Universitas Widya Gama Mahakam
HLKolom Redaksi

Horor “Cilukba”

Kemudian rekayasa juga bisa dilakukan di simpangan menuju Polda. Pengendara dari arah Balikpapan Baru menuju Jl Syarifuddin Yoes bisa memutar di depan gerbang Grand City atau Hotel HER. Kan tidak terlalu jauh. Dengan begitu akan mengurangi kemacetan di tanjakan simpang Polda.

Nah, untuk yang tanjakkan Mazda agak sulit rekayasanya. Karena setelah putaran tanjakan itu jalannya juga sedikit menanjak. Kemudian sudah mulai masuk kawasan Pasar Buton.  Nanti crowded nya malah pindah ke Pasar Buton.

Yang harus dilakukan adalah bagaimana mempercepat antrean ketika jam masuk dan keluar sekolah. Mungkin Dishub Balikpapan bisa membuka komunikasi dengan pihak sekolah SDIT Luqman Al Hakim. Misalnya, bagaimana pihak sekolah memperlebar jalan kendaraan yang keluar masuk sekolah itu.

Baca Juga

Jika diperhatikan. Jalan keluar masuknya hanya bisa dilalui satu kendaraan mobil. Selama ini, antrean terjadi karena mobil yang mau masuk harus nunggu kendaraan yang keluar. Sehingga terjadi antrean di pinggir jalan dan di sekitar jalan memutar itu.

Jika jalan masuk bisa dibuat dua jalur, mungkin akan mempercepat antrean. Atau bisa dibuat kapasitas parkir di dalam sekolahan diperbesar.

Selain rekayasa lalu lintas. Hal yang harus dilakukan bisa dengan memperketat uji kir truk. Bisa dilihat, mungkin di atas 50 persen peristiwa laka melibatkan kendaraan besar bermuatan.

Pernyataan Sudirman bahwa semua kendaraan truk yang terlibat laka itu layak jalan. Kecelakaan terjadi karena macet. Tapi menurut saya, kondisi kendaraan bermuatan besar itu tidak hanya cukup dengan kata layak. Tapi juga harus prima. Sehingga dalam kondisi macet pun masih aman melintasi tanjakan terjal.

Ini soal safety. Dan bukan hanya soal keselamatan pengendara truk saja. Karena korbannya justru banyak pengendara lain. Yang tertimpa truk bermuatan besar itu. Artinya kelalaian sopir atau pelaku usaha transportasi truk itu harus ditanggung akibatnya oleh orang lain. Mhhh…

Dan jika memungkinkan, untuk menghindari horor truk di tengah kemacetan di tanjakan, bisa juga memberlakukan jam jalan. Khusus truk.

Kalau memang dirasa berat peraturan yang membolehkan melintas hanya pada malam hari. Dengan alasan lambatnya mobilitas bisnis. Maka bisa dicoba per sesi.

Misalnya, dilarang melintas di jam-jam sibuk. Biasanya pada pagi hari pukul 06.00 hingga pukul 09.00. Kemudian pada siang hari jam istrahat pada pukul 11.00 – 14.00. Dan sore pada pukul 17,00-19.00.

Artinya, truk hanya boleh melintas pada pukul 09.00 – 11.00, pukul 14.00 – 17,00 dan malam setelah pukul 19.00. Khusus untuk melintasi tanjakan dan simpangan cilukba.

Jika pengendara truk ngotot, bisa diberlakukan sanksi berjenjang. Mulai dari sanksi administrasi, pencabutan SIM hingga pencabutan izin usaha pemilik transportasi itu. Ini bisa terjadi dengan komunikasi lintas instansi. Termasuk juga komitmen dari kepala daerah.

Tapi ini hanya sekadar urun rembuk. Praktiknya tentu Dishub dan dinas terkait  lebih tahu teknis penyelesaian dan solusinya.

Bagaimana dengan Anda?

*/Pemimpin Redaksi Disway Kaltim

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button