HLMetropolis

Pindah Ibu Kota, Kualitas SDM di Daerah Tidak Boleh Kalah

Budiman (Istimewa)

Samarinda, DiswayKaltim.com – Pemindahan ibu kota negara ke Kaltim akan membawa dampak politik yang sangat besar bagi provinsi yang kaya sumber daya alam tersebut. Hal ini dikatakan pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Budiman.

“Posisi tawar Kaltim ini akan sangat tinggi nantinya di pusat. Setidaknya dalam pengambilan kebijakan, otomatis akan menguntungkan bagi Kaltim,” ucapnya.

Baca Juga

Dia menegaskan, puncak kekuasaan di Indonesia pun dapat diraih putra-putri Bumi Etam. Hanya saja hal ini memiliki syarat. Sumber daya manusia (SDM) di Kaltim harus memiliki kualifikasi untuk menempati jabatan-jabatan strategis di pusat.

Karena itu, Budiman menyarankan masyarakat Kaltim mengambil pelajaran dari orang-orang Betawi. Masyarakat Betawi menurut dia jarang menempati jabatan strategis nasional. Perwakilan Betawi yang menduduki jabatan penting dapat dihitung dengan jari.

“Karena dilihat dari sisi SDM-nya, mohon maaf saya katakan kurang dibandingkan yang lain. Jakarta dikuasai oleh siapa? Kembali lagi kepada SDM Kaltim. Apakah siap atau tidak?” sebutnya.

Kata dia, kini Kaltim belum memiliki wakil yang menjabat sebagai menteri. Pemindahan ibu kota negara dapat dijadikan peluang bagi tokoh-tokoh Kaltim untuk meraih jabatan tersebut.

Sejatinya saat ini Kaltim telah memiliki sejumlah tokoh yang berlevel nasional. Dia menyebut tokoh seperti Nurdin, Awang Faroek Ishak, dan Isran Noor, layak dijadikan tokoh nasional.

“Artinya, pak Isran itu ke depan bisa didorong untuk menjadi menteri. Ada beberapa orang lagi yang punya potensi. Pak Awang Faroek juga levelnya sudah nasional. Cuma persoalan kesehatan saja yang kita khawatirkan,” katanya.

Selain itu, pemindahan ibu kota negara akan berdampak pada konstalasi politik di level partai. Jika sebelumnya Jakarta dijadikan sentral pertarungan tokoh politik memperebutkan kekuasaan di partai, setelah ibu kota negara dipindah ke Kaltim, maka daerah ini akan menjadi medan baru.

“Kembali lagi ke tokoh-tokoh Kaltim, apakah mereka mampu membangun komunikasi politik pada level sentral kekuasaan di negara atau partai? Ini poin pentingnya,” imbuh Budiman. (qn/boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button