HLKolom Redaksi

Sertifikasi Haram

Oleh: Devi Alamsyah

Minggu pagi, saya baca share berita di grup WhatsApp. Berita Rakernas Majelis Ulama Indonesia (MUI) di NTB. Tepatnya di Kuta Mandalika, Lombok Tengah, 11-13 Oktober 2019. Namun berita baru di-upload pada 19 Oktober.

MUI Kaltim mendapat penghargaan dari MUI pusat. Kategori bidang administrasi dan kerja sama. Dinilai berprestasi. Alhamdulillah….

Beberapa MUI provinsi lain juga ada yang mendapat apresiasi. Sebut saja, Sumatera Utara, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta.

Link berita yang di-share di grup tersebut mendapat respons hangat. Memantik diskusi lebih jauh tentang peran MUI. Perannya sangat vital. Apalagi Indonesia negara yang mayoritas muslim. Terutama terkait label halal.

Baca Juga

Bagi umat muslim, makanan “halalan thayyiban” sangat penting. Halal kaitannya dengan ajaran. Tertuang dalam Alquran, kitab suci umat muslim. Sementara thayyiban, berarti layak dan baik dikonsumsi.

Saya pernah mendengar ceramah Almarhum KH Shiddiq Amien, Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Dulu sekali. Beliau pernah menyampaikan begini: “Batu itu halal. Tapi tidak thayyib”. Untuk mendeskripsikan kata thayyib itu.

Artinya, bisa saja suatu makanan itu halal. Bukan sesuatu yang diharamkan dalam ajaran Islam. Tapi jika tidak baik bagi kesehatan, ya jangan dikonsumsi. Tidak thayyib.

Sementara untuk kategori Haram, tuntunannya sudah ada dalam Alquran. Kalau tidak salah ada empat item yang tercantum. Tapi, jumhur ulama mengembangkannya. Ada beberapa item yang tidak dibolehkan. Ada yang kategorinya makruh atau sia-sia. Sebaiknya tidak dilakukan. Hingga yang haram.

Saat ke Singapura beberapa pekan lalu, bersama tim Disway Kaltim dan Kaltara, ternyata di negeri yang mayoritas non muslim itu, konsumen muslim sangat dilindungi. Beberapa restoran berlabel halal pun ada di berbagai tempat. Kendati tidak mudah juga mencarinya.

Salah satunya di Sentosa Island. Sebelum masuk ke wahana hiburan Universal Studios, ada namanya Malaysian Food Street. Masuk ke tempat itu, beraneka menu makanan tersedia. Ya, mirip foodcourt di kita. Ada stan makanan yang berbeda-beda.

Saat itu, saya memesan nasi lemak dengan sayap ayam. Sempat kebingungan saat mencari tempat sendok makan. Kemudian terlihat, sekitar 6 meter dari stan makanan itu, tempat sendok. Ketika saya mengambil sendok itu, seorang pelayan makanan, menegur. Katanya itu bekas makanan yang tidak halal. Sementara sendok yang tidak terkontaminasi dengan bahan-bahan haram, ada di dekat stan makanan tadi.

1 2 3 4Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button