HLSamarinda

Jalan Panjang Samarinda Seberang: Dari Rebutan Sekolah, sampai Fasilitas Kesehatan

Kelompok masyarakat Samarinda Seberang yang menuntut pemekaran sering kecewa terhadap janji politisi. Mereka merasa hanya dimanfaatkan untuk mendulang suara. Setelah kemenangan diraih, rakyat ditinggalkan. Lantas apa yang akan dilakukan? Berikut penuturan Koordinator Gerakan Rakyat Bersatu Pejuang DOB Kabupaten Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rais.

Arditya Abdul Aziz, Pewarta

nomorsatukaltim.com – Sejak isu ini diangkat media massa beberapa tahun silam, banyak politisi tiba-tiba menaruh simpati. Mendatangi rakyat dan kelompok pendukung Seberang. Menjanjikan ini-itu kalau sudah terpilih. Tapi ketika menjabat, mereka pura-pura lupa. Isu itu redup. Seperti janji-janji mereka, yang katanya akan memperjuangkan pemekaran wilayah.

Ada yang menjadi anggota dewan di tingkat provinsi dan kota. Bahkan sampai menjabat dua periode. Namun faktanya, tidak memberikan dampak apa-apa.

Itulah yang membuat kami sedikit kecewa. Karena para tokoh itu, hanya menjadikan masyarakat Seberang sebagai wadah ‘membuang hajat’ saja. Sebenarnya saya jijik mengatakannya seperti itu, tapi begitulah faktanya.

Baca juga: Kabupaten Samarinda Seberang: Antara Harapan Rakyat dan Modal Politik

Setiap mau Pileg, atau Pileg, datang ke rakyat. Janji dukung Samarinda Seberang kalau terpilih.

Memang salah satu latar belakang terbentuk gerakan ini karena kecewa. Kami kurang mendapat perhatian. Jangan melihat saat ini. Memang sudah ada pembangunan dilakukan di Kecamatan Palaran, Samarinda Seberang dan Loa Janan Ilir. Saya kira ini juga dampak tuntutan kami bertahun-tahun.

Meski begitu, pembangunan itu hanya untuk mendukung kegiatan pembangunan di Samarinda Kota yang berfokus pada Kota Jasa dan Industri. Selain dari itu, seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan pelayanan di Seberang sangat tertinggal sekali.

Sebagai contoh, salah satu kecamatan di Seberang, itu hanya memiliki satu sekolah SMP. Bahkan tidak ada sekolah SMA. Ini sangat menyengsarakan kami, apalagi dengan adanya sistem zonasi di dunia pendidikan. Sementara sekolah di kawasan kami sangat terbatas.

Hampir setiap tahun masyarakat kami hanya bisa mengeluh. Karena banyak anak mereka yang tidak dapat tempat untuk bersekolah. Sementara hanya ada satu sekolah yang harus diperebutkan oleh banyak calon siswa.

Yang terparah terjadi di Kecamatan Samarinda Seberang. Di sana hanya ada satu SMA, namun tidak memiliki gedung. Selama ini, sekolah itu hanya bisa menumpang di gedung SD. Nama sekolahnya, SMA Negeri 17 Samarinda.

Baca juga: Gerakan Pejuang DOB Samarinda Seberang Tagih Janji Wali Kota Baru

Minimnya pelayanan ini cukup membuat kami kerepotan. Karena selalu memaksa kami untuk harus pergi ke Samarinda Kota. Bahkan dulu kami kalau mau berobat harus ke Samarinda Kota dulu. Karena rumah sakit memang hanya membludak dibangun di Samarinda Kota. Sekarang memang sudah terbangun RSUD IA Moeis, Tipe B. Dan layanan rumah sakit ini baru saja terbangun.

Kemudian pembangunan infrastruktur seperti jalanan, inipun baru dibangun beberapa tahun lalu. Hanya karena untuk mendukung sarana dan prasarana untuk menuju pelabuhan peti kemas di Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran. Kemudian, terdapat tol, itupun hanya sebagai jalan pintas menuju Balikpapan. Dan hingga kini dampaknya di Seberang tidak ada dirasakan.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button