BalikpapanHL

Melihat Aktivitas Transportasi di Balikpapan; Pelabuhan Sepi, Terminal Tutup Total  

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Sejak 7 Mei 2020 lalu, pemerintah pusat membuka kembali jalur trasportasi publik. Akses perhubungan melalui darat, laut dan udara dibuka dengan prasyarat yang ketat. Kendati hal itu menimbulkan kontroversi, karena dianggap tidak sejalan dengan kebijakan larangan mudik oleh pemerintah sendiri.

Di Kalimantan Timur (Kaltim), beleid tersebut mulai diterapkan pada 8 Mei 2020. Disway Kaltim kala itu memantau perubahan jumlah keluar masuk orang di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan. Terjadi peningkatan meski belum terlalu signifikan. Pengguna layanan penerbangan masih didominasi oleh kalangan yang bepergian untuk urusan pekerjaan.

Kondisi berlawanan, tampaknya terjadi di bidang transportasi laut. Disway Kaltim meninjau aktivitas di dua pelabuhan yang menjadi pintu keluar masuk kota Balikpapan menjelang Hari Raya Idulfitri dan kenaikan Isa Almasih.

Baca Juga

Pelabuhan Semayang Balikpapan tampak lengang. Hanya ada KM Madani Nusantara yang bersandar di Pelabuhan itu. Namun tak ada kegiatan turun naik penumpang yang terlihat. Layanan pelabuhan tidak dibuka sama sekali. Pintu masuk utama menuju ruang tunggu dan check in diberi garis polisi. Media ini bahkan tidak menemui satupun petugas pelayanan penumpang sore hari kemarin. Hanya ada security dan petugas jaga di loket pintu keluar pelabuhan. “Belum ada jadwal keberangkatan dalam waktu dekat ini,” kata petugas itu.

Ia menyebut, layanan pelabuhan saat ini hanya difokuskan pada kapal yang mengakut logistik ke Balikpapan. Walaupun pemerintah sudah mengizinkan penumpang umum yang memenuhi persyaratan untuk bepergian. Tapi, katanya, tidak banyak penumpang yang memilih moda transportasi ini.  “Penumpang masih berpikir kalau mau berangkat pakai kapal. Karena persyaratannya berat dan rumit,” ujarnya.

Petugas itu tidak banyak memberi penjelasan. Ia mengarahkan ke pos pelayanan terpadu yang berada di pintu tiga pelabuhan itu.

Di pos penjagaan tersebut, media ini menemui Slamet Iswahyudi, petugas Dinas Perhubungan Balikpapan. Senada bahwa saat ini pelabuhan Semayang hanya ada aktivitas bongkar muat barang. Yaitu kebutuhan logistik dari Surabaya, Jawa Timur dan Pare-Pare Sulawesi Selatan. Jadwal kedatangan kapal dua kali dalam sepekan. “Kalau penumpang umum sudah tidak ada,” sebut Slamet.

Kalaupun ada, harus melalui pemeriksaan ketat, terhadap semua dokumen persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Namun menurut pengakuannya, belum ada penumpang yang mengajukan perizinan untuk berangkat.

Ia mengatakan, pemeriksaan ketat juga diberlakukan bagi sopir-sopir truck beserta kernetnya yang mengangkut logistik dari Pulau Jawa dan Sulawesi melalui kapal feri. “Mereka juga diminta menunjukkan surat kesehatan, hasil rapid test,” ucap Slamet.

Meskipun pelabuhan tersebut tidak beroperasi untuk penumpang. Pemandangan normal terlihat di halaman parkir dan pintu masuk utama kawasan pelabuhan. Tampak puluhan kendaraan roda dua dan roda empat terparkir di sisi selatan halaman parkir dekat pintu masuk pelabuhan tersebut. Counter loket tanpa penjagaan. Palang portal terbuka begitu saja.

Sabran, pedagang yang ditemui di lokasi itu mengatakan, kendaraan tersebut merupakan milik orang-orang yang bekerja di sekitar pelabuhan Semayang.

Media ini ini juga melihat, aktivitas di sebuah pelabuhan kecil, khusus speedboat di sisi pelabuhan eks Chevron, yang kini menjadi milik Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT). Sejumlah warga Penajam Paser Utara (PPU) keluar masuk melalui jalur itu.

Salah satunya Ani (bukan nama sebenarnya), warga PPU yang baru saja tiba. Kepada Disway Kaltim ia mengatakan, tidak ada prosedur penjagaan atau protokol pencegahan COVID-19 yang diberlakukan saat ia tiba. “Hanya di seberang (PPU) diperiksa suhu tubuh,” jawab Ani.

Sementara itu, saat dikonfirmasi kepada Slamet Iswahyudi, petugas Dishub yang berjaga di pos terpadu pelabuhan Semayang tadi. Ia mengatakan, akses itu memang menjadi jalur keluar masuk warga PPU ke Balikpapan. Dirinya membenarkan bahwa “jalan tikus” itu memang tanpa penjagaan. “Karena itu bukan pelabuhan resmi. Bukan milik pemerintah,” jelasnya.

Di sisi utara Balikpapan, Pelabuhan Penyeberangan Feri Kariangau, akses masuk Balikpapan melalui jalur laut dari PPU dan Sulawesi Barat, juga tampak sepi. Tidak ramai penumpang yang menyeberang seperti biasanya.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button