HLKolom Redaksi

Kenapa Disway Lahir

ALKISAH. Seorang ayah dan anak laki-lakinya hendak bermusafir. Mereka hanya memiliki seekor keledai untuk ditumpangi. Karena perjalanan cukup jauh, sang ayah mengajak anaknya untuk sama-sama menunggangi keledai itu.

Ketika melintasi desa pertama, keduanya mendengar pembicaraan warga desa. Kira-kira begini: “Tuh, lihat, masa sih keledai kecil begitu ditunggangi dua orang. Enggak ada pikirannya”.

Mendengar obrolan itu, sang ayah mengajak anaknya turun. Memang keledai ukurannya lebih kecil ketimbang seekor kuda. Meski ringkikannya tak kalah nyaringnya. Bahkan lebih nyaring.

“Dari pada kita jadi bahan obrolan mending kita turun saja. Kita jalan kaki saja. Keledai kita tuntun,” ajak sang ayah. Si anak pun menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanannya.

Begitu sampai di desa kedua. Ternyata kedua musafir tersebut tak lepas dari omongan warga desa. “Itu maunya apa sih, punya keledai kok enggak ditunggangi,” kata warga di desa kedua itu.

“Waduh, ada benarnya juga sih,” kata si ayah. Yang dipersoalkan di desa sebelumnya hanya bobot tumpangan. Kalau begitu, si ayah punya ide untuk gantian. Pertama, si ayah mempersilakan anaknya untuk naik punggung hewan berkaki empat itu. Biar si ayah yang tuntun keledai. Nanti saat capek, gantian anaknya yang menuntun keledai.

Kali ini si ayah yakin, tidak mungkin ada obrolan miring dari warga desa berikutnya. Ternyata dugaannya masih keliru. Keduanya juga jadi bahan omongan yang tak mengenakkan.

“Itu anaknya kurang ajar sekali, masa ayahnya disuruh tuntun keledai. Enggak sopan,” kata warga desa ketiga. Si ayah kaget, masih juga jadi bahan omongan warga.

“Iya sudah. Kalau begitu biar ayah saja yang naik. Nanti saya yang tuntun,” ujar si anak.

Ayah pun langsung setuju dan bergegas naik keledai tadi. Kini mereka yakin enggak bakal ada obrolan miring lagi di desa berikutnya.

Tapi, lagi-lagi, nada sumbang itu tetap muncul.  “Ini bapaknya enggak tahu diri. Masa dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya disuruh menuntun”.

Akhirnya, ayah dan anak itu berhenti sejenak. Sambil merenungkan setiap omongan dari empat desa itu. Mereka bingung mau bagaimana. Begini salah, begitu juga salah. Selalu menjadi bahan obrolan warga desa.

1 2 3Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button