Yusan: Unmul Harus Setara UI Agar Bersaing untuk IKN Baru

Publik Kalimantan Timur bersepakat. Jika Ibu Kota Negara (IKN) jadi dipindah ke Bumi Etam. Sumber daya manusia (SDM) lokal harus bisa bersaing. Minimal dengan ASN yang didatangkan dari Jakarta. Untuk bisa bersaing, tentu sektor pendidikan harus sangat diperhatikan. Karena, bagaimana bisa bersaing kalau background pendidikannya belum bisa bersaing. Karena itu, Unmul diharapkan bisa naik kelas. Kalau bisa, setara dengan UI.

OLEH : AHMAD AGUS ARIFIN

TIDAK bisa tidak. Kaltim harus mulai bertindak ke level sangat serius untuk menciptakan iklim pendidikan yang berkualitas. Tidak lagi terlena pada pemikiran, ‘enggak papa ketinggalan dengan Jawa’.Karena jika pusat pemerintahan berdiri di atas tanah Borneo. Maka SDM lokal sudah harus berstandar nasional, paling minimal.

Praktisi pendidikan sekaligus pendiri Yayasan Bunga Bangsa, Yusan Triananda sepakat soal itu. Bahkan jauh sebelum wacana pemindahan IKN. Ia bersama sang ayah, mendiang H. Rusli sudah getol menciptakan wadah pendidikan berstandar internasional. Melalui Yayasan Melati dan Bunga Bangsa.

Semangat menciptakan sekolah unggulan ini, tak lain adalah amanah dari Gubernur Kaltim kedelapan, Muhammad Ardans. Yang gelisah, karena untuk dapat bersaing di kancah nasional atau bahkan di lingkup Kaltim sendiri. Anak-anak Kaltim harus bersekolah atau berkuliah di Tanah Jawa.

“Minimal, kita harus punya satu SMA (sederajat), dan perguruan tinggi unggulan ketika IKN dipindah ke sini,” ucap Yusan secara ekslusif pada nomorsatukaltim.com – Disway News Network (DNN), Selasa, 7 September 2021 lalu.

Status unggulan yang dimaksud Yusan adalah sudah memiliki standar internasional. Untuk kategori sekolah, sebenarnya sedari SD hingga SMA sederajat, harus ada yang berstatus unggulan. Namun mengapa titik beratnya di SMA/SMK, karena memiliki keterkaitan langsung dengan dunia kerja.

Soal bertaraf internasional, jika sulit menciptakan di sekolah negeri. Karena berpatokan dengan kurikulum nasional. Sehingga memiliki banyak sekat untuk melakukan manuver. Pemprov Kaltim bisa mendorong status unggulan ini ke sekolah swasta.

“Banyak sekolah swasta bagus di Kaltim yang bisa lebih dikembangkan. Satu di antaranya Bunga Bangsa,” ujarnya sembari tertawa.

Lalu untuk tingkat perguruan tinggi, Universitas Mulawarman (Unmul) punya atribut yang lengkap untuk paling tidak setara dengan kampus-kampus besar di Pulau Jawa. Jika patokannya adalah ibu kota negara, maka Unmul harus setara Universitas Indonesia (UI).

“Kalau bisa (setara UI). Itu juga kan yang mereka (Unmul) canangkan,” tegasnya.

unmul

Jangan sampai, kata Yusan, ASN yang diboyong dari Jakarta untuk mengisi pos di pemerintahan pusat memandang rendah kualitas pendidikan di Kaltim. Sehingga mereka hanya bekerja dan tinggal saja di Benua Etam. Sementara urusan pendidikan anaknya, tetap mengandalkan Jakarta. Atau kemungkinan lainnya, akan ada dorongan untuk membangun universitas baru yang setara UI di kawasan IKN Baru.

“Kan ada rencana membangun kampus lagi, yang setara UI. Kalau bisa itu dihindari. Unmul harus maju dan bilang, “No! Sekarang apa yang Anda cari, kami ada.” Mestinya begitu,” lanjutnya.

