HLMetropolis

Pro-Kontra Kebiri Kimia

Penerapan kebiri kimia bagi pelaku kekerasan seksual memang sudah dipastikan melalui Peraturan Pemerintah (PP) 70/2020. Namun pro-kontra masih terus membayangi pelaksanaannya.

nomorsatukaltim.com – IKATAN Dokter Indonesia (IDI) dengan tegas menolak menjalankan regulasi itu. Ketua IDI Balikpapan, dr Dradjat Witjaksono mengatakan, jika hal ini diserahkan kepada IDI, maka pihaknya menolak melaksanakan eksekusi hukum kebiri kimia ini.

“Kalau secara hukum kami bukan pakarnya. Tapi kebiri ini siapa yang mau melaksanakannya? Karena dokter ini terikat sumpah,” ujarnya, Rabu (13/1/2021).

Lanjut Dradjat, penolakan yang disebut dapat melanggar kode etik adalah dalam sumpah dokter. Dalam sumpahnya, tertera profesi dokter untuk menyelamatkan hidup dan mengurangi penderitaan orang. Bukan justru menyiksa orang.

Baca Juga

“Kita disumpah untuk menyelamatkan hidup orang, mengurangi penderitaannya. Lah, masa ini justru membuat seseorang menderita?” jelasnya.

Dalam penerapan hukum kebiri kimia ini, Dradjat menerangkan, seseorang yang telah disuntik hanya mengalami disfungsi ereksi. Namun, nafsu birahinya masih ada.

“Kalau dikebiri itu hanya menahan, mengurangi atau mengakibatkan disfungsi ereksi, dia tidak bisa ereksi. Tapi keinginan atau naluri itu tetap. Jadi nafsunya masih, tapi tidak bisa menyalurkan,” tegasnya.

Disebutkan Dradjat, hingga hari ini tidak akan ada dokter di bawah naungan IDI yang menjadi eksekutor suntik kebiri kimia.

“Saya rasa tidak ada dokter yang mau melaksanakannya. Termasuk dokter TNI-Polri juga, karena pasti mereka disumpah dan di bawah IDI juga,” ujarnya.

Sebelum PP ditandatangani, IDI sudah mengajukan keberatan terhadap pemerintah pusat. Namun, hal yang disampaikan IDI tidak diindahkan. Menurut Ketua IDI Balikpapan, jika ingin menerapkan aturan hukum kebiri tersebut, sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak memegang teguh sumpah dokter.

“Kami sih tidak mempermasalahkan adanya aturan atau hukum tersebut, asalkan pelaksanaannya (eksekutornya) bukan dokter, karena kami ada sumpah,” ujarnya.

“Jadi silakan saja yang bukan dokter. Tenaga medis yang bukan dokter yang tidak ada sumpahnya. Karena kita enggak boleh suntik kebiri kimia ini, itu malah membuat orang sakit, melanggar sumpah kita,” tambahnya.

Meski IDI sebagai organisasi profesi dokter menolak mengeksekusi kebiri kimia ini, nyatanya dukungan terhadap hukuman ini mengalir dari para pejabat. Di Balikpapan, dukungan kebiri kimia disampaikan Ketua DPRD, Abdullah.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button