Ekonomi

Masih Sedikit Pengusaha yang Daftarkan Produk

banner diskominfo kaltim

Ari Juliano (dua kanan) dan Muhammad Noer (tengah) saat sosialisasi. (Fey-Diswaykaltim.com)

Gencar Sosialisasi, Tahun Depan Daftar Bisa melalui Online

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Minimnya kesadaran pelaku industri kreatif mendaftarkan hak kekayaan intelektual (HKI), mendorong Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) gencar melakukan sosialisasi.

Baca Juga

Tidak hanya itu, Bekraf juga memfasilitasi pendaftaran HKI. Seperti yang dilakukan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (11/7/2019).

Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual Regulasi Bekraf, Ari Juliano Gema mengungkapkan, presentase kepemilikan pada survei yang dilakukan pada 2016 baru mencapai 11 persen. Sedangkan jumlah pelaku usaha kreatif nasional diperkirakan mencapai 8,2 juta unit.

“Dengan kegiatan ini, kami berharap bisa menigkatkan persentase kepemilikan HKI menjadi 19 persen sampai akhir tahun ini,” katanya.

Pemerintah menilai jumlah pelaku usaha industri kreatif yang mendaftarkan HKI masih sangat kecil. Karenanya, Bekraf gencar melakukan sosialisasi sekaligus memfasilitasi pendaftaran HKI.

Dengan sosialisasi, pemerintah berharap semakin banyak pelaku usaha sadar akan hak cipta. Sementara melalui fasilitasi pendaftaran HKI, Bekraf dapat membantu meringankan biaya yang harus dikeluarkan pelaku usaha industri kreatif.

Secara keseluruhan, Bekraf mencatat jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah  (UMKM) sebanyak 17 juta usaha. Dari angka itu, baru 5.671 yang mendaftarkan HKI untuk produk. Selama tiga tahun terakhir, kegiatan ini sudah dilakukan di 80 kota dari 34 povinsi. “Semua provinsi didatangi dengan harapan persentase kepemilikan meningkat.”

Sayangnya, seperti diungkapkan Ari Juliano, Bekraf tak punya data pasti berapa jumlah pelaku industri kreatif di Kalimantan Timur yang memiliki HKI. “Kami belum dapat data. Tetapi angkanya masih kecil sepertinya. Kisarannya antara 11-20 pesen dari rata-rata pelaku ekonomi kreatif,” ungkap Ari Juliano.

Minimnya pendaftar HKI di daerah oleh dua sebab. Pertama, karena ketidaktahuan, dan kedua karena akses. “Memang kendala yang pertama itu awareness. Karena ketidaktahuan. Bayangkan, Ruben Onsu, yang kaya raya saja terhambat mendaftar (merk-nya) karena sudah dipakai orang. Apalagi yang jauh dari Jakarta,” imbuh Ari.

Sementara untuk memangkas akses, mulai tahun depan Dirjen HKI akan membuat sistem online. Sehingga semua pelaku usaha dapat mendaftar secara online. “Tahun depan sudah optimalkan. Saat ini, sistem tersebut baru bisa diakses Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Ham, serta konsultan HKI.” urainya.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button