FeatureHL

Ramainya Ngoplas, Bicara Tentang Feminisme dan Tubuh Perempuan

banner diskominfo kaltim

Vanessa Rossalie (kanan) memandu acara Ngoplas.

Oleh : Ariyansah NK

Ngobrol dan Ngopi Santai (Ngoplas) di Klandasan Coffee, Gedung Klandasan, Jalan Jenderal Sudirman kembali digelar, Jumat (28/6) sore. Kali ini dengan tema obrolan penting dan serius. Ya, tentang perempuan. Lebih tepatnya, tentang feminisme dan tubuh perempuan.

Baca Juga

————-

Obrolan dan diskusi ini dimulai pukul 17.00 Wita. Dipandu salah satu tokoh muda perempuan, Vanessa Rossalie, yang digadang bakal mencalonkan diri pada Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Balikpapan tahun 2020 melalui jalur independen.

Pemantik sekaligus narasumber kali ini juga tak kalah menarik dan kompeten dalam hal intelektual. Khususnya dalam konteks tema diskusi ini. Tiga perempuan asal Balikpapan, penggiat dan pemerhati isu perempuan. Mereka adalah Maulidia Rani, Mentari Ramadhianty dan Putri Imaniah.

Obrolan dibuka Vanessa, dilanjutkan oleh Rani yang bicara tentang feminisme. Dimulai dengan penjelasannya mengenai kodrat, potensi serta gender.

“Kodrat adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan dan tidak dapat dipertukarkan. Yang menjadi kodrat laki-laki dan perempuan lebih merujuk pada bentukan lahiriah. Contoh, kalau laki-laki, mempunyai sperma. Perempuan, mempunyai rahim. Sedangkan potensi adalah kemampuan dasar manusia yang mampu dikembangkan, misalnya kemampuan rahim untuk dibuahi. Itu potensi. Karena ada rahim yang tidak bisa dibuahi. Kalau berbicara gender, itu bisa dipertukarkan,” kata Rani.

Menurutnya, gender merupakan konstruksi sosial yang membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan standar imajiner masyarakat dan mengakibatkan munculnya batas-batas antara perempuan dan laki-laki berdasarkan sifat maskulinitas dan feminitas, serta pembagian kerja. Seperti membentuk stigma bahwa seorang perempuan harus lemah lembut dan cukup berada pada urusan domestik saja. Yakni urusan rumah tangga, mencuci, memasak dan mengurus anak-anak.

“Dari standar-standar itu kemudian muncul ketimpangan, yang sebetulnya menindas kaum perempuan. Dari kondisi itu, feminisme hadir. Dan yang diharapkan feminisme adalah kesetaraan gender. Dan kesetaraan gender itu merujuk pada pada keadilan gender. Jangan sampai, perempuan saat menikah terjebak pada urusan domestik karena terpaksa,” jelas mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Balikpapan itu.

Adanya gender yang merupakan kontruksi sosial dengan standar-standar yang sangat subjektif kemudian menghadirkan ketimpangan dan menindas kaum perempuan, kata Rani, juga dipengaruhi adanya sistem patriarki. Patriarki merupakan sistem sosial yang mendominasi di Indonesia.

“Patriarki, sistem di mana laki-laki memegang supremasi yang paling tinggi. Dan feminisme, hadir untuk kesetaraan dan keadilan gender. Tidak ada negara yang maju jika perempuan di negara itu tidak mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki. Perempuan itu rahim dari peradaban. Oleh karena itu, kita harus lawan segala bentuk penindasan terhadap kaum perempuan,” katanya.

Setelah Rani, Mentari Ramadhianty yang akrab disapa Tari melanjutkan. Mahasiswi Jakarta ini fokus berbicara tentang sejarah gerakan feminisme dari masa ke masa, hingga sekarang ini. Tari juga mengungkit alasan feminisme hadir di tengah peradaban yang dipengaruhi sistem patriarki, khususnya di Indonesia.

“Bicara feminisme, kita sama dengan berbicara peradaban. Peradaban yang lebih berkeadilan gender. Baik laki-laki dan perempuan. Feminisme adalah suatu pendekatan yang tepat, jika kita merefer pada keadaan atau situasi yang patriarkis,” jelasnya.

Gerakan feminisme hadir untuk melawan kontruksi sosial yang memunculkan ketimpangan dan menindas kaum perempuan. Tujuannya, mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan. Bukan memusuhi laki-laki, melainkan melawan sistem patriarki yang menindas perempuan.

“Feminisme itu, menurut Sarah Gamble, adalah satu set pemahaman atau kepercayaan terhadap apa yang kita sebut sebagai ideologi, yang mempercayai bahwa perempuan sedang tidak baik-baik saja. Ya, misalnya seperti menaruh perempuan sebagai kelas dua. Itu merupakan masalah,” ujarnya.

Tari menegaskan, gerakan feminisme itu perlu. “Pendekatan feminisme itu diperlukan untuk memberikan ruang baik kepada elit politik, elit bisnis atau siapapun untuk memiliki perspektif gender dalam setiap kebijakan, kegiatannya, aktivitasnya sehari-hari dalam bermasyarakat,” imbuhnya.

Wujud dari ketimpangan sosial yang menindas, salah satunya pelecahan seksual kepada kaum perempuan. “Satu dari tiga perempuan Indonesia mengalami pelecehan seksual,” katanya lagi.

Sementara itu, Putri, pemantik diskusi ke tiga berbicara tentang contoh kasus pelecehan seksual di Indonesia, sebagai wujud penegasan penindasan perempuan masih nyata terjadi. Khususnya di Indonesia. Dalam hal ini, erat kaitannya juga dengan tubuh perempuan.

“Ada kasus seorang pramugari yang dipecat karena berat tubuhnya over. Kenapa perempuan harus dilihat dari fisik. Padahal ada aturannya kalau berat badan over, pramugari bersangkutan diistirahatkan selama tiga bulan untuk mengembalikan berat badannya. Tapi ini, langsung dipecat,” katanya.

Dikatakan mahasiswa Universitas Balikpapan ini, kaum perempuan Indonesia masih belum bebas dari yang namanya pelecehan seksual. Baik di perkantoran, maupun di dunia pendidikan. Apalagi dengan kondisi sosial yang telah dijelaskan Rani dan Tari sebelumnya.

“Masih ingat kasus Rizky Amelia di BPJS, yang diperkosa atasannya sendiri. Makanya yang dilawan feminis itu bukan laki-laki, tapi sistem patriarkinya. Kemudian ada juga kasus Agni UGM. Tidak semua laki-laki pernah melecehkan atau dilecehkan perempuan, tapi semua perempuan pernah dilecehkan,” kata Putri.

Dalam hal ini, kasus Baiq Nuril, pegawai honorer yang dilecehkan kepala sekolahnya itu juga menjadi sorotan Putri. “Tapi malah dia yang dipenjara,” katanya emosional.

Obrolan ini dihadiri pada muda-mudi Balikpapan. Kebanyakan terdiri dari mahasiswa. Forum diskusi ini berjalan aktif. Mereka yang hadir tampak antusias memberi respons atas apa yang dikemukakan para pemantik tersebut.

Hingga pukul 20.00 Wita, forum diskusi yang diwadahi Klandasan Coffee ini masih ramai. Seluruh yang hadir masih saling melempar pertanyaan dan tanggapan. Adapula yang menyampaikan keluh kesah dari perspektif perempuan terhadap kondisi saat ini.

Edisi Ngoplas kali ini baru diakhiri dan ditutup sekitar pukul 21.30 Wita, oleh sang moderator, Vanessa Rossalie. (dah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button