HL

PLTS Transisi Menuju Nuklir

Abdurachman Chered yakin jika muara dari program EBT itu adalah Nuklir. Tapi sebelum ke situ, pembangit listrik tenaga surya (PLTS) bisa mulai dikembangkan.

nomorsatukaltim.com – Rachman—sapaan Abdurachman, sudah lama menekuni bidang kelistrikan. Sebetulnya dia adalah sarjana teknik. Lulusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah, Jakarta. SLTA-nya juga jurusan mesin. Lulusan STM Dwi Cakti Bhakti, Bandung, Jawa Barat. Namun sejak lulus kuliah itu, ia lama berkiprah di dunia kelistrikan.

Pada 1987, Rachman sudah menjadi Supervisor Power Plant PT Kalimanis Group. Sampai tahun 2001. Jabatan terakhirnya sebagai Manajer Litbang. Setelah itu, Rachman yang asli kelahiran Balikpapan itu, bergabung dengan Perusda Ketenagalistrikan Provinsi Kalimantan Timur.

Sempat menjadi Direktur Operasional perusahaan daerah itu hingga 2012. Kemudian naik lagi menjadi Direktur Utama sampai 2020. Kini ia pensiun. Tapi tidak berhenti beraktivitas.

Baca Juga

“Saya mau seperti Mahathir Mohamad,” kelakarnya. Perdana Menteri Malaysia ke-4 dan ke-7 itu tetap produktif kendati usianya sudah 90 tahun lebih.

Nah, ketika ngobrol di Program Podcast Goodtime Disway Kaltim, pekan lalu, ia meyakini bahwa energi baru terbarukan (EBT) itu muaranya ya energi nuklir. Karena menurut dia, itulah energi yang dianggap paling ramah lingkungan.

Kok bisa? Bukannya teknologi nuklir saat ini belum bisa diterima oleh masyarakat? Jangankan menerima, baru mendengar isu akan dibangun pembangkit nuklir saja, sudah ramai-ramai menolak. Takut duluan.

Itu saat ini. Ke depan, dengan penemuan teknologi listrik baru dan pemahaman masyarakat yang semakin meningkat, katanya, bukan tidak mungkin energi nuklir akan diterima.

“Program PLTS ini nanti menjadi transisi menuju nuklir”.

PLTS Transisi Menuju Nuklir
Abdurachman Chered (kanan) dan Azmir Abu (tengah) ketika berbincang dengan tuan rumah Program Goodtime, Devi Alamsyah. (Dok/Nomor Satu Kaltim)

Menurutnya, EBT memiliki problem keberlanjutan dan kapasitas produksi energi listrik yang terbatas. Misalnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Teknologi ini hanya bisa dimanfaatkan di tempat-tempat tertentu saja. Saat ini, pembangkit listrik tenaga mikrohidro saja yang banyak digunakan di Pulau Jawa, sudah banyak yang tidak beroperasi.

1 2 3 4Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button