HLKolom Redaksi

ENGGAN SALAMAN

EFEK wabah coronavirus juga terasa hingga ke masjid. Sebetulnya tradisi salaman sudah biasa di rumah ibadah. Tapi, Jumat kemarin rasanya lain. Biasanya selepas dua rakaat salat qobla Jumat, saya menyalami jamaah di kiri dan kanan.

Tapi kemarin berbeda. Jamaah yang ingin saya salami hanya melongo. Melihat ke arah wajah. Kemudian meski kelihatan berat, akhirnya mau menyalami. Saya langsung berpikir. Soal imbauan-imbauan untuk menghindari kontak. Termasuk bersentuhan tangan. Karena informasinya, coronavirus bisa menular gara-gara bersentuhan tangan itu.

Bukan karena sentuhan tangannya. Tapi virus yang nempel di tangan tersebut sangat rawan terhirup melalui hidung dan mulut. Karena sulit menghilangkan kebiasan tangan kita mengusap bagian wajah. Termasuk saya. Kendati sudah diingat-ingat untuk menghindari menyentuh di bagian wajah, tapi tatap saja. Baru ingat saat tangan sudah menempel di wajah.

Ketika menoleh ke sebelah kiri. Kelihatannya jamaah yang di sebelah kiri ramah menyambut. Giliran saya yang jadi enggan menyalami. Karena teringat jamaah di sebelah kanan tadi. Tapi menolak salaman di masjid rasanya tidak nyaman. Apalagi saat itu sudah mulai khutbah Jumat. Tak boleh banyak bicara. Susah menjelaskan penolakan itu. Akhirnya, dengan berat hati saya menyalami jamaah itu. Perasaan saya waktu itu, mungkin sama dengan jamaah yang di sebelah kanan.

Baca Juga

Sang khatib juga cerita soal corona. Soal wabah. Tapi ulasannya menarik. Tidak hanya bicara dogma agama. Tapi khatib itu menjelaskan secara rasional. Awalnya ia bicara bahwa tidak ada wabah yang tidak dikehendaki Allah.

Jadi teringat candaan bos saya. Ketika meminta untuk berangkat ke Tiongkok di tengah merebaknya wabah corona.
“Ya, kan kematian kita sudah tertulis di lauhul mahfudz, pak Devi,” katanya. Betul juga sih. Tapi, ya jangan juga karena corona. Harusnya Maret ini berangkat. Tapi pihak jasa perjalanannya tidak berani. Alhamdulillah…akhinya ditunda.

Setidaknya menunggu hingga reda.
Sang khatib kemudian menyampaikan juga. Bahwa ada perintah nabi yang ketika bertemu dengan wabah. Saat itu kusta. Diminta untuk menjauh. Lari sekencang-kencangnya. Ibarat ketika kita dikejar singa. Kemudian sang khatib pun menjelaskan benang merah dari dua penyampaian yang seolah berbeda itu.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button