Mantap, Vaksinasi di Balikpapan Tembus 53 Persen

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Progres vaksinasi di Kota Balikpapan kini sudah mencapai 53,4 persen. Hal ini memastikan bahwa satu lagi indikator kesehatan memenuhi kriteria penurunan level kebijakan pembatasan. Karena seperti diketahui, saat ini Kota Beriman masih berstatus PPKM Level 4.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan Andi Sri Juliarty membeberkan data capaian kumulatif vaksinasi tersebut. Dosis 1 vaksinasi telah di suntikkan kepada 281,325 dari 526,955 sasaran.

Jumlah itu mencakup vaksinasi lansia sebanyak 19.961 orang, petugas publik sebanyak 125.296 orang, vaksinasi Sumber Manusia Kesehatan (SDMK) atau nakes sebanyak 7.591 orang, masyarakat rentan dan umum sebanyak 105.903 orang dan vaksinasi usia 12-17 tahun yang mencapai 22.574 orang.

Sementara capaian vaksinasi dosis kedua yakni 25,9 persen dan dosis ketiga, khusus nakes mencapai 73,9 persen. “Alhamdulillah capaian terakhir saya lihat (kemarin) mencapai 53,4 persen,” ujarnya.

Dengan demikian, herd immunity atau kekebalan komunal di Balikpapan mampu mencapai target yang telah ditentukan Diskes, yakni hingga akhir tahun bisa mencapai 80 persen.

Dirut Rumah Sakit Konujoso Djatiwibowo rd Edy Iskandar sebelumnya juga meyakini bahwa herd immunity di Balikpapan sudah terbentuk. Karena indikatornya bukan hanya pada kesuksesan percepatan vaksinasi, melainkan juga disebabkan banyaknya warga yang terinfeksi virus asal Wuhan itu, baik disadari maupun tidak disadari.

“Jadi untuk itu PPKM di Balikpapan kemungkinan besar sudah bisa turun ke level tiga, bahkan ke level dua,” katanya.

Seperti diketahui, Balikpapan masih menyandang predikat daerah yang menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4. Lantaran Pemerintah Pusat memandang demikian. Beberapa indikator ditambahkan antara lain vaksinasi yang mesti melampaui 50 persen cakupan, aglomerasi dan jumlah penduduk.

Pengamat kebijakan publik sekaligus Rektor Universitas Mulia Agung Sakti Pribadi menilai, yang dibutuhkan oleh warga Balikpapan saat ini adalah peraturan yang jelas terkait kriteria dan indikator untuk menentukan suatu daerah, apakah bisa dikategorikan masuk dalam wilayah Level 1 sampai Level 4.

“Dengan adanya indikator yang jelas dan tertulis maka semua kepala daerah akan lebih terarah dan fokus menurunkan level Covid di daerah masing-masing,” ujarnya dihubungi, baru-baru ini.

Kemudian, kejelasan distribusi kebijakan juga diperlukan serta seberapa besar kewenangan daerah untuk ikut menentukan kebijakan pembatasan, disebutnya sangat diperlukan.

“Seberapa besar kepala daerah dilibatkan dan diberi wewenang untuk menetapkan level daerahnya masing-masing,” lanjutnya.

Kemudian Agung juga menyoroti arus lalu lintas orang, khusus dari sisi penerbangan luar negeri. “Jika penerbangan luar negeri masih dibuka dan petugas tidak ketat melakukan karantina, maka berpeluang muncul varian baru dari luar masuk ke Indonesia,” urainya.

Kekhawatirannya terhadap lalu lalang orang dari luar negeri, berdasar jumlah kasus pada Juli lalu. Di mana Varian Delta yang sudah masuk ke Balikpapan, menjadi gelombang penyebaran virus yang mengkhawatirkan.

“Masyarakat yang terpapar hingga meninggal di bulan Juli dan Agustus sangat tinggi, mungkin yang tertinggi di dunia, rata-rata 30 orang meninggal (per hari). Untuk kota kecil dengan penduduk sekitar 700 ribu, maka tingkat kematian harian di bulan Juli, bisa jadi tingkat kematian tertinggi di dunia,” urainya.

Untuk itu, Ia berharap kepala daerah sebaiknya melakukan pengetatan wilayah di daerahnya masing-masing, dengan mengisolasi siapa saja yang baru tiba dari luar negeri. (ryn/ava)

Leave A Reply