Dihantui Arwah Juwanah, Sopir Pembunuh Rekan Kerja Menyesal

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Satreskrim Polresta Samarinda membeberkan hasil penyelidikan kasus pembunuhan perempuan cantik bernama Juwanah alias Julia (25). Dalam rilisnya, Korps Bhayangkara menghadirkan pelaku tunggal pembunuhan berinisial RS. Rekan kerja korban.

Kronologi hingga motif dibalik kasus pembunuhan perempuan asal Kecamatan Muara Ancalong Kutai Timur itu disampaikan langsung oleh Wakil Kepala Polresta Samarinda AKBP Eko Budiarto pada Senin (27/9) sore di halaman Mapolresta Samarinda.

Lebih dalam disampaikan AKBP Eko Budiarto, dari hasil penyidikan diketahui bahwa kasus ini merupakan murni pembunuhan berencana disertai pencurian. RS yang ditetapkan sebagai pelaku tunggal mengaku kepada polisi, tega menghabisi rekan kerjanya itu hanya untuk mencuri barang-barang korban.

“Korban dan pelaku ini saling kenal. Mereka kerja ditempat yang sama di sebuah perusahaan jasa keuangan. Pelaku kerja sebagai sopir, sedangkan korban dibagian marketing. Korban ini sering diantarkan pelaku disaat bertugas,” terang Mantan Kasat Intel Polresta Samarinda tersebut.

Eko sapaan karib polisi dengan dua melati dipundaknya itu, mengatakan, pembunuhan yang dilakukan RS terhadap Juwanah terjadi pada 5 September lalu. Saat itu korban menghubungi RS minta untuk diantarkan bertemu seorang nasabah. Permintaan yang dikabulkan itu, disusupi niatan jahat RS untuk mencuri barang korban. RS yang sudah berniat untuk membunuh lantas mampir ke minimarket untuk membeli pisau dapur. Setelahnya menjemput korban di rumah kontrakannya di Jalan Anang Hasyim, Kecamatan Samarinda Ulu.

“Jadi setelah korban ini meminta tolong kepada pelaku untuk diantarkan bertemu dengan salah satu nasabahnya. Saat itulah pelaku langsung berniat untuk membunuh agar dapat mengambil barang-barang korban,” bebernya.

RS yang datang menjemput korban dengan mengendarai mobil perusahaan, lalu sempat mengajak korban berkeliling. Rupanya kala itu, RS sedang mencari tempat sepi untuk bisa beraksi.

Kesempatan terjadi ketika keduanya melintas di Jalan Kadrie Oening, tepatnya di SMA Negeri 1. RS menghentikan mobilnya dan langsung menyerang Juwana dengan cara memiting bagian kepala lebih dahulu.

Perbuatan RS kala itu sempat mendapatkan perlawanan dari korban dengan cara menendang kaca mobil hingga pecah. RS lantas mengambil pisau yang sebelumnya disembunyikan di dashboard dan menghujamkan tepat dipundak Juwanah sebanyak dua kali.

Akibat menerima tikaman itu korban langsung tak berdaya. Namun masih bisa menjerit kesakitan. Agar suara Juwana tak terdengar orang, RS langsung memacu kendaraannya mengarah ke Jalan P Suryanata.

Juwanah yang kembali menjerit kesakitan kemudian mendapatkan tikaman sekali lagi tepat diperutnya. Bahkan RS menghantam beberapa kali dengan menggunakan sikutnya tepat diwajah Juwanah.

“Tusukannya, sebanyak dua kali di bahu dan satu di perut. Setelah menusuk korban, pelaku menggunakan tali untuk mengikat korban agar tetap duduk tegak. Dan beberapa kali menghantam dengan cara disikut beberapa kali,” ucapnya.

Selanjutnya, RS menuju Jalan Poros Samarinda-Tenggarong untuk membuang Juwanah yang sudah dalam keadaan sekarat bersimbah darah. “Saat korban dibuang kondisinya masih hidup tapi sudah sekarat. Sementara barang yang diambil dari korban ada dua Handphone, perhiasan cincin, gelang dan anting,” ujarnya.

