Ekonomi

IHSG Terjun Bebas

Jakarta, DiswayKaltim.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (17/7/2019) dibuka turun 0,10 persen atau 6,42 poin di level 6.395,46 pada perdagangan pagi tadi.

Pada akhir perdagangan Selasa (16/7/2019) IHSG ditutup terkoreksi tipis sebesar 0,25 persen ke level 6.401.

IHSG diprediksi kian melemah menyusul “langit mendung” yang masih menyelimuti pasar saham di Amerika Serikat (AS) dan Asia serta terbatasnya katalis positif dari perekonomian domestik.

Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah dalam risetnya di Jakarta, Rabu, mengatakan minimnya kabar baik dari perekonomian global yang bisa menggugah pelaku pasar dan perkembangan di pasar saham AS yang pada Selasa (16/7/2019) terkoreksi. Melemahnya bursa-bursa di Asia mendorong koreksi kian dalam untuk IHSG hari ini.

Dari perekonomian global, kisruh di AS yang bermula dari retorika Presiden Donald Trump mengenai status anggota Kongres dan juga dinamika perkembangan kebijakan dari Komite Jasa Keuangan Parlemen AS terhadap mata uang kripto Libra yang diterbitkan Facebook, bisa membuat investor semakin menunggu atau wait and see.

“Pertimbangan dari sentimen tersebut terbilang sangat terbatas dalam hal katalis positif bagi pasar, serta faktor pasar global terutama pasar saham AS terkoreksi pada Selasa meski terbatas, serta perkiraan pasar Asia yang melemah hari ini akan mendorong IHSG berpotensi koreksi,” kata Alfiansyah.

Adapun IHSG Bursa Efek Indonesia pada Rabu pukul 09.00 dibuka turun 0,10 persen atau 6,42 poin di level 6.395,46, melanjutkan pelemahan pada Selasa (16/7/2019) yang terkoreksi tipis sebesar 0,25 persen ke level 6.401.

Dari perekonomian domestik, pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa kapasitas maksimal pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka pendek hanya berada di rentang 5,0-5,5 persen, juga menjadi perhatian investor.

Untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang agresif, yakni di atas enam persen per tahun. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu hanya berada di di kisaran lima persen.

Selain itu, jika merujuk kalender Bank Indonesia (BI), pejabat bank sentral akan menggelar rapat kebijakan moneter pada 17-18 Juli 2019. Dengan demikian, BI baru akan mengumumkan kebijakan terbarunya terkait suku bunga acuan pada Kamis (18/7/2019).

Sikap BI ditunggu-tunggu investor, setelah sinyalemen dari Federal Reserve (Fed) semakin kuat untuk memangkas suku bunga acuannya pada sisa tahun ini.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memperkirakan BI  akan memangkas suku bunga acuan menjadi 5,75 persen dari enam persen karena sinyalemen kuat bahwa The Fed akan “dovish” (melunak), serta meredanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

“Hal itu karena ekspektasi posisi (stance) kebijakan moneter yang longgar dari bank sentral negara-negara maju, salah satunya The Fed yang diperkirakan akan mulai menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25-50 basis poin pada tahun ini, sejalan dengan perlambatan ekonomi AS yang terindikasi dari proyeksi inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan awal,” kata Josua. (ant/indopos/dah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button