EkonomiHL

Kena Serangan Bertubi-tubi, Bisnis Perhotelan Kian Berat

Ketua PHRI Balikpapan Sahmal Ruhip

PHRI Balikpapan Minta Pemkot Bikin City Tour Gratis

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Industri perhotelan di Kota Balikpapan bak pepatah “hidup segan mati tak mau”. Ini terjadi setelah bidang usaha jasa itu diterjang berbagai dampak ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Baca Juga

Kenyataan pahit itu diungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Balikpapan, Sahmal Ruhip, Rabu (7/8/2019).

“Supaya industri pariwisata tumbuh, pemerintah daerah sebaiknya mulai membuat program kunjungan yang menarik biar Balikpapan dilirik turis,” kata pemilik Hotel Djang Djaya ini.

Salah satu usulannya, yaitu program keliling kota atau city tour gratis bagi wisatawan luar daerah. Baik wisatawan mancanegara, maupun domestik.

“Coba dulu buat city tour gratis dalam kota. Supaya wisatawan mau datang. Tidak apa pemerintah memberi subsidi”.

Sahmal sendiri mengakui, PHRI tak bisa berbuat banyak membantu meningkatkan jumlah wisatawan, lantaran kondisi usaha perhotelan seperti yang dia sampaikan di awal. Sepi.

Sepinya bisnis perhotelan ini, juga bisa terlihat dari pendapatan asli daerah (PAD)  Balikpapan dari sektor perhotelan yang realisasinya jauh dari target. Yakni hanya 53 persen saja, terhitung pertengahan Juli lalu.

Tahun lalu saja, sejumlah hotel tutup. Termasuk salah satunya hotel berbintang di dekat bandara. “Hakaya tahun 2018 berhenti beroperasi karena okupansi menurun,” kata dia.

Meski tak punya data soal angka keterisian kamar setiap hotel, PHRI mengetahui kesulitan anggotanya.

Faktanya ada sejumlah hotel yang baru beroperasi tahun ini, tak mampu menghilangkan kesan kesulitan dan tantangan berat yang dihadapi sektor ini.   

Banyak faktor yang memengaruhi tingkat hunian menurun. Seperti berakhirnya kejayaan industri pertambangan di Kalimantan Timur, kebijakan bagasi berbayar, tiket pesawat yang mengalami kenaikan, kunjungan wisawatan yang merosot, sampai tingkat persaingan antarhotel yang semakin sengit.

“Industri tambang itu berdampak pada hotel berbintang. Tapi hotel kelas seperti kita ini tidak begitu berpengaruh. Guest house juga sudah banyak, kos harian juga mempengaruhi tingkat hunian hotel,” imbuh Sahmal.

Sementara terkait kebijakan bagasi berbayar dan tiket pesawat yang mahal, pengaruhnya tidak hanya di Balikpapan, melainkan di berbagai daerah.

“Sekarang lihat, Jawa – Bali itu juga turun (tingkat huniannya). Kunjungan wisman dan domestik mulai jeblok. Dampaknya sudah terasa. Kami nggak tahu pasti (jumlah penurunan wisman) karena nggak punya datanya, tapi pemerintah punya (data)”.

Belum bangkit dari serangan bertubi-tubi akibat guncangan ekonomi, mendadak pemerintah meresmikan Bandara APT Pranoto. “Lengkap sudah. Adanya bandara di Samarinda itu berpengaruh langsung. Bahkan bandara di sini juga kena dampak. Pendapatan parkirnya turun kan?”.

Dia meyakini, kondisi ini sudah diketahui oleh pemerintah. Karena itu, PHRI Balikpapan berharap pemerintah daerah segera melakukan terobosan.

“Kita terlalu lama dininabobokan sektor tambang. Jadi kurang memikirkan destinasi wisatanya. Baru sekarang destinasinya digarap,” kata dia.

Sahmal berharap, pemerintah memperhatikan tim kajian dari Surabaya yang menyatakan Balikpapan tidak layak investasi hotel sampai 2023. (K/fey/dah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button