Biro Jasa Umrah Belum Buka Pendaftaran Jemaah Baru

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Kabar dibukanya kembali umrah bagi jemaah Indonesia belum sepenuhnya melegakan pengusaha biro jasa perjalanan umrah. Namun mereka mengaku menyambut baik berita ini. Jemaah yang urung diberangkatkan tahun lalu jadi prioritas.

Direktur Biro Jasa Perjalanan Umrah dan Haji Plus Shafa Al Anshor, Digdo Susilo menyebut ada dua hal penting yang ditunggu pengusaha travel umrah. Dengan kabar dibukanya izin bagi jemaah asal Indonesia. Yakni jadwal penerbangan dan ketentuan soal karantina. Sebab, dua poin tersebut menjadi pokok menentukan jadwal keberangkatan jemaah ke Arab Saudi.

Soal kesiapan, Digdo menyebut tergantung pada keputusan dan arahan pemerintah. Sebab, sejak dihentikannya perjalanan umrah tahun lalu, travel umrah selalu bersiap diri. Sembari menunggu kabar dari Kerajaan Arab Saudi melalui pemerintah RI. “Ya tentu saja menunggu tanpa membuka pendaftaran bagi jemaah baru. Itu yang disampaikan pemerintah melalui Kementerian Agama,” sebutnya pada harian Disway Kaltim dan nomorsatukaltim.com, Senin (11/10/2021) .

Jika pintu umrah benar-benar dibuka tahun ini, Digdo menyebut akan memprioritaskan keberangkatan pada jemaah gagal berangkat tahun lalu. Yakni berjumlah sekitar 180 orang. Setelah adanya kejelasan penerbangan dan proses karantina jemaah. “Yang terpenting ada jaminan bisa masuk ke Arab Saudi dan melakukan ibadah,” katanya.

Digdo tidak menampik adanya konsekuensi penambahan biaya. Khususnya harga tiket pesawat dan hotel. Juga biaya akomodasi tambahan untuk karantina. Jika memang masih disyaratkan sebelum masuk ke Tanah Suci. Apalagi karantina di luar negeri tidak ada kepastian biaya. “Kalau di Shafa Al Anshor (biaya umrah) sekitar Rp 27 juta sampai Rp 33 juta, sesuai paketnya masing-masing. Nah, ketentuan biaya itu (jika ada tambahan) nanti akan disesuaikan. Travel diberi kewenangan menentukan biaya,” terangnya.

Akan tetapi, Digdo menyebut persoalan utamanya bukan pada biaya. Jemaah, begitu juga pelaku usaha travel umrah lebih membutuhkan kepastian. Tentang kapan dan bagaimana syaratnya bisa masuk ke Arab Saudi.

“Kami menunggu informasi dari asosiasi saja. Kalau sudah ada kabar dari pemerintah, asosiasi pasti akan meneruskan petunjuk pelaksanaan. Sejauh ini belum ada,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Balikpapan Johan Marpaung mengaku belum bisa berbicara banyak soal ini. Sebab ia juga belum menerima informasi lanjutan kabar tersebut. Lebih-lebih soal petunjuk teknis pelaksanaan umrah setelah dibuka kembali oleh Arab Saudi. Begitu juga soal apakah akan ada keberangkatan jemaah haji tahun depan.

“Kami (juga) masih menunggu. Jadi belum bisa memberikan pernyataan,’ ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Tanggapan Asosiasi

Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Farid Aljawi berharap pemerintah bisa mengajak asosiasi intens berkoordinasi. Sebab, asosiasi membawahi langsung pelaku usaha travel umrah.

“Sebagai masyarakat, sebagai yang punya jemaah yang mengelola secara langsung. Apabila pemerintah berangkat ke Arab Saudi, asosiasi harus diajak berangkat juga, supaya jelas,” kata Farid.

Selain itu, ia meminta berbagai persyaratan yang akan dikeluarkan seperti vaksin hingga karantina harus dikomunikasikan dengan baik. Jika sudah ada koordinasi matang dan persyaratan jelas, maka pihaknya bisa bergerak mengedukasi masyarakat yang mau berangkat umrah. Di samping itu, ia juga berharap jemaah memahami kondisi yang ada. Banyak hal teknis yang harus diselesaikan sebelum memberangkatkan jemaah.

“Bukan berarti ketika dibuka langsung bisa berangkat begitu saja. Tentunya ada tahapan-tahapan yang masyarakat harus pahami dan lakukan yaitu harus memenuhi standar ketentuan yang ditentukan pemerintah Arab Saudi maupun Indonesia,” tutur Farid.

Dalam nota diplomatik Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, pemerintah Arab Saudi menyampaikan beberapa hal terkait dengan umrah bagi jemaah Indonesia.

“Komite khusus di Kerajaan Saudi Arabia sedang bekerja saat ini guna meminimalisir segala hambatan yang menghalangi kemungkinan tidak dapatnya jemaah umrah Indonesia untuk melakukan ibadah umrah,” ujar Menlu Retno pada konferensi pers virtual, baru-baru ini.

Ia mengatakan, Indonesia dan Arab Saudi tengah berada dalam tahap akhir pembahasan soal pengiriman jemaah umrah. Dalam nota itu disebutkan bahwa kedua pihak dalam tahap akhir pembahasan mengenai pertukaran link teknis dengan Indonesia, yang menjelaskan informasi para pengunjung berkaitan dengan vaksin dan akan memfasilitasi proses masuknya jemaah.

Selain itu, nota diplomatik Kedubes Arab Saudi juga tengah mempertimbangkan untuk menetapkan masa periode karantina selama 5 hari. Bagi jemaah yang tidak memenuhi standar kesehatan yang disyaratkan.

“Tentunya kabar baik ini akan ditindaklanjuti dengan pembahasan secara lebih detail mengenai teknis pelaksanaannya. Kemlu akan koordinasi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan dan otoritas terkait di Kerajaan Saudi Arabia mengenai pelaksanaan kebijakan yang baru ini,” pungkasnya.

Dibukanya kembali pintu umrah bagi Indonesia disebut karena perkembangan penanganan COVID-19 Indonesia yang semakin baik. BEN/ENY

Leave A Reply