Universitas Widya Gama Mahakam
Ekonomi

Gapki Kaltim Sambut Pembebasan Bea Masuk Ekspor CPO ke Swiss

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Kaltim memang belum secara khusus mengekspor sendiri Crude Palm Oil (CPO) ke Swiss. Namun, kabar Swiss sebagai negara pertama di Eropa yang membebaskan bea masuk ekspor menjadi angin segar.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim menyambut gembira keputusan tersebut. Pembina Gapki Kaltim Azmal Ridwan mengaku mengapresiasi dibukanya keran ekspor CPO Bumi Pertiwi ke negara dengan ibu kota Bern tersebut.

Tetapi bagi Azmal, perlu ada kewaspadaan. Mengingat perjanjian tersebut merupakan perjanjian bilateral kedua negara.

“Cuma ya kita juga tetap senang, dari yang awalnya keluar duit soal bea jadi enggak (karena pembebasan bea masuk ekspor CPO),” ungkapnya, Senin (8/3).

Baca Juga

Diketahui, kebijakan tersebut diambil oleh pemerintah Swiss setelah menempuh referendum. Pemutusannya pun dilakukan di tingkat parlemen. Dengan tetap mempertimbangkan masukan dari berbagai stakeholder. Serta organisasi non-pemerintah di Swiss.

Hasilnya, sebanyak 51,7 persen masyarakat negara dengan nama latin Confoederatio Helvetica itu menyetujui perjanjian dagang tersebut.

Azmal menerangkan, langkah yang dilakukan Swiss ini ialah yang pertama kali terjadi di Benua Eropa. Menurut Azmal, jika bisa, beberapa negara di Benua Biru tersebut juga melakukan hal senada.

Meski tidak spesifik seperti yang dilakukan Swiss. Membebaskan bea masuk ekspor. Kerja sama dengan negara lain bisa dengan langkah-langkah lain. Yang juga mempermudah kerja sama bilateral lainnya.

Azmal menjelaskan, untuk pengiriman CPO dari Kaltim ke Swiss secara langsung memang belum terjadi. Karena kuantitasnya yang tidak tercukupi.

Pengiriman CPO ke Swiss dilakukan secara gabungan. Antara Kaltim, Kalteng, Kalbar, Sumatera. Asalkan, masih satu grup di perusahaan yang sama. “Secara prinsip, kalau diekspor langsung dari sini itu, tanggung,” tambahnya.

Azmal menyatakan, kemampuan ekspor Kaltim memang masih kurang memadai. Kurang memadai yang dimaksud Azmal ialah kelancaran dalam pengiriman. Secara spesifik, dalam hal ini soal infrastruktur. Yakni pelabuhan.

Kendala soal pengiriman yang tidak lancar tersebut menyebabkan antrean panjang terjadi. Azmal beserta pengusaha CPO lain di Kaltim sebenarnya berharap kepada kejelasan pembangunan Pelabuhan Maloy di Kutai Timur.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button