HLLaporan Khusus

Kabupaten Samarinda Seberang: Antara Harapan Rakyat dan Modal Politik

Wacana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di wilayah Samarinda Seberang kembali digelorakan. Desas-desus pemekaran wilayah di Ibu Kota Provinsi Kaltim itu memang selalu muncul tatkala pesta demokrasi. Seperti biasanya, wacana itu bakal kembali tenggelam. Bersamaan dengan janji-janji dari para politisi. Layakkah Samarinda Seberang menjadi daerah baru? Bagaimana awal mulai tuntutan pemekaran?

Arditya Abdul Aziz, Pewarta

nomorsatukaltim.com – ISU pemekaran wilayah Samarinda Seberang kembali menghangat. Sejumlah tokoh masyarakat kembali meminta dukungan legislatif, untuk meloloskan keinginan ‘pisah ranjang’ dari Ibu Kota Provinsi.

Berbicara tentang pemekaran Samarinda, tak bisa lepas dari sosok Rusdiansyah Rais. Bekas aktivis ini sudah bersuara sejak 1999. Tepat setahun setelah reformasi meletup di Jakarta. Bersamaan dengan lahirnya UU Otonomi Daerah.

Menurut Rusdiansyah Rais, kembali hangatnya isu pemekaran wilayah memang strategis. Apalagi bersamaan dengan hajatan Pilkada. Isu ini, menurut Rais, kerap dipakai sebagai alat politisi yang sedang mendulang suara.

Baca juga: Gerakan Pejuang DOB Samarinda Seberang Tagih Janji Wali Kota Baru

“Mereka-mereka (Politisi) akhirnya menjadikan itu sebagai modal politik. Sebuah isu strategis, untuk mengambil perhatian masyarakat di Samarinda Seberang. Itulah yang kami simpulkan. Karena ketika mereka menjadi anggota dewan, tidak akan ada lagi yang berani membahas sedikit pun tentang Daerah Otonomi Baru,” ungkap Koordinator Gerakan Rakyat Bersatu Pejuang DOB Kabupaten Samarinda Seberang itu.

Bahkan dalam perjuangan menggolkan pemekaran pun, terjadi saling tikung. Terbukti kelompok ini pecah. Jaffar Abdul Gaffar, pendukung otonomi lainnya, menyatakan diri sebagai Ketua Forum Presidium DOB Samarida Seberang.

Untuk mengetahui latar belakang tuntutan Daerah Otonomi Baru (DOB), Sabtu 6 Maret 2021 lalu, saya menemui Rais di kedai kopi di Jalan M Yamin, Kecamatan Samarinda Ulu. Sebelum memulai pembicaraan, pria 46 tahun itu menyampaikan bahwa DOB Kabupaten Samarinda Seberang adalah “harga mati”.

Berikut penuturan Rais selengkapnya:

Latar belakang saya adalah aktivis di dunia pendidikan dan juga penggiat sosial. Saya juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan.

Untuk pekerjaan, saat ini saya menjabat sebagai kepala logistik, di sebuah perusahaan yang sedang terfokus dalam pembangunan bendungan di Sepaku, Penajam Paser Utara. Selain itu, sewaktu saya masih mahasiswa, saya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Saat ini saya diberi amanah oleh kawan-kawan, untuk menjadi Koordinator Gerakan Rakyat Bersatu Pejuang DOB Kabupaten Samarinda Seberang. Gerakan ini tergabung dari berbagai organisasi. Mulai dari organisasi masyarakat, organisasi kepemudaan hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Totalnya lebih dari empat puluh organisasi yang turut terlibat, secara masif dan aktif, selalu memberikan daya dukungan didalam Gerakan ini. Kelompok ini hadir dan terus eksis hingga saat ini. Dengan sangat lantang meneriakkan, demi terbentuknya DOB Kabupaten Samarinda Seberang.

Tentu gerakan ini memiliki sejarah panjang. Wacana pemekaran daerah baru di Ibu Kota Kaltim ini, berangkat dari keresahan Masyarakat Samarinda Seberang. Kami merasa kurang puas. Akibat dari ketidakadilan pembangunan yang tak merata. Sedangan kami masyarakat di kawasan Samarinda Seberang, adalah bagian dari Kota Samarinda

Sudah cukup lama kawasan kami ini seperti dianaktirikan. Kami selama ini hanya menjadi penonton, dari maraknya Pembangunan berbagai lini. Yang dimana hanya dirasakan di Kawasan Samarinda Kota saja

Mungkin lebih baik, sebelum saya melanjutkan cerita ini, dan agar pesan yang saya sampaikan lebih mudah untuk dicerna para pembaca. Saya akan sedikit membedakan, apa yang saya maksud Samarinda Seberang dan apa itu Samarinda Kota.

Baca juga: Otak-atik DOB Samarinda Seberang; Pernah Dilobi, Namun Enggan Dilepas Bupati

Kota Samarinda ini dibelah oleh Sungai Mahakam. Sehingga membuatnya menjadi dua Kawasan. Yang saya sebut sebagai Samarinda Kota itu, adalah kawasan yang menjadi sebuah pusat pemerintahan. Di kawasan ini terdapat Kantor Gubernur Kaltim dan Balai Kota Samarinda. Saya menyebutnya Kawasan Samarinda Kota. Daerah ini terdiri dari tujuh Kecamatan.

Sementara Kawasan Samarinda Seberang itu, terdiri dari tiga kecamatan. Yaitu Kecamatan Samarinda Seberang, Kecamatan Palaran dan Loa Janan Ilir. Mungkin agar tidak membingungkan, lebih baik saya persingkat saja sebutan untuk di kawasan tempat tinggal saya ini. Mungkin lebih baik menyebutnya hanya dengan ‘Seberang’ saja.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button