HLKolom Redaksi

Mudah Transaksi

Oleh: Devi Alamsyah

PRESIDEN Jokowi pernah bicara soal financial technologi (fintech). Perusahaan jasa keuangan berbasis aplikasi. Pada pertemuan IMF dan World Bank di Bali, lalu. Intinya, pemerintah Indonesia tidak akan menghalang-halangi fintech  yang tumbuh secara natural.

Kendati sempat ramai kasus jasa pinjaman online berbasis aplikasi “ilegal” yang membuat masyarakat gelisah, namun perkembangan sistem ini bisa dimaknai sebagai salah satu kemajuan. Utamanya dalam akses pinjaman permodalan.

Penerimaan masyarakat pun sebetulnya cukup baik. Di luar persoalan yang ramai-ramai itu. Terbukti banyak yang mengakses fintech. Korbannya pun tak kalah banyaknya. Yang namanya dicitrakan buruk gara-gara telat bayar. Yang fotonya dikata-katain dan disebar ke seluruh kontak yang ada di handphone peminjam uang. Dipermalukan.

Baca Juga

Kontak saya pun pernah dikirimi. Isinya menyuruh orang yang kebetulan ada di kontak saya itu untuk segera membayar. Akhirnya saya tahu. Ternyata teman saya ada juga yang memakai jasa tersebut. Tapi itu mungkin jalur yang tidak resmi.

Ramainya kasus tersebut menandakan pasarnya luas. Kebutuhan masyarakat yang membutuhkan jasa permodalan cukup besar. Fintech dipilih karena alasan kemudahannya. Ini yang perlu digarisbawahi; Kemudahan.

Karena pinjaman melalui perbankan tidaklah mudah. Banyak persyaratan administrasi yang harus dipenuhi. Makanya dulu Bank Indonesia punya program bagaimana membina UMKM agar bisa “bankable”. Bisa pinjam duit di bank. Bukan hanya BI. Para bankir pun punya program yang sama. Agar kian banyak nasabah mereka.

Kehadiran fintech ini menghapus barrier itu. Persyaratanya lebih mudah dan prkatis. Ini yang membuat kalangan perbankan galau. Ada lembaga serupa yang lebih mudah bisa diakses oleh masyarakat. Kendati bunganya relatif lebih tinggi.

Saat berkunjung ke Bank Indonesia perwakilan Kaltim, Kamis pekan lalu. Kepala BI Tutuk SH Cahyono bicara begini; Bagi masyarakat, soal bunga itu sebetulnya nomor 2. Yang pertama adalah kemudahaan aksesnya. Analoginya mudah. Kenapa rentenir atau lintah darat digemari. Berarti tidak ada masalah soal bunga.

Sudah lama saya tidak ketemu Pak Tutuk. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai kepala BI perwakilan Balikpapan. Kemudian sempat pindah ke Jakarta. Per Agustus 2019, Tutuk kembali ke Kaltim dengan home base di Samarinda. Namun kali ini statusnya naik, perwakilan Kaltim.

1 2 3Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button