Masih Eko menyampaikan, dari hasil penyelidikan belum ditemukan adanya unsur keterlibatan orang lain dalam pembunuhan tersebut. “Sampai saat ini pelaku pembunuhan masih tunggal. Kita masih proses pengembangan dan Penyelidikan,” jelasnya.

Sejauh ini ada dua orang saksi yang dimintai keterangannya. Sedangkan untuk motif percintaan, dipastikan tidak ada. Pembunuhan ini ditegaskannya murni pencurian.

“Cuman memang pelaku sempat menginginkan barang korban dengan cara memberikan perhatian ke korban. Tapi berujung pada bagaimana cara agar bisa segera memiliki barang korban secepatnya (membunuh),” tegasnya.

Untuk barang yang dicuri belum sempat dijual oleh RS. Bahkan Handphone hasil curian dititipkan RS ke orangtuanya. “Handphone dititipkan ke ibunya, bukan dikasih. Selain itu ada uang korban di dompet Rp 500 ribu yang juga diambil,” tuturnya.

RS diketahui telah memiliki istri dan anak. Sedangkan Juwanah merupakan janda yang sudah pernah menikah siri dan memiliki satu anak. “Korban Bekerja di perusahaan itu sejak 2018 kalau pelaku 2013,” ucapnya.

Disinggung mengenai apakah ada unsur pemerkosaan, Eko mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman. Akibat perbuatannya, RS dijerat polisi dengan pasal 340 dan Pasal 365 subsider 338 tentang Pembunuhan berencana serta pencurian. “Ancamannya penjara seumur hidup,” pungkasnya.

Dihantui Arwah Juwanah

Terpisah RS yang dimintai keterangan oleh awak media, mengaku, niat untuk membunuh seketika muncul saat dirinya diminta untuk mengantarkan korban bertemu dengan nasabah. “Saya (membunuh) saat mengantar (korban) tugas ke tempat nasabah. Korban saat itu minta diantar. Niat muncul karena ada keperluan ekonomi,” ungkapnya.

RS menegaskan bahwa tidak ada unsur percintaan dibalik tindakan kejinya. Setelah membunuh, sempat ada muncul niatan RS untuk memperkosa Juwanah. Namun hal itu tidak jadi dilakukannya lantaran takut kejahatannya diketahui orang. “Tidak ada (suka), cuman murni motif mau ambil barangnya. Sempat ingin memperkosa tapi tidak jadi,” ucapnya. “Pisau saya beli harga Rp 18 ribu, saya beli baru berangkat. pisau saya simpan di dashboard samping saya,” sambungnya.

RS mengatakan setelah menikam korban sebanyak tiga kali korban masih hidup. Lalu membuangnya ke semak belukar di Jalan Poros Samarinda-Tenggarong.

“Seingat saya tiga kali. Alasannya buang kesana biar tidak ketahuan. Korban sempat melawan makanya kaca sempat pecah. Kalau tali rafia saya gunakan untuk ikat korban di jok supaya tetap tegak,” imbuhnya.

Setelah membuang Juwanah, RS sempat pergi ke Tenggarong untuk mengisi bensin. Setelahnya dia kembali ke lokasi pembuangan tersebut, guna memastikan Juwanah benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.

“Ke Tenggarong ngisi bensin, saya sempat cek lagi sudah meninggal, Habis itu saya pulang ke rumah aja. Besoknya mobil saya cuci sendiri. Sama perusahaan saya ngakunya kaca pecah karena pecahan batu,” tuturnya.

Setelah membunuh Juwanah, RS sempat turun kerja seperti biasa. Namun setelahnya dia tidak lagi turun kerja karena dilanda ketakutan. RS mengaku sudah dua kali didatangi oleh arwah Juwanah. “Saya pernah didatangi (arwah) korban dua kali di rumah, pas lagi tidur. Kepada keluarga korban saya minta maaf dan menyesal, saya mohon maaf atas segala perbuatan saya ke pelaku,” pungkasnya. (aaa/boy)

Leave A Reply