Berau

Syarifatul: Karena Rumah Sakit Hanya Satu

banner diskominfo kaltim

Permasalahan kerap terjadi di RSUD dr Abdul Rivai, diduga karena pelayanan kesehatan terfokus karena rumah sakit hanya satu di Berau.(Arjuna/DiswayBerau)

Tanjung Redeb, DiswayKaltim.com – Dikeluhkannya sistem antrean Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai Tanjung Redeb oleh calon pasien, mendapatkan perhatian dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau, Syarifatul Syadiah.

Menurutnya, permasalahan ini bukan hanya disebabkan kerusakan pada mesin, memaksa pihak rumah sakit menerapkan antrean manual bagi calon pasien rumah sakit.

Baca Juga

“Keluhan ini sudah lama terjadi, bukan kali ini saja,”katanya kepada awak media, Senin (13/8).

Lanjut politikus Partai Golongan Karya (Golkar) ini, pucuk permasalahan disebabkan Kabupaten Berau hanya memiliki satu RSUD di wilayah perkotaan. Sehingga, fokus pelayanan kesehatan hanya berada di satu titik.

“Salah satu solusinya, ya harus ada rumah sakit baru sebagai alternatif masyarakat yang akan berobat,” jelasnya.

Sari -sapaan akrabnya- juga menyetujui langkah pihak RSUD dr Abdul Rivai yang akan mengadakan mesin pencetakan nomor antrean baru. Sembari menunggu rencana Pemkab Berau, membangun rumah sakit.

“Bisa juga itu, pengadaan mesin untuk antrean,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur RSUD dr Abdul Rivai Tanjung Redeb, Nurmin Baso, tak membantah adanya keluhan terkait antrean dari calon pasien yang ingin mendapatkan pelayanan rumah sakit.

“Keluhan pasti ada. Permasalahan ini menjadi fokus kami untuk segera melakukan pembenahan. Terutama masalah antrean pelayanan,” kata Nurmin saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (12/8).

Wanita berhijab itu juga tak membantah, kerap terjadi kerusakan pada mesin antrean hingga menjadi penyebab tidak maksimalnya pelayanan kepada calon pasien. Selain faktor usia mesin antrean, kerusakan juga disebabkan calon pasien itu sendiri.

Calon pasien berebutan untuk menekan tombol mendapatkan nomor antrean, membuat mesin pencetak nomor antrean menjadi overload dan eror. Sehingga harus dilakukan perbaikan yang membutuhkan waktu.

“Kondisi di lapangan gitu. Sama seperti pengambilan antrean manual, masyarakat tidak mau antre lebih memilih berdesak-desakan dan berebutan demi mendapatkan nomor antrean,” terangnya.

Nurmin juga akan mengajukan penggantian mesin antrean rumah sakit di Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2019.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button