HLKolom Redaksi

Pawang Hujang Vs Gajah Thailand

Oleh: Devi Alamsyah

banner diskominfo kaltim

MUNGKIN ada benernya pernyataan Gubernur Kaltim Isran Noor soal banjir di Samarinda. “Tak akan ada habisnya”. Kalau direnungkan memang siklus cuaca panas dan hujan sudah menjadi bagian dari mekanisme alam. Hanya debit airnya saja yang berbeda; kadang besar kadang kecil.

Dan tidak hanya di Samarinda saja, hampir di setiap wilayah di Kalimantan Timur mengalami banjir Juni ini. Sebut saja Balikpapan, Bontang, Sangatta hingga ke Mahulu. Hampir semua mengakui bahwa debit air hujan lebih besar dari biasanya.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana mengantisipasi itu? Bencana alam yang terjadi setiap tahun. Apakah harus pasrah pada ilahi. Menerima kenyataan ini dengan sabar.

Sesuai pepatah “Alah bisa karena terbiasa”. Atau mengutip lirik lagunya Ahmad Dhani “cinta datang karena sudah terbiasa”. Ya, cinta terhadap banjir. Toh masyarakat nanti bisa survive dengan sendirinya..mmhh.

Baca Juga

Mau seperti itu?

Atau bisa juga berpikir untuk mencari solusi jangka panjang. Meminimalisasi siklus tahunan ini agar tidak menyulitkan masyarakat dalam jangka panjang. Melawan keterbatasan. Bukan berarti melawan alam. Tapi melakukan pengendalian.

Banyak contoh negara yang mau mendobrak keterbatasan. Yang paling banyak diketahui misalnya Belanda, negeri kincir angin itu membuat bendungan besar atau biasa disebut DAM yang membentengi daratan dari lautan.

Beberapa sumber menyebut, Belanda tergantung terahadap bangunan DAM itu. Jika bendungan penghalang itu roboh, banyak yang bilang Belanda akan tenggelam. Karena daratan lebih rendah dari permukaan laut. Padahal Belanda dikelilingi perairan. Namun hingga saat ini mereka masih survive dan aman sentosa.

Sepakat dengan pernyataan Rusman Yaqub, anggota DPRD Provinsi Kaltim saat diwawancarai DiswayKaltim.com terkait banjir di Samarinda. Menurutnya, pemerintah harus mengambil solusi jangka panjang dalam penyelesaian persoalan banjir ini.

Jadi, penanganan banjir tidak bersifat sementara. Tapi bisa diproyeksikan 5 hingga 10 tahun ke depan misalnya. Di samping pembenahan soal tata kota hingga kawasan hijau untuk daerah serapan air.

Terkait teknis dukungan pembiayaan, penganggaran dan lain hal, pemerintah provinsi Kaltim dan seluruh pemda sepertinya sudah paham bagaimana caranya. Tinggal keinginan kuat dan tentunya keberanian.

Sehingga ke depan, tidak perlu lagi ada perang pernyataan antara Pawang Hujan vs Gajah Thailand. Menang mana? Siapa yang lebih hebat, sang pawang yang bisa mengendalikan hujan atau gajah yang bisa menyerap air lewat belalainya. Hehheeh..walahualam

Bagaimana dengan Anda?

Masukan kiritik dan saran bisa kirim via email: [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button