HLKolom Redaksi

Perempuan Indo

Oleh: Devi Alamsyah

banner diskominfo kaltim

LAMA  tak bersua. Saya merasa harus mengunjungi seorang kawan. Sahabat. Seorang guru yang sering share apapun itu. Seorang kakak yang kerap memberi masukan dan nasehat pada adiknya yang bandel.

Sebetulnya sudah lama menjadwalkan pertemuan. Beberapa kali kontak. Tapi belum sempat kopi darat. Memang agak susah kawan satu ini. Dia menarik diri dari peredaran. Dari dunia persilatan.

Dia sudah tak bermain medsos. Meski dulu salah satu yang konsen di dunia permedsosan. Menghapus semua kontak yang dikenalnya. Sampai ada orang yang menghubungi, baru disimpan namanya. “Mulai dari awal lagi,” katanya.

Sampai-sampai nama populernya dikubur. Yang saya maksud adalah Aris Darmawan. Sekarang tak mau disebut nama itu lagi. Panggilannya sekarang “Raden”. Kalau orang yang dekat di sekitarnya biasa panggil “Pak Raden”.

Baca Juga

Itu bukan nama samaran. Karena nama aslinya Raden Nugroho Daris Saputro. Mudah-mudahan saya tak salah ingat. Karena pasti setelah baca tulisan ini, saya harus panjang kali lebar mendengarkan omelannya.

Petang itu, saya meluncur ke kediaman Pak Aden. Biasanya saya sapa “Ndan”. Dulu masih saat satu tim, Pak Aden, sapaannya; Ndansar (Komandan besar). Dia panggil saya Ndancil (Komandan kecil). Mungkin karena sering berinteraksi dengan aparat kepolisian. Bahasanya mirip-mirip seperti itu.

Sampai di kediamannya, perumahan di kawasan Jl Soekarno-Hatta Km 3,5 Batu Ampar, saya langsung nyelinap ke belakang. Biasanya Pak Aden banyak menghabiskan waktunya di belakang rumah. Ada bangunan 2 lantai. Lantai atas dia buat seperti kantor. Di situ Pak Aden menuangkan pikiran-pikiranya. Ide-ide dan kreativitasnya.

Tapi, kali ini tampak suasana baru. Pak Aden tidak ada di atas. Ada bangunan semi permanen di belakang rumahnya itu. Dulu seingat saya itu tanah kosong. Halaman belakang rumah. Kemudian dibuat kandang ayam. Tapi kemarin sudah berubah lagi. Lebih mirip gudang.

Barang-barang yang harusnya digudangkan itu ditata dengan baik. Dibuat aksesori aneh-aneh. Dindingnya penuh foto karikatur. Dan foto-foto ekspresi wajah. Menarik dan full imajinasi lah…

“Ini hanya bisa dikerjakaan sama orang yang banyak waktu. Enggak ada kerjaan,” kata Pak Aden.

Ndancil lepas kangen bersama Ndansar (kiri).

Tak ada yang berubah dari Pak Aden. Perawakannya juga tak kunjung subur. Rambutnya khas. Tak bisa lurus meski sudah dilurus-luruskan. Gaya bicaranya yang penuh retorika masih saja tak berubah.

Di ruangan itu tampak juga seorang perempuan berhijab. Muda dan tingginya satu jengkal melebihi saya. “Woh, anak magang ya,” tanya saya. Karena si perempuan hanya tersipu-sipu, Pak Aden langsung menimpali. “Kenalkan ini Bumin. Istri saya”.

Bumin adalah panggilan Pak Aden terhadap istrinya. “Saya tak mau panggil istri kedua, karena memang tak ada istilah itu. Cukup istri saja,” jelasnya lagi. Wow..
Padahal sebelum masuk ruangan itu, saya ketemu dengan Bumin yang pertama.

Nah, Bumin kedua ini, namanya Chika, usia 20 tahun. Baru lulus dari salah satu sekolah negeri favorit di Balikpapan. Bapaknya bule, ibunya lokal. Blasteran atau indo.

Malam itu, Pak Aden menanyakan soal Disway Kaltim. Selama ini dia hanya mendengar begitu saja. Dan Pak Aden adalah pencetus nama itu. Saat memproduksi buku “I Love Dis Way”. Yang diterbitkan Gramedia itu. Berisi tentang kutipan-kutipan Pak Dahlan Iskan.

Bahkan dalam tulisan Pak Dahlan, nama Aris Darmawan disebutkan. Menginspirasi nama Disway.id yang sekarang digunakan Pak Dahlan untuk menampung tulisan-tulisannya.

Saya menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Pertanyàan Pak Aden juga kritis. Termasuk kenapa mesti ada cetak. Saya jelaskan apa yang bisa saya jelaskan. Termasuk pola baru yang berbeda dengan konsep koran pada umumnya.

Pak Aden pun bercerita. Selama ini dia mempelajari soal pola. Banyak pasiennya yang datang hanya untuk berkeluh kesah. Dari yang punya jabatan tinggi hingga orang yang memang butuh dibantu. Dia tertantang dengan masalah. Bagaimana mengurai sebuah permasalahan menjadi konsennya saat ini.

“Banyak orang yang datang kesini terus menangis. Depresi. Persoalannya tak melulu soal uang”. Lalu Pak Aden pelajari pola penyelesaiannya. “Dan rata-rata terkonfirmasi”. Artinya, apa yang disampaikan Pak Aden terbukti.

Dan melihat pola Disway Kaltim yang saya jelaskan tadi, Pak Aden pun meyakini akan berhasil. “Kalau lihat polanya, saya yakin Disway berhasil menjadi besar,” katanya. Saya pun langsung mengamini.

Dan satu lagi saran Pak Aden. Agar saya mengganti foto karikatur yang biasa. “Kamu harus punya brand baru”.

Saya kembali bertanya kepada Chika. Benarkah sudah menikah? Kok enggak undang-undang. Diam sejenak, lalu menjawab : “Kan sudah disampaikan tadi,” ujarnya. Saya tetap masih ragu.

Ternyata terbongkar juga. Sebelum saya datang Pak Aden menyiapkan sekenario. Termasuk dengan istrinya. Si Chika seolah-olah menjadi istri keduanya. Dengan harapan saya kaget. Tapi memang, kaageett….

Skenario itu dilakukan karena rupanya Pak Aden merasa kangen. Selama ini jarang ketemu. “Sesibuk apapun, tolong sempatkan mampirlah,” katanya.

Memang Aris Darmawan, eh..ups Pak Aden memang pandai bermain skenario. Dari sejak sekolah dulu. Dia sangat antusias dengan peran sutradara. Membuat sekenario membuatnya nyaman dan puas. Tapi ingat, sekenario istri kedua tadi jangan sampai ke bablasan ya..hehe #salamdisway

*/saran dan masukan bisa dikirim via [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button