FeatureIndex BeritaKubar

Cerita Dua Bocah dan Ibunya di Kubar yang Hidup dari Memulung (3-Habis): Bawa Anak karena Trauma

Iklan Ucapan Selamat Rektor Unmul

“Anak saya ini sudah alami kekerasan sejak dalam perut. Pernah dia (mantan suami) itu pukul kami sampai mau mati. Tiap malam itu ribut terus. Kalau sudah ribut pasti kami lari. Pernah saya lapor polisi tapi masih dia pukul-pukul kami,” tutur dia.

Aktivitas mencari barang bekas dan besi tua juga sudah ia lakukan sejak 2015. Meski kerap dicibir, Sari tetap mulung demi bertahan hidup. Apalagi suaminya sakit-sakitan dan mengalami gangguan jiwa. Semua uang tabungan dan harta benda juga habis terkuras untuk mengobati suaminya.

“Tahun 2015 itu saya mulung juga. Bawa anak, bawa gerobag saya dorong,” tukas wanita 38 tahun ini.

Perempuan kelahiran Jahab, Kutai Kartanegara ini mengaku punya niat berusaha mandiri supaya tidak memungut sampah. Namun apa daya, Sari tak punya modal. Jangankan untuk modal usaha, untuk makan saja sulit. “Memang rencana mau usaha laundry atau jual ayam potong karena dulu saya usaha itu. Tapi sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi,” katanya.

Sari juga kerap dipusingkan dengan biaya pendidikan anaknya. Belum lagi kalau sakit atau dalam keadaan darurat. Sehingga dia berencana untuk mencari pinjaman dana untuk memulai usaha.

“Saya hanya ingin anak-anak saya lebih baik. Jangan sampai mereka seperti saya lagi,” pungkasnya. (luk/dah)

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button