Selain akan menyerap anggaran besar untuk membuat kampus berkualitas top. Dampak lainnya jika ada universitas baru di kawasan IKN adalah, fasilitas pendidikan yang sudah puluhan tahun dibangun di Kaltim jadi tidak memiliki nilai. Jadi ketimbang membangun ulang, Yusan berpendapat akan lebih efektif dan efisien jika membesarkan yang sudah ada saja.

Pun dari internal, Unmul harus berorientasi menyentuh standar internasional. Toh, pondasi Unmul sebagai perguruan tinggi besar sudah kuat. Mulai dari bangunan hingga SDM-nya. Tinggal menyempurnakan saja.

Beberapa hal yang disarankan dikuatkan oleh Unmul adalah tingkat partisipatif penelitian. Dari tataran mahasiswa hingga dosen, mesti punya banyak penelitian dan terukur secara output atau produk. Menjadi lebih bagus ketika penelitian itu mendorong kemajuan sumber daya alam (SDA) yang sudah ada di Kaltim.

Seperti pengolahan energi terbarukan dari kelapa sawit, pengolahan produk turunan yang ramah lingkungan dari batu bara. Atau hal lain di bidang agraria, perikanan dan kelautan, serta kehutanan.

“Tidak perlu semua jurusan, ambil saja beberapa untuk dikuatkan lagi,” usulnya.

Tak hanya terfokus di bidang eksakta saja. Di jurusan sosial pun sangat mungkin untuk dikembangkan. Hukum dan Fisipol (Ilmu Politik) misalnya. Jebolan dari jurusan ini bahkan bisa langsung mengambil pos-pos di pemerintahan. Baik di eksekutif maupun legislatif.

Pria lulusan Technical University of Dortmund, Jerman itu mencontohkan, Unmul setidaknya bisa meniru Universitas Gajah Mada (UGM) yang sudah memiliki jurusan internasional. Bukan konsentrasi ajarnya, namun jurusan yang sama, semisal Fakultas Hukum, dibagi menjadi dua. Satu bertipe konvensional, satu lagi diajarkan menggunakan bahasa Inggris.

Bukan untuk gaya-gayaan. Namun itu adalah langkah awal UGM bekerja sama dengan universitas top asal Eropa dan Amerika. Untuk di semester tertentu, dalam setahun, mahasiswanya akan ditransfer ke universitas luar. Berkuliah dengan standar kurikulum sana.

“Mahasiswanya tetap di Indonesia. Hanya mengikuti perkuliahan secara daring. Namun mengikuti standar kampus luar sampai ke tugas-tugasnya,” tutur Yusan yang anaknya sendiri mengikuti kelas hukum dari salah satu  universitas di Eropa dari Yogyakarta (mahasiswa UGM).

Strategi semacam itu, selain dapat mengangkat grade Universitas Mulawarman. Secara biaya pun jadi lebih murah. Karena tidak perlu mengirim mahasiswa ke luar negeri, mendatangkan dosen luar negeri, atau pun membangun laboratorium bertaraf internasional. Terlepas Unmul kini sudah memili beberapa bangunan lab mutakhir.

“Unmul ini kurang apa lagi? Lengkap sudah. Tapi memang harus kita akui secara umum pendidikan kita berada di bawah Jakarta. Nah, momentum IKN ini harus menjadi alasan mengapa pendidikan kita harus jauh ditingkatkan lagi (oleh pemerintah),” ujarnya.

Pun apabila memang diharuskan membuat kampus baru, Yusan berharap bahwa kampus itu adalah untuk Unmul. Sehingga apabila tidak bisa menjadikan Samarinda sebagai pusat pendidikan negara yang baru. Tetap Unmul yang mengambil alih kampus baru tersebut. Dengan tetap mempertahankan kampus yang ada di 4 titik di Samarinda saat ini.

Pada akhirnya, Yusan mengungkapkan jika benar ingin mewujudkan SDM yang siap bersaing. Jangan hanya berhenti di ujung bibir saja. Harus ada implementasinya langsung. Terlebih soal pendidikan yang menjadi gerbong tercetaknya SDM berkualitas. Pemerintah bersama insan pendidikan (negeri dan swasta) harus memiliki frekuensi yang sama. Dalam hal peningkatan kualitas pendidikan di Kaltim. Sekali lagi, tidak bisa tidak. AVA

Leave A Reply