HLLaporan KhususMahulu

Kebun Cokelat Makin Sekarat

Kakao pernah menjadi salah satu komoditi perkebunan andalan Kalimantan Timur. Namun dalam sepuluh tahun terakhir, produktivitas daerah ini terus merosot.

nomorsatukaltim.com – Selain sawit dan karet, kakao pernah menjadi andalan Benua Etam. Hasil perkebunan ini diekspor ke Sabah, Malaysia, maupun Amerika Serikat melalui Makassar, Sulawesi Selatan.

Kabupaten Mahakam Ulu salah satu daerah penghasil kakao dengan kualitas unggul. Bisa dibilang sangat memenuhi syarat menjadi sentra kakao di Indonesia.

Pertama karena kondisi alam perbukitan yang cocok dengan karakteristik kakao. Kemudian lahan yang sudah cukup luas, serta ketersediaan tenaga kerja. Kebun kakao Mahulu terhampar di lima kecamatan. Yaitu Long Hubung, Laham, Long Bagun, Long Pahangai dan Long Apari.

Baca Juga

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, luas lahan kakao mencapai 1.499 hektare dengan kapasitas produksi 282 ton, atau 440 kilogram per hektare. Sementara jumlah petani yang terdata sebanyak 224 kepala keluarga.

Meski punya potensi yang bagus, perkebunan kakao di Mahulu menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya ketergantungan petani menjual biji cokelat kering kepada tengkulak.

“Di sini tidak ada pabrik pengolah yang mau beli biji kakao dari petani,” kata Samsul Bahri.

Pria 32 tahun ini dikenal sebagai salah satu tengkulak skala menengah. Warga Long Apari ini sudah cukup lama menjadi pengepul biji kakao kering dari petani. Walau begitu, Samsul berdalih pengepul kakao bukan pekerjaan utamanya. Ia memilih mengurus toko sembako.

Alasan utamanya, tidak ada daya dukung yang bisa berpotensi mengembangkan perkebunan ini. Selain soal pabrik, kendala yang dihadapi ialah infrastruktur, pengadaan bibit, serta pupuk. Semua hal itu menjadi penyebab menurunnya minat warga setempat menanam kakao.

Samsul menjadikan dirinya sebagai contoh. Meski sudah mengeluarkan biaya membuat gudang khusus berkapasitas 10 ton. Ia hanya membeli kakao kalau ada petani menjual langsung.

Sebagai tengkulak ‘pasif’, dalam sebulan Samsul bisa mengumpulkan 5-6 ton. Biji cokelat kering itu selanjutnya dijual ke Samarinda, yang tentu saja memerlukan ongkos yang tinggi. Tengkulak seperti Samsul tak berani menentukan harga beli ke petani. Ia mengikuti harga pasar yang ditentukan pabrik.

“Sekarang ini saya hanya berani membeli Rp 20 ribu per kilogram,” kata dia.

Sampai ke tangan pabrik, ia dihargai Rp 26 ribu sampai Rp 27 ribu. Ada selisih Rp 7 ribu. Tapi, selisih itu nyaris habis dijalanan. Biang keladinya ongkos transportasi yang tinggi.

Kalkulasinya, dari Long Apari ke Long Bagun, lalu ke Samarinda memakan ongkos Rp 2 ribu per kilogram. Maka dalam sekarung (50 kg) pengepul harus mengeluarkan biaya Rp 100 ribu. Saat air Mahakam surut, ongkos angkutnya lebih gila lagi. Biaya angkut longboat mencapai Rp 150 ribu setiap karungnya.

“Sekali naik kadang satu longboat muat 5 ton. Sulit melintasi riam, bertaruh nyawa,” ungkapnya.

Karena itu jika cuaca musim air Sungai Mahakam surut, harga kakao terjun bebas menjadi Rp 16 ribu per kilogram. Jika dirata-rata, pengepul mendapat keuntungan kotor Rp 2 juta -3 juta per ton. Itu belum dipotong ongkos angkut dan konsumsi selama perjalanan. Maka sebenarnya Samsul –juga pengepul lainnya- tak banyak mendapat keuntungan.

Mereka mengambil untung dengan berjualan sembako. Maka setiap ke Samarinda, dimanfaatkan belanja dagangan. Pernah suatu ketika, tergiur harga Sulawesi Selatan,  Samsul mengirim 10 ton ke daerah itu. Ia beli di Long Apari Rp 27 per kg, sampai di sana, pabrik hanya membeli Rp 28 ribu per kilogram.

“Bukan untung, tapi buntung. Normalnya, biaya total per ton dari Long Apari ke Sulsel Rp 3 juta sampai pabrik kakao di Makassar,” kisah Samsul. Gara-gara itu, Samsul kini lebih suka menjual kakao di Samarinda.

Menurut Samsul, biji kakao Mahulu memiliki kualitas terbagus di Indonesia. Oleh karena itu dia tak akan berpindah mengepul biji kakao di Mahulu.

“Sayangnya saat ini hasil kebun kakao di Long Apari belum merata. Penghasil terbesar hanya dua kebun.Yaitu punya Pak Rudi Walet dan satu lagi milik petani lainnya,” kata pria yang sudah 25 tahun tinggal di Mahulu.

Berbagai kendala ini sangat disayangkan Samsul. Padahal dengan kualitas kakao terbaik, potensi Mahulu bisa ditingkatkan. Karena itulah banyak petani berharap Pemkab Mahulu membangun pabrik pengolahan kakao kering. Baik yang dikelola sendiri oleh pemkab melalui perusda. Atau dengan menggandeng swasta.

Ketersediaan pabrik di Mahulu tentu dapat memangkas distribusi kakao kering. Juga dapat memotong ongkos. Sehingga harga yang diterima petani bisa lebih baik. Sementara dari sisi tengkulak. Berharap pemerintah memberikan subsidi ongkos angkut (SOA). Setidaknya untuk tengkulak dari pedalaman Mahulu seperti Long Apari dan kecamatan lain yang menggunakan transportasi air.

“Saya mohon bantuan SOA dari pemkab. Kalau ada SOA, saya akan naikkan harga beli. Selama ini belum dapat SOA. Sehingga harga beli tidak bisa naik,” tukasnya.

Solusi lainnya adalah membangun akses darat. Yang tentu juga akan memotong waktu dan ongkos distribusi. Walau memang, solusi terakhir ini sangat sulit untuk direalisasikan.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button