FeaturePendidikan

Lima Bulan di AS Ikut Program KL YES, Giancarlo Ubah Cara Pandang

Tak Ada Rasis, malah Gratis Plus..Plus

Tak semua wilayah di Amerika Serikat (AS) kental dangan isu rasial. Seperti Asian Hate yang belakangan marak itu. Giancarlo Samuel Uring, siswa SMAN 1 Tanjung Selor, punya cerita berbeda. Selama mengikuti pertukaran pelajar program KL YES 2021/2022 di Seattle Washington, warganya welcome dengan pendatang.

Devi Alamsyah, Samarinda.

MASIH ingat peristiwa Christina Yuna Lee, warga keturunan Korea yang tinggal di sebuah apartemen di China Town, Manhattan, New York. Lee ditemukan meninggal setengah telanjang di apartemennya. Dari pantauan kamera di lokasi tersebut, Lee dikuntit. Si penguntit bernama Assamad Nash. Usianya 25 tahun.

Cerita tentang Christina Yuna Lee sudah diulas detail dalam Catatan Dahlan Iskan edisi 16 Februari 2022. Menurut catatan polisi setempat, kejahatan dengan motif kebencian ras naik 300 persen lebih dalam setahun terakhir. Sasarannya, keturunan Asia. Atau keturunan pulau-pulau di Pacific.

Baca Juga

Namun tidak bisa digeneralisasi bahwa di semua wilayah AS sentimen rasialnya tinggi

Seperti yang dirasakan Giancarlo Samuel Uring. Selama mengikuti program pertukaran pelajar Program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL YES) 2021/2022 di Amerika Serikat, justru merasa diterima dan bisa berbaur dengan siswa serta warga setempat.

Carlo tinggal di Chehalis, Negara Bagian Washington. Ya, lebih familiar dengan nama Seattle Washington. Sekolahnya di Adna High School. Ia mengikuti program KL YES selama 10 bulan. Sekarang sudah berjalan 5 bulan. Program akan berakhir Juni 2022.

Carlo adalah anak tunggal dari Pasangan Harold Arthur Uring dan Astini. Ia lahir di Samarinda tahun 2004. Kini tinggal di Perum Korpri, Tanjung Selor, Kalimantan Utara.

“Puji Tuhan, selama di sini orang-orang menerima saya dengan baik, wilayah tempat saya tinggal cukup liberal, jadi saya belum pernah mengalami rasisme selama di sini,” kata Carlo melalui pesan WhatsApp.

Komunikasi dengan Carlo memang agak susah. Mengingat perbedaan waktu antara Samarinda dan AS yang relative terpaut 12 jam.

Carlo mengakui, untuk beradaptasi dengan siswa dan lingkungan setempat tidak terlalu sulit. “Pergaulan di sini cukup komunal,” katanya. Hari pertama sekolah, Carlo bahkan sudah dapat teman di kelas untuk diajak bicara.

1 2 3 4Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button