke PT Petro TNC Internasional,” sambungnya.

Masih Rofiq, dikatakannya bahwa pihak turut memertanyakan, sisa uang yang ditransfer terdakwa dari rekening PT MGRM ke PT Petro TNC Internasional. Disebutkan, bahwa dari total transfer sebanyak Rp 50 miliar, hanya menyisakan saldo Rp 501 juta di rekening PT Petro TNC Internasional.

“Dari dana yang tersisa itu kita kemudian melakukan pemblokiran dan penyitaan. Kemudian pada tahap dua lalu kami jadikan sebagai alat bukti. Jadi Rp 50 miliar yang mengalir hanya sisa segitu saja,” katanya.

Saksi kemudian kembali mempertanyakan perihal bergeraknya uang sebesar itu dari rekening PT Petro TNC Internasional. Disebutkan bahwa terpantau adanya penarikan cash sebesar Rp 15 miliar. Dengan menggunakan spesimen tanda tangan cek dari dua orang.

Kedua spesimen tanda tangan itu kepemilikan Iwan Ratman dan Alvin Mahesa Dika, keponakan terdakwa selaku direktur oprasional di PT Petro TNC Internasional. Kendati demikian, kebanyakan hanya terdakwa sendiri yang mencairkan uang tersebut dari rekening PT Petro TNC Internasional.

“Karena dia yang mengelola uang itu semuanya, sedangkan keponakan hanya bertanda tangan spesimen. Jadi ini ibarat kirim uang antar rekening dari Iwan ke Iwan. Karena PT MGRM spesimen tanda tangan Iwan dan PT Petro TNC Internasional juga dia. Karena dia yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan dan menggunakan uang itu,” ucapnya.

Rofiq menambahkan, sidang kembali dilanjutkan pada Kamis (7/10/2021) mendatang. Masih dengan agenda pemeriksaan keterangan saksi. “Kami rencananya akan menghadirkan saksi Alvin selaku direktur oprasional PT Petro TNC Internasional,” pungkasnya. (aaa/boy)

Leave A Reply