Metropolis

Hadi Mulyadi Sambangi Para Korban Banjir

Wagub saat menyambangi korban banjir dan memberikan nasi kotak untuk warga. 

Samarinda, DiswayKaltim – Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi kembali turun ke beberapa titik banjir di Samarinda, Rabu (12/6/2019).

Setelah sebelumnya (11/6/2019), orang nomer dua di Benua Etam tersebut blusukan ke korban banjir di kawasan Samarinda Utara. Kali ini, giliran mengunjungi korban banjir di Kelurahan Sidodadi, dilanjutkan ke Ruhui Rahayu, Jalan Gelatik dan Jalan Pipit.

Baca Juga

Selain berjumpa dengan masyarakat, Hadi Mulyadi juga menyempatkan diri mendatangi beberapa posko banjir, dapur umum yang dibuat oleh personel TNI dari Yonif 611/Awl, serta Gedung PKK Samarinda yang merupakan tempat pengungsian dan pemeriksaan kesehatan bagi korban banjir.

Dengan berjalan kaki, Wakil Gubernur Kaltim itu membagikan makan siang kepada korban bencana alam. Tidak hanya memberikan makan siang, dia juga memberikan dukungan moril kepada masyarakat agar tetap semangat menjalani musibah yang dihadapi.

“Ini kan biar masyarakat merasa gembira, kalau distribusi kan sudah melalui posko-posko relawan. Kunjungan ini lebih pada menyapa masyarakat,” kata Hadi Mulyadi.

Hadi mengaku, bencana alam yang menimpa Ibu Kota Kaltim ini merupakan banjir terbesar setelah 1998. Banjir yang terjadi saat ini, tambahnya sebanyak 36 ribu masyarakat dari 12 ribu kepala keluarga yang menjadi korban banjir.

“Masyarakat Samarinda sudah terbiasa menghadapi banjir. Hanya ini merupakan banjir terbesar setelah sebelumnya pernah juga terjadi di 1998,” ungkapnya.

Disinggung mengenai ketidakhadiran Wali Kota Samarinda di tengah musibah yang dihadapi masyarakatnya, Hadi hanya menjawab pentingnya seorang wakil Walikota untuk mem-backup jika pimpinannya tidak ada di tempat.

“Saat ini, Gubernur lagi berhalangan, kan ada saya. Itulah pentingnya wakil. Makanya punya wakil,” cetus Hadi Mulyadi.

Sementara itu, Ketua Posko Icare, M Amin mengatakan, saat ini yang masih dibutuhkan oleh masyarakat selain makanan, juga obat-obatan seperti P3K dan obat kulit.

“Kami butuh pendamping dokter juga. Pasalnya, ada masyarakat yang kena tekanan. Kami gak berani berbuat lebih tanpa resep dari dokter,” cetusnya. (mfy/dah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button