Ekonomi

Lebih Dekat dengan Si Pedas Penjaga Inflasi

Namun Minarko menyebut, hasil panen terkahir ia hanya mendapat 3 ton cabai. Dikarenakan cuaca buruk dan penyakit yang menyerang tanaman. Meski begitu, ia mengaku masih menerima keuntungan dari hasil panennya itu. 

Ia menghabiskan modal tanam cabai sebesar Rp 30 juta. Dengan hasil panen 3 ton cabai ia bisa menghasilkan dana kotor sebesar Rp 45 juta. Masih untung, meski menipis.

Bertani cabai besar hijau dinilai Minarko juga lebih memudahkan dibanding menanam cabai rawit. Terutama dalam proses memanen. Ia menyebut, 1 buruh tani bisa memanen 1 kuintal cabai besar hijau dalam waktu sehari. Sementara jika dibandingkan dengan cabai rawit, 1 buruh tani hanya bisa memanen maksimal 12 kilo gram cabai. 

Baca Juga

“Karena kalau cabai rawit kan kecil. Ribet. Mending cabai besar. Cepat, mudah, dan berat. Sehingga mempengaruhi harga jual juga,” jelas Minarko. 

Hasil panen cabainya dijual melalui tengkulak. Untuk dipasarkan ke pasar Segiri Samarinda. Nantinya dari para tengkulak, cabai tersebut dijual lagi secara eceran ke para pedagang kecil. “Jadi di pasar itu, sudah tangan ketiga dari kami,” pungkasnya. (krv)

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button